Yon dan Koes Plus Menyanyikan Isi Hati Kita - Seleb - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Seleb
  • Pilihan
  • Yon dan Koes Plus Menyanyikan Isi Hati Kita

    Dibaca : 2.081 kali

     

    Rupanya, hanya kematian yang menghentikan Yon Koeswoyo bernyanyi. Sakit yang dideritanya bertahun-tahun pun tak mampu menghentikan semangat Yon untuk mengumandangkan lagu-lagu Koes Plus. Usia lanjutpun tak mampu menghalangi. Di tengah kehidupan generasi Now yang diwarnai nyanyian Payung Teduh dan Tompi, lagu Koes Plus masih kerap terdengar.

    Keluarga Koeswoyo punya putera yang menjadikan musik sebagai tempat hidupnya. Tonny, Nomo, Yon, dan Yok membentuk Koes Bersaudara pada tahun 1960an. Album pertama mereka terbit pada 1962 dengan lagu yang langsung ngehits: Dara Manisku, yang disusul Bis Sekolah (1964). Ketika Nomo cabut dari grup ini (1969), masuklah Mury dan lahirlah Koes Plus—nama grup ini berkibar sejak ketika siaran TVRI masih terbatas. Popularitas mereka dibangun pula melalui siara radio yang menjadi sarana masyarakat luas untuk menimati musik.

    Pilihan musik mereka sempat membawa empat bersaudara itu ke dalam penjara pada era pemerintahan Bung Karno yang tidak menyukai musik ‘ngak ngik ngok’ bergaya ‘rock n roll’. Pengalaman dibui, yang diabadikan dalam lagu Di Dalam Bui dan Balada Kamar 15, tidak menghentikan langkah kreatif Koes Bersaudara. Setelah menggandeng Murry, kreativitas Tonny dan adik-adiknya kian berkibar. Pukulan drum Murry memberi warna baru pada Koes Plus.

    Produktivitas musikal mereka kemudian menguar ke banyak genre. Mereka menciptakan lagu-lagu pop Jawa, pop Melayu, pop keroncong, hingga pop anak. Demikian kreatif, hingga mereka memberi nomor urut pada lagu berjudul Nusantara—dari Nusantara 1 sampai Nusantara 8. Masing-masing lagu yang berlirik tentang Nusantara ini muncul dalam album yang terbit sejak 1971 sampai 1978.

    Lagu-lagu Koes Plus banyak digemari, tapi saya lebih menikmati lagu-lagu mereka yang dirilis pada awal 1970an, seperti Andai Kau Datang, Bunga di Tepi Jalan, dan Kelelawar. Banyak lagu Koes Plus yang tanpa sengaja terpateri ke ingatan saya lantaran sering diputar di radio sepanjang saya berjalan kaki ke sekolah maupun pulang ke rumah, seperti Kolam Susu. Namun, banyak pula karya Koes Plus (dan Koes Bersaudara) yang memang matang karena ditulis dari hati. Mereka bermusik dan bernyanyi dengan sepenuh hati--lihatlah bagaimana Yon di usia sepuh masih bernyanyi penuh energi dan penghayatan.

    Meskipun Tonny, Yok, maupun Murry menyanyi, tapi Yon-lah yang paling banyak menyanyikan lagu-lagu Koes Plus. Yon terus menyanyikannya hingga ia tidak lagi mampu—kematianlah yang menghentikan Yon untuk bernyanyi. Di tengah sakit yang mendekapnya bertahun-tahun, semangat Yon tidak pernah padam hingga usia 77 tahun. Energi Yon bersaudara memang luar biasa--di usia tuanya, Yon mengaku masih sanggup menyanyikan 25 lagu dalam sekali manggung.

    Yon akhirnya berpulang, tapi senandungnya akan tetap terdengar, sebab penggemar Koes Plus ternyata memang melintasi zaman, bukan hanya dari generasi Old yang mungkin bernostalgia dengan lagu masa kecil atau remaja mereka, tapi juga dari generasi Now yang berkenalan dengan Koes Plus melalui aransemen baru lagu-lagu grup musik ini.

    Penggemarnya tidak pernah bosan mendengar lagu-lagu Koes Plus, meski sudah puluhan tahun diputar. Kreativitas mereka, yang mungkin diturunkan lewat gen tapi diasah dan digembleng melalui kerja keras, latihan, dan tampil di muka publik, terbayar oleh banyaknya penggemar lintas zaman. Semua ini, saya rasa, karena selama berpuluh tahun Yon dan Koes Plus (Bersaudara) telah menyanyikan isi hati kita. (Foto: Yon Koeswoyo/tempo.co) **


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.