Wells Bertemu Jack the Ripper di Era Medsos - Seleb - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Seleb
  • Berita Utama
  • Wells Bertemu Jack the Ripper di Era Medsos

    Dibaca : 2.135 kali

     

    Sebuah mesin waktu yang sedang dalam taraf sentuhan akhir Herbert George Wells menjadi penyelamat Jack the Ripper (Jack Sang Pencabik) dari kejaran polisi London yang mencari pembunuh seorang pekerja seks komersial. Di rumah Wells, Scotland Yard menemukan sebilah pisau berdarah di dalam tas praktek Dokter John Stevenson, salah seorang teman Wells. Tapi polisi tidak menemukan dokter bedah itu. Di bengkel kerja Wells, Stevenson melihat peluang lolos dari kerjaran Scotland Yard dengan memakai mesin waktu.

    Sempat terkejut mengetahui mesin waktunya berfungsi, Wells pun masuk ke dalamnya dan terlontar dari tahun 1893 ke New York tahun 2017—kota dan tahun yang sama, yang mempertemukan kembali Wells dan Stevenson. Kedua teman dengan karakter kontras ini kaget menjumpai dunia yang sama sekali berbeda: orang-orang bermain gawai, menerbangkan drone, dan bebas berpakaian.

    Di abad 21, Stevenson senang sebab ia merasa menemukan dunia yang cocok dengan dirinya—penuh pertikaian dan peperangan, siapapun dapat memiliki senjata mematikan. “Duniaku di sini. Lihat, dibanding mereka, dalam hal kekerasan, saya terlihat amatir,” kata Stevenson ketika Wells mengajaknya pulang ke abad 19. Sebaliknya, Wells menangis sebab dunia masa depan yang ia jumpai tidak seindah yang ia bayangkan, walau ia bahagia sebab relasi antar ras sudah lebih baik dibandingkan zamannya.

    Dari segi ide, film serial televisi yang baru bisa saya tonton ini terkesan menjanjikan lantaran memadukan dua figur yang mewakili dua dunia: Jack the Ripper dan HG Wells. Dalam film-film yang pernah dibuat, Jack the Ripper kerap ditampilkan misterius, tapi dalam Time After Time ini, sosok pembunuh ini diperlihatkan sangat jelas sejak awal—dia dokter bedah bernama John Stevenson. Sedangkan Wells, siapa yang tidak mengenal dia jika memang penggemar kisah-kisah fiksi sains, salah satu karya mashurnya adalah The Time Machine.

    Namun begitulah, ketika kita berbicara tentang mesin waktu, kita menjumpai spekulasi tentang hal-hal yang sejak lama telah menghantui pikiran manusia: bisakah kita mencegah suatu peristiwa agar ‘batal’ terjadi? Artinya, kita membatalkan skenario yang sudah berjalan dengan mundur ke masa lampau dan mengubah jalannya sejarah, sehingga peristiwa terjadi sesuai dengan keinginan kita.

    Di Time After Time, pertanyaan spekulatif-filosofis tersebut (bahkan juga dari sudut fisika tentang waktu) tidak terhindarkan. Di episode pertama yang sudah diputar, belum dapat dipastikan apakah Wells akan berhasil menyelamatkan Jane Walker—asisten kurator museum yang mengawasi pameran mesin waktu Wells (pada 2017)—dari tangan berdarah Stevenson. Jane disandera oleh Stevenson untuk dipertukarkan dengan kunci mesin waktu Wells agar ia bebas berkelana antar waktu dan melampiaskan hasrat membunuhnya.

    Film serial televisi ini dikreasi oleh Kevin Williamson dengan mengacu pada novel karya Karl Alexander dengan judul yang sama dan terbit pada 1979. Novel ini pernah diangkat ke layar lebar dengan bintang utama Malcolm McDowell. Mempertemukan Jack the Ripper dengan HG Wells dan mesin waktu merupakan gagasan Alexander yang membuat saya tertarik untuk mencari novel ini, apa lagi dalam hidup yang sebenarnya Wells hanyalah penulis fiksi sains, salah satunya The Time Machine, dan tidak pernah membuat mesin waktu.

    Alexander memang bebas berimajinasi yang membuat penonton, termasuk saya, ingin tahu bagaimana nasib Jack the Ripper di dua abad yang berbeda. Apakah pembunuhan berantai yang ia lakukan di London berhenti karena ia melarikan diri ke abad 21? Apakah kematiannya akan terjadi di abad medsos ini—zaman di mana ia merasa hanya seorang amatir? Apakah Wells berhasil menangkap dokter bedah itu dan membawanya kembali ke abad 19? Masih perlu beberapa minggu lagi untuk menemukan jawabannya. (Foto: HG Wells dan Jack the Ripper dalam Time After Time) **


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Admin

    2 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 625 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).