SBY Sang Penyabar - Analisa - www.indonesiana.id
x

Nizwar Syafaat

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 16 Mei 2018 06:05 WIB

SBY Sang Penyabar

Dibaca : 904 kali

Nasehat Luqman kepada anaknya: “Wahai anakku ……………………. Bersabarlah terhadap apa yang menimpamu…………(17). Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong)  dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh.  Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri (18).  Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu.  Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai (19)” (QS: surat 31, ayat 18 dan 19).  Al-quran adalah pegangan hidup umat muslim dalam menjalani kehidupan di dunia ini.  Luqman menasehati ananknya: “bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, janganlah kamu sombong dan membanggakan diri”.  Memang kita tidak boleh sombong karena semua: “ Innalillahiwainnailaihirojiun”.

Dalam 'Workshop Nasional Anggota DPRD PPP' di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, Selasa (15/5/2018), Jokowi berbicara (detik.com) soal BBM 1 harga. Jokowi menyinggung harga BBM di wilayah timur Indonesia 3,5 tahun lalu.

"Saya minta BBM 1 harga, terutama di Indonesia bagian timur. 3,5 tahun lalu saya ke Wamena, saya ke kampung, desa, saya tanya, 'Pak, di sini harga bensin berapa?' Di Wamena saat itu Rp 60 ribu per liter. Itu pas normal. Kalau cuaca nggak baik, bisa Rp 100 ribu per liter," kata Jokowi.

Saat itu Jokowi mengaku memerintahkan menteri terkait agar harga BBM disamakan dengan daerah-daerah lain. Singkat cerita, itu berhasil.

"Dulu subsidi Rp 340 triliun, kenapa harga nggak bisa sama? Ada apa? Kenapa nggak ditanyakan? Sekarang subsidi sudah nggak ada untuk di BBM, tapi harga bisa disamakan dengan di sini. Ini yang harus ditanyakan. Tanyanya ke saya, saya jawab nanti. Ini yang harus juga disampaikan ke masyarakat," sambung Jokowi.

Pernyataan Jokowi tersebut mendapat respon dari SBY "Pak Jokowi intinya mengkritik & menyalahkan kebijakan subsidi utk rakyat & kebijakan harga BBM, yg berlaku di era pemerintahan saya. *SBY*," cuit SBY lewat Twitter @SBYudhoyono. Ada empat tweet lain yang disampaikan SBY. Salah satunya meminta pendukungnya bersabar.

"Saya mengikuti percakapan publik, termasuk di media sosial, menyusul pernyataan Presiden Jokowi yg salahkan kebijakan SBY 5 th lalu. Pak Jokowi intinya mengkritik & menyalahkan kebijakan subsidi utk rakyat & kebijakan harga BBM, yg berlaku di era pemerintahan saya. *SBY* *SBY* Saya minta para mantan Menteri & pejabat pemerintah di era SBY, para kader Demokrat & konstituen saya, TETAP SABAR. *SBY*," kata SBY di tiga cuitan pertamanya

"Justru kita harus bersatu padu. Juga makin rukun. Jangan malah cekcok & beri contoh yg tak baik kepada rakyat. Malu kita. *SBY*. Tentu saya bisa jelaskan. Tapi tak perlu & tak baik di mata rakyat. Apalagi saat ini kita tengah menghadapi masalah keamanan, politik, & ekonomi. *SBY*," sambungnya.

 

 

Apa yang dikatakan Jokowi (JKW) tersebut, jelas menyinggung dan menyakiti hati SBY.  “Allah tidak suka kepada hamba yang menyakiti hati hambaKU”.  SBY mencoba bersabar dan menahan amarahnya,  “Allah selalu bersama orang-orang yang sabar”.  Untuk menghindari kegaduhan yang lebih luas, sebaiknya SBY tidak perlu melayani kritikan JKW.

Namun tanpa mengurangi rasa hormat kepada keduanya, saya mencoba memberikan sebagian data obyektif  tentang kinerja ekonomi JKW vs SBY sebagai renungan rakyat semuanya.

Presiden JKW memang berhasil membuat BBM satu harga seluruh pelosok negeri, tetapi JKW belum mampu mencukupkan kebutuhan dasar makan bagi penduduk satu harga.  Buktinya masih terjadi kelaparan dan gizi buruk Balita di Asmat dan di pelosok dan dipelosok negeri ini.  Padahal sudah ratusan trilliun dana APBN pengentasan kemiskinan dan sosial untuk itu.  Tahun 2018 anggaran ABBN untuk pengentasan kemiskinan dan sosial termasuk dana desa mendekati Rp 284 trilliun.  Perlu dicacat subsidi BBM era SBY lebih besar sekitar 2 kali daripada era Jokowi, tapi harga minyak era Jokowi sekitar  ½ dari era SBY.

Hasilnya justru sebaliknya. Data BPS menunjukkan bahwa ketimpangan ekonomi antara Jawa vs luar Jawa justu makin timpang era Jokowi dan kondisinya lebih buruk dibanding tahun 2007.  Kontribusi Jawa terhadap PDB nasional oleh SBY mampu diturunkan dari 58.20% pada tahun 2007 menjadi 57.99 pada tahun 2013. Justru pada tahun 2017 naik lagi menjadi 58.49%, dan Triwulan I-2018 naik lagi menjadi 58.67%.

Selama tiga tahun pemerintahan Jokowi, nilai indek gini mengalami penurunan tapi tidak signikan dari 0.408 menjadi 0.393.  Data lain menunjukkan bahwa selama periode yang sama telah terjadi peningkatan kekayaan secara signifikan  40 orang terkaya di Indonesia meningkat dari Rp 1.127 trilliun (US$ 86.760) menjadi Rp 1.616 trilliun (US$ 119.720) atau meningkat Rp 163 Trilliun per tahun.  Berdasarkan dua fakta tersebut, dapat disimpulkan bahwa kebijakan ekonomi selama tiga tahun pemerintahan Jokowi menghasilkan ketimpangan yang stagnan.  Para konglomerat makin gendut.

Defisit anggaran menjadi andalan pemerintahan JKW untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.JKW adalah satu satunya presiden setelah era reformasi yang menciptakan utang untuk meningkatkan pengeluaran APBN-nya.  Dua tahun terakhir pemerintahan SBY melakukan hal yang sama tapi rata-rata keseimbangan primer selama 10 tahun masih positif Rp 0.7 Trilliun. 

Selama periode pemerintahan SBY, yaitu 2005 sd 2014, defisit anggaran berkisar 0.1 sd 2.2% PDB (Produk Domestik Bruto) dengan  rata-rata 1.2% PDB, sedangkan selama tiga tahun pemerintahan Jokowi yaitu 2015 – 2017 meningkat berkisar 2.5 sd 2.6% PDB dengan rata-rata 2.57 % PDB.  Selanjutnya pertumbuhan selama  periode pemerintahn SBY berkisar 4.70 sd 6.38 % dengan rata-rata 5.74% dan selama tiga tahun pemerintahan JKW berkisar 4.88 sd 5.07 % dengan rata-rata 4.98%. 

Selama periode pemerintahan SBY kemampuan utang untuk menciptakan pertumbuhan PDB berkisar 2.83 sd 5.91% dengan rata-rata 4.50%, sedangkan selama tiga tahun pemerintahan JKW berkisar 2.28 sd 2.50% dengan rata-rata 2.42%. 

Fakta tersebut menunjukkan bahwa efsiensi utang pada pemerintahan SBY hampir 2 kali lipat dibanding pemerintahan JkW.  Defisit anggaran pada tahun 2018 turun menjadi 2.19% PDB dibanding tahun sebelumnya, tapi ekonomi tumbuh lebih tinggi menjadi 5.06%.  Fakta ini mengkonfirmasi bahwa makin tinggi defisit makin rendah efisiensinya. Pemerintahan JKW sesungguhnya tidak efisien memanfaatkan utang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, dan terjadi in-efisiensi ratusan trilliun APBN-defisit.

Saya menyarankan kepada Presiden JKW agar tidak membandingkan sesuatunya dengan pemerintahan sebelumnya kalau itu membuat hati Presiden sebelumnya tersakiti.  JKW sendiri bilang agar para ulama memberikan ceramah yang menyejukkan.  Allah membenci perbuatan hambanya seperti itu.  Biarlah rakyat yang menilainya, karena semua itu:  “ Innalillahiwainnailaihirojiun”.  Ucapkanlah Masya Allah dan alhamdulillah setiap keberhasilan dan ucapkanlah subhanallah dan astagfirullah sesuatu yang tidak sesuai dengan hati kita seperti terjadinya teror BOM di Surabaya.  Tidak ada yang salah, jangan saling menyalahkan, semuanya adalah kehendak yang Maha Kuasa.

 

Nizwar Syafaat, Ekonom danPengamat Kebijakan Publik.

  • Jokowi
  • sby
  • BBM 1 harga
  • in-efisiensi APBN defisit
  • Ketimpangan Ekonomi

Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.