Puasa di Antara Historisitas dan Ritualitas - Analisa - www.indonesiana.id
x

SYAHIRUL ALIM

Menulis, Mengajar dan Mengaji
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Puasa di Antara Historisitas dan Ritualitas

    Dibaca : 763 kali

    Bagi umat muslim, puasa yang diwajibkan setiap bulan Ramadan tidak sekadar sebuah ritualitas ibadah yang dimaknai dengan menahan diri dari aktivitas makan, minum di siang hari, berbicara yang tidak perlu, atau aktivitas lainnya yang dapat merusak nilai puasa itu sendiri. Secara keseluruhan, puasa justru upaya sungguh-sungguh (jihad) dalam hal mengendalikan bahkan memerangi hawa nafsu. Selain di bulan Ramadan, hampir setiap manusia tanpa sadar menjadi budak, bertekuk lutut dan menghambakan diri kepada hawa nafsunya sendiri. Itulah kenapa, secara historis, aktivitas puasa justru adalah tradisi “menahan diri” yang hadir dalam sepanjang realitas sejarah kemanusiaan, dibawa dan diperkenalkan para nabi kepada umatnya, bertujuan mengekang dan mengendalikan segala hasrat keinginan yang berasal dari nafsunya sendiri.

    Mengekang kebebasan diri dan keinginan seseorang melalui puasa, memang hanya mampu dipahami dan diaktualisasikan oleh mereka yang beriman (the community of believers). Oleh karena itu, ayat al-Quran dalam konteks berpuasa, menyeru kepada hanya orang-orang beriman. Iman merupakan hiasan yang ditanamkan Tuhan kepada setiap manusia, sehingga muncul dorongan dalam dirinya, menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Keimanan adalah wujud rasa cinta (hubb) terhadap Allah, sehingga ketaatan dirinya semata-mata karena kecintaan kepada-Nya bukan karena adanya dorongan lain.

    Dalam ayat 183 surat al-Baqarah disebutkan bahwa kewajiban berpuasa bagi orang-orang beriman merupakan rangkaian historis yang juga diwajibkan kepada umat-umat sebelumnya, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

    Ayat diatas belum terkait dengan puasa Ramadan, tetapi sebatas informasi yang menjelaskan bahwa  kewajiban berpuasa erat kaitannya dengan tradisi masa lalu. Puasa secara historis, kemungkinan merujuk pada suatu upaya “menahan diri dari segala aktivitas apapun dengan cara lebih banyak diam”, tidak sekadar menahan diri dari makan dan minum. Puasa yang disyariatkan, kemudian mengatur secara khusus soal tata cara pelaksanaannya. Dalam terminologi syariat, puasa harus didahului niat, kemudian mengkhususkan menahan diri dari makan, minum, atau berhubungan suami-istri yang waktunya dimulai sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.

    Menahan diri dari makan dan minum dalam waktu tertentu kenyataannya sangat efektif dalam mencegah hal-hal buruk yang muncul secara spontan dari dorongan nafsu kemanusiaan. Tuhan tak akan menyuruh manusia berpuasa dari makan dan minum, jika setiap orang mampu menahan dirinya dari berkata buruk, berbuat atau melakukan hal-hal yang merugikan atau merusak. Hal inilah yang dimaksud oleh ungkapan Nabi Muhammad, “Siapa yang tidak mampu mencegah dari perkataan, perbuatan, atau sikap yang buruk, maka Allah tidak perlu lagi (memerintahkan) agar setiap orang menahan diri mereka dari makan dan minum”. (HR Bukhari)

    Puasa memang selalu terkait dengan peristiwa historis, baik itu tradisi keagamaan maupun peristiwa luar biasa yang kemudian dikukuhkan dan diperingati melalui serangkaian aktivitas puasa. Sebelum syariat berpuasa di bulan Ramadan ditetapkan, umat Islam berpuasa mengikuti kebiasaan dan ajaran agama terdahulu. Puasa pada bulan Muharram (‘Aa-Syuraa’), misalnya menjadi tradisi kaum Quraisy dan juga kalangan Yahudi sebagai bentuk “peringatan” atas selamatnya Bani Israil dari kezaliman Fir’aun. Selain itu, kewajiban berpuasa selama tiga hari disetiap pertengahan bulan, juga menjadi tradisi puasa di awal-awal perkembangan Islam.

    Kewajiban berpuasa sebelum ditetapkannya bulan Ramadan, awalnya sekadar “pilihan”, dimana bagi mereka yang tidak melakukannya (karena memberatkan atau hal lainnya) dapat menggantinya  dengan membayar sedekah kepada fakir miskin (fidyah) atau berbuat baik, yang disesuaikan dengan jumlah hari puasa yang ditinggalkan. Hal ini sebagaimana disebut dalam surat al-Baqarah ayat 184: “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya”.

    Kewajiban puasa masa lalu sekadar dilakukan secara “sukarela” dengan memilih antara berpuasa atau bersedekah, kemudian “dihapus” (mansukh) dengan turunnya kewajiban berpuasa pada bulan Ramadan. Lagi-lagi, sisi historis puasa Ramadan, erat kaitannya dengan peringatan sebuah peristiwa besar dan luar biasa, karena bulan Ramadan merupakan bulan dimana diturunkannya al-Quran dan juga kitab-kitab suci lainnya. Sebuah peristiwa penting dalam tradisi Islam, selalu diperingati dengan cara berpuasa. Maka tak heran, ketika Nabi Muhammad ditanya tentang dirinya yang senantiasa berpuasa pada hari Senin dan Kamis, ia menyebutkan bahwa Senin merupakan hari dimana dirinya lahir dan Kamis merupakan hari dimana seluruh catatan amal manusia diserahkan kepada Allah.

    Perintah melaksanakan puasa wajib di bulan Ramadan, sekaligus menghapus tradisi puasa yang diwajibkan sebelumnya. Bahkan dalam sebuah riwayat disebutkan, syariat puasa sudah ada sejak zaman Nabi Nuh, hingga kemudian diwajibkannya seluruh orang beriman untuk berpuasa selama sebulan penuh di bulan Ramadan. Dalam al-Quran disebut secara jelas: “Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”.

    Para ahli bahasa, ketika menjelaskan makna “syahrun” (bulan) secara garis besar bermuara pada dua pendapat. Pertama, bulan merupakan istilah yang menunjukkan pada jenis waktu yang diawali dengan perwujudan hilal secara jelas atau hal yang membuatnya tersembunyi atau tidak terlihat. Umumnya, bulan yang telah diketahui waktunya dipergunakan sebagai “penanda” untuk memulai suatu perniagaan (muamalah) atau untuk satu kebutuhan lainnya. Kedua, yang dimaksud adalah bulan itu sendiri, berdiri sendiri. Itulah kemudian kenapa bahwa puasa Ramadan wajib “ditandai” oleh hadirnya “hilal” yang ditetapkan kemudian sebagai waktu dimulainya berpuasa sebagaimana persaksian seseorang yang jujur, adil, muqim (penduduk setempat), dan persyaratan lainnya.

    Namun demikian, perbedaan soal persaksian hadirnya hilal, terkadang terdapat perbedaan pendapat diantara para ulama, walaupun melihat hilal secara jelas dalam konteks penentuan awal bulan merupakan pendapat yang paling kuat dan dijalankan oleh kebanyakan para ulama. Berpuasalah ketika hilal disaksikan sebagai “penanda” masuknya bulan baru dan akhiri aktivitas berpuasa ketika hilal sudah mulai tidak tampak karena akan dimulainya masuk awal bulan baru.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.








    Oleh: Salsabila Zulfani

    1 hari lalu

    Covid-19, Membuat Tugas Auditor Menjadi Sulit?

    Dibaca : 118 kali

    Covid 19 adalah virus yang menyerang sisem pernapasan. Virus corona dapat menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru berat hingga kematian. Pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Virus ini menular dengan cepat dan telah menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Hampir setiap hari ribuan bahkan ratusan korban infeksi virus corona meregang nyawa. Perekonomian negara terganggu bahkan banyak perusahaan yang harus mengurangi pegawai supaya tidak bangkrut. Dampak Covid 19 ini memang cukup banyak bagi negara terdampak. Lalu bagaimana dengan negara Indonesia?. Indonesia sudah berusaha sedemikian rupa untuk mencegah penularan virus Covid 19 ini,hingga pemerintah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB ). Bekerja dan belajar dari rumah, hal ini mungkin tidak terlalu sulit sebab teknologi yang semakin canggih di masa sekarang ini. Lalu bagaimana dengan profesi yang harus bekerja turun lapang atau outdoor? Auditor misalnya?. Auditor harus menyambangi perusahaan klien sehingga dapat dengan mudah mengamati sistem pada perusahaan klien. Mengamati bagaimana SOP atau bagan alur setiap kegiatan perusahaan, seperti penjualan, pembelian dan aliran kasnya. Bagaimana auditor harus bekerja dari jarak jauh?. Strategi bagi auditor yang harus bekerja jarak jauh meliputi perencanaan audit, pemeriksaan/pengkajian dokumen, kerja lapangan/melakukan pengamatan, wawancara terhadap pihak yang terkait, dan pertemuan penutupan. Berikut penjelasan singkatnya. Perencanaan Perencanaan audit merupakan hal yang sangat penting di setiap pengauditan. Namun hal ini akan sulit jika pihak klien ada di lokasi yang jauh ataupun sulit terjangkau ( terpencil ). Sementara tahap perencanaan audit ini harus dibahas dengan klien. Informasi yang dapat dibahas dalam tahap ini adalah ruang lingkup perusahaan serta perncanaan jadwal kapan kegiatan audit akan di mulai, tak lupa memberi informasi kepada klien mengenai keterbatasan perihal proses kegiatan audit jarak jauh ini. Serta info apa saja yang akan dibagikan dan dengan tunjangan media atau teknologi apa yang digunakan. Berdasarkan kebutuhan diatas, auditor dapat menghabiskan waktu dua kali lebih banyak guna membahas perencanaan ini. Teknologi yang dapat digunakan dalam hal ini seperti vidio conference dan powerPoint untuk menyampaikan informasi/materi atau dapat menggunakan panduan visual lainnya. Pemeriksaan/Pengkajian Dokumen Pemeriksaan/pengkajian dokumen dari jarak jauh akan memakan waktu cukup banyak serta tak luput dari keterbatasan. Dalam hal ini auditor harus mampu menerima dokumen dalam bentuk/format apapun yang paling mudah diperoleh oleh klien sehingga dapat meminimalisir beban yang ada. Pertimbangan terkait aksesibilitas sistem file digital yang digunakan klien untuk menyimpan rekaman catatan tersebut harus diberikan. Pertimbangan strategi audit yang baik dan tepat juga harus dipikirkan oleh auditor untuk pemeriksaan ataupun pengkajian dokumen, pengambilan sampel dapat menjadi alternatif terbaik. Tergantung pada jumlah rekaman catatan yang ada. Terlepas apakah auditor memeriksa semua atau sebagian dari data yang tersedia. Tidak seperti pemeriksaan/pengkajian rekaman catatan di lokasi, pemeriksaan/pengkajian dokumen dari jarak jauh biasanya tidak memungkinkan untuk memberikan pertanyaan langsung pada saat yang sama. Auditor harus mencatat ataupun menulis hal-hal yang patut dipertanyakan pada klien saat melakukan proses pemeriksaan/pengkajian dokumen, dan dapat ditanyakan saat wawancara jarak jauh. Kerja Lapangan/Pengamatan Hal ini mungkin akan menjadi hal yang cukup sulit bagi audit jarak jauh, pasalnya hal ini biasanya dilakukan dengan menyambangi perusahaan klien. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan vidio conference ataupun livestreaming. Walaupun tidak terlepas dari kendala-kendala yang ada seperti ketersediaan Wi-Fi, lokasi kerja klien yang berada di tempat terpencil dan kebisingan yang mungkin akan mengganggu proses audit ini. Tidak banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan melakukan observasi jarak jauh. Sebab penayangan vidio hanya pada satu titik dan auditor akan kesulitan untuk melakukan pengamatan. Alternatif lain yang dapat diambil adalah dengan foto digital yang dapat diambil dari smartphone milik klien ataupun milik perusahaan. Hal ini dapat menimalisir kendala jaringan yang tidak memungkinkan melakukan vidio conference. Dari hasil pengamatan, audit dapat membuat catatan dan menyiapkan pertanyaan. Wawancara Terhadap Pihak yang Terkait Dalam hal ini mungkin tidak jauh beda dengan wawancara langsung, hanya perlu media penghubung seperti panggilan vidio ataupun semacamnya misalnya Google Meet, Skype dan Zoom. Auditor perlu melakukan perencanaan wawancara seperti berapa lama waktu yang diperlukan dan kepada siapa saja pihak yang perlu diwawancarai. Misalnya dengan penanggung jawab kegiatan, pemegang keluar dan masuknya kas ( kasir ), bagian gudang, penerimaan barang, dan personil lain yang bertanggung jawab dalam mendukung fokus audit. Persiapan wawancara jarak jauh membutuhkan waktu tambahan bagi auditor, serta auditor harus siap dengan daftar pertanyaan dan hal-hal terkait informasi tambahan apa saja yang dibutuhkan berdasarkan pengamatan yang dilakukan sebelumnya. Keterbatasan wawancara jarak jauh ini juga dapat terjadi ketika personil yang diwawancarai merasa canggung, gugup atau tidak nyaman dengan panggilan vidio oleh sebab itu, pemilihan kata dan penempatan intonasi yang bagus dan tepat akan dapat membuat wawancara menjadi tidak tegang. Pertemuan Penutupan Pertemuan penutupan audit jarak jauh memiliki konsep yang sama dengan pertemuan penutupan secara langsung, mungkin memang memerlukan media penghubung. Penjadwalan penutupan ini harus dipertimbangkan oleh auditor, minimal dua hari setelah melakukan wawancara. Sehingga auditor dapat mengkaji kembali catatannya dan menyusun rancangan awal hasil audit. Pertemuan penutupan ini dimaksudkan untuk mrmpresentasikan rancangan awal hasil audit kepada klien, menyelesaikan pertanyaan/permasalahan serta melakukan pembahasan lebih lanjut untuk hasil final audit, yaitu opini dari auditor. Kesimpulan yang dapat di ambil ialah penggunaan teknologi secara praktis. Inovasi dan transformasi teknologi menjadi fokus bisnis serta progam audit di seluruh dunia. Saat ini adalah saat yang tepat untuk mengkomunikasikan lebih lanjut mengenai proses audit jarak jauh. Terdapat beberapa teknologi berkembang yang dapat menunjang kegiatan tersebut antara lain vidio livestreaming, Virtual Reality ( VR ), pesawat tak berawak ( drone ) dan lainnya. Namun semua teknologi pastilah diperlukan biaya tambahan yang mungkin malah mengakibatkan auditor merugi. Jadi pilihlah teknologi yang sesuai dengan bayaran yang diterima. Proses audit jarak jauh bukanlah satu-satunya solusi yang tepat untuk semua masalah. Hal ini bukan pula sebagai pengganti pelaksanaan audit secara langsung. Namun sebagai bagian dari alternatif yang dapat dilakukan di masa pandemi ini.