Muasal Nama "Kopi" - Travel - www.indonesiana.id
x

Fahmi Faqih

Fahmi Faqih, dilahirkan di Banjarmasin pada 26 November. Menulis puisi, esei, dan catatan reportase. Saat ini ikut membantu merintis sureplus.id, sebuah media online yang berbasis di Surabaya.
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Travel
  • Berita Utama
  • Muasal Nama "Kopi"

    Dibaca : 4.287 kali

    Pembicaraan ilmiah mengenai asal-usul kata “kopi” baru dibicarakan secara serius pada Symposium on The Etymology of The Word Coffee di tahun 1990. Para ahli sejarah yang berpendapat bahwa kata “kopi” diadaptasi dari bahasa Arab, “qahwa”, dibantah oleh sebagian lainnya. Mereka yang menolak, mengatakan, kata “kopi” tidak diambil dari istilah Arab, “qahwa”, melainkan dari kata “kaffa”,—nama sebuah kota di daerah Shoa, di Selatan Barat Daya Abyssinia, yang diyakini sebagai tempat pertama ditemukannya tanaman kopi. Akan tetapi bantahan ini tidak dapat diterima karena ternyata di kota itu, kopi dikenal dengan nama lain yaitu “bun”. Catatan-catatan Arab juga menyebut “bun” untuk biji kopi. Hal ini dikuatkan dengan dua risalah medis yang diyakini sebagai sumber tertua yang menyinggung tentang kopi; risalah yang ditulis oleh Al-Imam Fakhruddin Al-Razi (865-925) di abad ke-9, dan Ibnu Sina (980-1037 ) di abad ke-11. Dalam risalah tersebut Al-Razi memasukkan kata “bun” untuk “bunchum”, sebagai zat yang dapat mengobati berbagai penyakit. Adapun Ibnu Sina, menyebut “bunchum” sebagai senyawa aktif yang bermanfaaat meningkatkan stamina, membersihkan kulit, dan menimbulkan bau enak bagi tubuh.

    Dalam kehidupan masyarakat Arab, istilah “qahwa”—yang mengandung makna “quwwa” (kekuatan) itu—hanya diperuntukkan kepada kopi sebagai minuman, bukan kepada yang lain. Kopi awalnya dikonsumsi dengan memakan buah kopi yang telah dilapisi lemak binatang. Bangsa Arablah yang pertama kali menemukan cara pembuatan kopi dengan cara diseduh sebagai minuman seperti kita kenal sekarang.

    Menurut sejarawan William H Ukers dalam magnum opus-nya, All About Coffee (1922), kata “kopi” mulai masuk ke dalam bahasa-bahasa Eropa sekitar tahun 1600-an. Kata tersebut diadaptasi dari bahasa Arab, “qahwa”, melalui lisan Turki, “kahveh”. Dari istilah Arab ini, lahir kata “koffie” dalam bahasa Belanda, “café” dalam bahasa Perancis, “caffè” dalam bahasa Italia, “coffee” dalam bahasa Inggris, “kia-fey” dalam bahasa Cina, “kehi” dalam bahasa Jepang, dan “kawa” dalam bahasa melayu. Khusus untuk kasus Indonesia, besar kemungkinan kata “kopi” diadaptasi dari istilah Arab melalui bahasa Belanda “koffie”. Asumsi logis yang dapat diterima dari kemungkinan ini adalah karena Belanda yang pertama kali membuka perkebunan kopi di Indonesia. Kemungkinan lainnya bisa jadi kata “kopi” diadaptasi langsung dari bahasa Arab atau Turki, mengingat di masa lalu banyak kalangan di Nusantara yang memiliki hubungan dengan bangsa Arab dan Turki, bahkan jauh sebelum kedatangaan orang-orang Eropa. Pada faktanya, hampir semua istilah untuk kopi di berbagai bahasa memiliki kesamaan bunyi dengan istilah Arab.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.








    Oleh: Supartono JW

    Senin, 27 Juli 2020 18:56 WIB

    Kisah Perjalanan (4) 27 Juli, Sehari di La Vallee dan Disneyland-Paris

    Dibaca : 323 kali

    Hari ini, Rabu, 27 Juli 2011 setelah sarapan pagi, sesuai agenda kami akan bertandang ke La Valee Outlet Shooping Village dan lanjut ke Paris-Disneyland. Sebenarnya, masih ingin badan ini rebahan di kamar hotel, namun apa boleh buat, saya harus mengikuti agenda perjalanan wisata yang memang sudah sangat tertata. Jadi, tidak boleh ada waktu yang meleset dari jadwal yang telah ditentukan. Kemarin, setengah hari ada di Brussel-Belgia, dan setengah harinya lagi berada di bus baik dari Amsterdam menuju Brussel, maupun Brussel menuju Paris, memang tidak begitu banyak menguras tenaga, karena semua perjalanan di tempuh pada siang hari. Nyamannya bus yang membawa kami dan pemandangan indah antara Brussel-Paris, menjadikan kami tak merasakan bahwa kami harus menempuh perjalanan selama kurang lebih 4 jam 40 menit. Bahkan, saat bus harus rehat di rest area pun, kami sebenarnya ingin bus tak perlu berhenti, karena semangatnya kami. Malah saat bus masuk ke Paris, kami pun tak menyadari bahwa kini kami sudah ada di negera Prancis. Bila di sebelumnya kami sudah bercengkerama di Istanbul-Turki selama sehari. Lalu, di Sofia, Veliko Tarnovo, dan Razgrad-Bulgaria selama delapan hari. Berikutnya, singgah di Koln, Duseldorf-Jerman sekitar tiga jam, dan di Volendam, Amsterdam-Belanda selama dua malam satu hari. Kemudian, di Brussel-Belgia setengah hari, maka di Paris-Prancis ini, kami menginap selama empat malam dan bercengkerama selama tiga hari penuh.