Edy Rahmayadi yang Penuh Kontroversi - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

Adjat R. Sudradjat

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Olah Raga
  • Berita Utama
  • Edy Rahmayadi yang Penuh Kontroversi

    Dibaca : 2.586 kali

    Ketua umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), Edy Rahmayadi, Selasa (25/9/2018), memutuskan untuk menghentikan kompetisi Liga 1 2018 hingga waktu yang tak ditentukan. Langkah ini diambil sebagai bentuk keprihatinan atas tewasnya anggota The Jak Mania, Haringga Sirla.

    Haringga Sirla meninggal akibat dikeroyok oknum suporter Persib Bandung jelang pertandingan antara Persib vs Persija Jakarta di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Kota Bandung, Minggu (23/9/2018).

    Hanya dalam tempo dua hari setelah peristiwa tewasnya anggota The Jak Mania itu, PSSI dengan gerak cepat mengambil sikap.

    Hanya saja sikap PSSI, dalam hal ini Edy Rahmayadi sebagai pucuk tertinggi pengurus induk organisasi sepak bola di negeri ini, telah menimbulkan polemik berkepanjangan, dan dianggap penuh dengan kontroversi.

    Betapa tidak, misalnya saja dalam kasus tewasnya seorang pendukung klub Persita Tanggerang, Banu Rusman dalam kerusuhan di Cibinong, Rabu (11 Oktober 2017), sampai sekarang ini sikap Edy masih dipertanyakan banyak pihak.

    Banu yang meninggal setelah mengalami pendarahan di otak akibat pukulan benda tumpul oleh suporter berseragam PSMS Medan, dan saksi mata menyebut pembunuh Banu adalah anggota Kostrad, satuan elite TNI yang ketika itu dipimpin Edy Rahmayadi sebagai Pangkostrad.

    Edy Sebagai Ketua PSSI dan Pangkostrad, kala itu ia berjanji untuk "mengusut tuntas" kasus pengeroyokan via cuitan di Twitter pada 13 Oktober 2017. "Saya tegaskan yang bersalah pasti dihukum," katanya.

    Akan tetapi sampai saat ini tak ada seorang pelaku pun yang dihukum. Sanksi cuma diterima PSMS Medan berupa empat laga tanpa penonton, dan denda Rp 30 juta saja.

    Ketika peristiwa tewasnya suporter Persita Tanggerang,  Edy juga menjabat sebagai pemilik dan Ketua Dewan Pembina PSMS, dua jabatan yang masih dipegangnya sampai sekarang. Karena itu pula dugaan oknum anggota  Kostrad yang mendukung PSMS ikut terlibat dalam pengoroyokan itu begitu kuat.

    Bahkan dalam acara talkshow di salah satu stasiun televisi, Rabu malam (26/9/2018), Najwa Shihab sebagai host pun menyinggung kasus tewasnya Banu. Jawaban Edy saat itu terkesan mengelak dari tanggung jawab. "Ini tidak adil. Kejadian begitu banyak, kenapa yang ditanya itu?" protesnya.

    Demikian juga dalam wawancara di stasiun televisi lainnya, ketika Aiman Wicaksono selaku host menanyakan sikap Edy, apakah tidak repot sebagai Ketua Umum PSSI dan sebagai Gubernur Sumatera Utara, yang bersangkutan menolak memberi jawaban. Malahan mimik mukanya tampak berubah geram.

    Edy malah balik melontar pertanyaan kepada Aiman, "Apa urusan Anda mempertanyakan itu? Bukan hak Anda bertanya kepada saya," katanya.

    Selain sebagai Ketua Umum PSSI periode 2016-2020, saat ini Edy pun adalah Gubernur Sumatera Utara yang terpilih pada Pemilukada serentak lalu.

    Adapun jabatan lain yang juga masih diembannya hingga sekarang adalah Pembina klub PSMS Medan.

    Sebagai pembina Klub asal ibu kota Sumatera Utara,  Edy pun walau sudah pensiun dari militer, akan tetapi tampaknya gaya seorang tentara masih melekat pada dirinya. Ditambah pula dengan sikap arogan, dan bicara di depan publik yang terkesan sok punya kuasa bak diktator saja. 

    Jum’at (21/9/2018) malam lalu,beredar video Edy selaku gubernur Sumut, dan Pembina PSMS telah melakukan penamparan terhadap salah seorang pendukung PSMS yang menyalakan flare, saat tim PSMS menjamu Persela Lamongan.

    Bisa jadi karena hal itu juga yang membuat munculnya banyak cemoohan  terhadap yang bersangkutan di media sosial. Seperti misalnya saja warganet pemilik akun @WinardyJoyodin1, menulis cuitan bernada ejekan, pada Selasa, 25 September kemarin.

    "Ketua Pssi(Edy Rahmayadi)Memberi Teguran Kpd Pembina tim Psms Medan(Edy Rahmayadi) Soal Penyalaan Flare yg Dilakukan Oleh Suporter Di Stadion, Serta Akan Berkoordinasi Dgn Gubernur Sumut (Edy Rahmayadi) Agar Kejadian Ini tdk Terulang lagi," kicaunya.

    Hanya saja sepertinya Edy tak bergeming dengan semua itu. Edy terkesan tak menghiraukan tuntutan mundur dari kursi Ketua Umum PSSI. Edy pun seakan tak perduli dengan 22 nyawa suporter sepak bola melayang selama masa kepengurusannya sekalipun ***

     

    Sumber foto: Tempo.co


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Admin

    2 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 624 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).