#SeninCoaching: Negeri Ini Mau Dikemas Seperti Apa? - Analisa - www.indonesiana.id

Mohamad Cholid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 29 Oktober 2018 17:16 WIB

#SeninCoaching: Negeri Ini Mau Dikemas Seperti Apa?

Dibaca : 655 kali

#Leadership Growth: Creating Better Story

 

Mohamad Cholid

Practicing Certified Executive and Leadership Coach

 

Terbang dari Soekarno-Hatta Terminal 3 Ultima, belakangan ini, kita layak bungah. Indonesia terbukti berhasil membangun bandara yang hebat, anggun, seperti negara-negara besar di dunia.

Saat baru mendarat pulang, rasa bangga itu tetap ada. Para petugas imigrasi generasi baru yang cekatan dan ramah, petugas pabean yang juga lebih santun – kendati tetap waspada -- dibandingkan di masa lalu, dapat menambah keyakinan bahwa para petugas kita terbukti bisa meningkatkan profesionalisme sesuai perkembangan zaman.

Hanya saja ketika berjalan di lorong-lorong menuju pengambilan bagasi dan saat menunggu koper muncul di area baggage claim, bisa muncul kegalauan.

Di sepanjang koridor dan di sekitar baggage claim, bangunan yang anggun itu terasa angkuh. Dinding-dinding dan spot-spot yang potensial memikat masih belum banyak bercerita. Ruangan menghadirkan fungsi dengan efektif, tapi belum merangkul dengan ramah manusia-manusia yang beraktivitas di dalamnya.

Kegundahan di wilayah kedatangan Bandara 3 Ultima mungkin karena melihat aset-aset yang belum dioptimalkan. Tampaknya optimalisasi masih pada fungsi kebandaraan, belum menghadirkan kisah-kisah visual yang atraktif. Kita belum menciptakan dinding-dinding dan spot-spot yang bercerita dengan rancak, seperti yang lazim di bandara-bandara internasional zaman sekarang.

Misalnya di Shanghai, atau Hong Kong, dan Singapura, kita akan mendapati dinding-dinding yang bercerita secara visual. Enak dipandang. Masing-masing sibuk menampilkan cerita tentang banyak produk, dari kecantikan sampai teknologi, dengan model-model yang memikat. Ada juga event yang ditawarkan dengan cantik. Bagi mereka, tentu juga sebagian dari kita, dunia itu selain fungsional mestinya juga indah. 

Di bandara-bandara antar bangsa tersebut, para pemasang iklan berupaya keras untuk menyedot ego kita, lalu menegaskan bahwa menjadi konsumen mereka adalah bukti ikut kemajuan zaman. Soal mau atau tidak, itu pilihan kita.

Area kedatangan Ultima 3 belum bercerita optimal. Padahal, di samping produk kelas dunia yang disukai orang Indonesia, banyak produk Indonesia yang juga sudah terbiasa memasuki pasar internasional, dari garmen, kosmetika, sampai teknologi. Kalaupun belum bisa disemarakkan oleh advertensi produk, setujukah Anda jika ruang-ruang kosong itu diisi cerita-cerita prestasi anak bangsa?

Tahukah Anda drone yang mampu terbang sepanjang lebih dari 1.000 kilometer – antara lain dipakai oleh salah satu perusahaan telekomunikasi – dibuat oleh insinyur Indonesia?

Rasanya sudah banyak karya orang Indonesia yang lebih dari sekedar dapat bersanding dengan capaian orang di negara-negara baju, bahkan kompetitif. Banyak juga wilayah wisata yang sangat eksotis untuk divisualkan. Belum lagi atraksi kesenian sejumlah kawasan budaya yang ekpresif dan memukau.

Untuk menghadirkan sederet kisah prestasi tersebut secara optimal di Bandara 3 Ultima, para profesional kita bisa melakukannya. Skill dan teknologi visualisasi -- termasuk kemampuan menampilkan digital video – sudah mereka kuasai.

Kalau faktanya sekarang belum terwujudkan, mudah-mudahan ini bukan indikasi kebiasaan lama – seperti birokrasi yang menyesakkan bagi para pemasok atau ketidakpedulian pada upaya menghadirkan Indonesia yang atraktif  -- yang dipertahankan. Mudah-mudahan bukan pula merupakan salah tafsir sebagian kita bahwa kekuatan hanya bisa ditampilkan lewat keangkuhan struktur bangunan.

Persepsi tersebut, ditambah situasi yang berkembang belakangan ini, memicu pertanyaan mendasar: Sesungguhnya, Indonesia dalam kemasan dan ekspresi seperti apa yang akan kita hadirkan di jagad ini, yang kemudian kita tampilkan di gerbang-gerbang penting kita dalam berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain?

Pertanyaan tersebut juga berlaku bagi para pemimpin organisasi bisnis dan non-bisnis. Sosok organisasi semacam apa yang ingin Anda kembangkan di tengah pergolakan ekonomi yang sudah demikian globalized sekarang?

Rasanya sudah tiba waktunya mempertanyakan kembali, atau melakukan audit, dan revitalisasi core value organisasi yang kita pimpin. Sebagian eksekutif dan leaders kurang nyaman saat diingatkan mengenai values di organisasi mereka. Kata mereka, nilai-nilai organisasi sudah terpampang di dinding ruang rapat dan sudah pula tertulis dalam brosur dan material marketing communications.

Baik. Pertanyaannya, apakah core values tersebut sudah merasuk ke sanubari semua anggota tim, menuntun mereka dalam mengambil keputusan sehari-hari, dalam berinteraksi internal antar karyawan dan eksternal dengan pelanggan, pemasok, serta masyarakat?

Apakah principles dan values tersebut sudah berfungsi efektif dalam upaya mengembangkan budaya organisasi dan untuk memacu performance?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut untuk rekonfirmasi, nilai-nilai organisasi yang sudah digariskan oleh pemegang saham, disepakati direksi dan eksekutif pelaksana, sudah jadi filosofi operasional organisasi atau masih normatif saja.

Organisasi-organisasi yang sukses di level nasional, regional, dan global umumnya konsisten mengetrapkan values dalam operasional sehari-hari. Ini menunjukkan dinding-dinding batin para eksekutif dan leaders di organisasi tersebut sudah diperkaya dengan principles & values, tidak ada ruang kosong lagi.

Satu contoh yang implementasi nilainya sudah mendunia, utamanya di hospitality industry, adalah Ritz Carlton yang menegakkan Respect. Semangat kerja seluruh awak hotel tersebut adalah “Ladies and gentlemen serving ladies and gentlemen.” Konsistensi menerapkan Respect ini telah menjadi driving force keberhasilan jaringan hotel Ritz Carlton.

Budaya organisasi, yang dikembangkan sesuai principles & values, sebagaimana pengakuan para top executive, berperan penting meningkatkan kinerja. “Culture drives great results,” kata Jack Welch, Chairman dan CEO GE  1981 – 2001.

Organizational culture, menurut survei, punya andil 35% untuk operational performance. Ini faktor tunggal terbesar, karena yang 65% merupakan gabungan dari sejumlah upaya dan faktor, termasuk regulasi pemerintah.

Sedangkan budaya organisasi 50 -- 70%-nya dipengaruhi oleh perilaku kepemimpinan para eksekutif dan leaders.

Program leadership growth berbasis Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching (MGSCC) mengutamakan perubahan perilaku kepemimpinan para eksekutif dan leaders, agar menjadi lebih efektif, dari bagus menjadi hebat.

Para eksekutif diharapkan sanggup pula mengisi dinding-dinding batin key persons dan tim, supaya seluruh awak selain berfungsi efektif dalam tugas juga memiliki batin yang colorful sebagai manusia -- lebih dari sebatas pintar. Tim dengan hati yang hidup umumnya lebih engaged dalam upaya transformasi organisasi. Lantas secara bersama-sama menyusun tahap demi tahap masa depan yang lebih baik.

Bukankah Anda perlu membangun legacy, organisasi yang Anda kelola dapat menjadi bagian penting dari Indonesia dalam kemasan lebih baik?

Sepanjang ego kita dapat merdeka dari jebakan masa lalu, sehebat apa pun itu, kita selalu memiliki driving force dan peluang untuk membangun cerita baru.

 

 

Mohamad Cholid  adalah Head Coach di Next Stage Coaching.

n  Certified Executive Coach at Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching

n  Certified Marshall Goldsmith Global Leadership Assessment

Alumnus The International Academy for Leadership, Jerman

(http://id.linkedin.com/in/mohamad-cholid-694b1528)

(http://sccoaching.com/coach/mcholid1)

 

  • Tim Mawar

Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.