#SeninCoaching: Harkat & Martabat Pemimpin - Analisa - www.indonesiana.id
x

Mohamad Cholid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • #SeninCoaching: Harkat & Martabat Pemimpin

    Dibaca : 692 kali

    #Leadership Growth: True Nobility

     

    Mohamad Cholid

     Practicing Certified Executive and Leadership Coach

     “There is nothing noble in being superior to your fellow man; true nobility is being superior to your former self.” – Ernest Hemingway

     

    Yogyakarta memiliki daya pikatnya sendiri. Beda dengan kota-kota lain yang kemudian berkembang karena ekonominya maju dan universitas/perguruan tinggi berdiri pula di kota-kota tersebut, rasanya Yogya yang paling mampu menebarkan pesona khas. Di samping karena pernah jadi ibukota Republik Indonesia di masa perang menegakkan kemerdekaan, di sana banyak cerita menarik.

    Satu diantaranya tentang Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan rakyatnya.

    Pagi-pagi saat jalanan masih berkabut, dalam perjalanan turun ke kota setelah istirahat di Kaliurang, daerah perbukitan di bawah lereng Gunung Merapi, kendaraan Sri Sultan dihentikan oleh seorang nenek yang tampak kepayahan menggendong bakul berisi dagangannya. Sri Sultan turun dan membukakan pintu belakang mobil hard top-nya, membantu mengangkat barang dan memapah si nenek naik. Kelihatannya si nenek mengira yang dinaikinya kendaraan umum.

    Ketika sampai depan Pasar Beringharjo, di tengah kota, si nenek minta diturunkan. Sri Sultan pun membantu menurunkan barang. Pagi itu cerah di kota dan saat itu pula si nenek baru menyadari telah nebeng mobil Sri Sultan, yang bergegas naik lagi ke mobil, menuju Kraton Yogyakarya, jaraknya sekitar dua kilometer dari Pasar Beringharjo. Konon si nenek langsung lemes nyaris pingsan.

    Cerita itu saya dengar saat masih sekolah menengah di Yogya dulu.

    Kharisma Sri Sultan sangat terasa di setiap sudut wilayah DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta), dari pantai selatan Jawa sampai lereng Gunung Merapi – Merbabu. Kepemimpinan Sri Sultan IX dibangun lewat tindakan kongkrit menciptakan manfaat (creating value), satu dua di antaranya, berperan signifikan dalam mendirikan Indonesia, mengikhlaskan sebagian lahan milik Kraton Yogyakarta untuk Universitas Gajah Mada, sampai sejumlah manfaat lain lagi bagi bangsanya.

    Harkat dan martabat kepemimpinan Sri Sultan sebagai salah satu founding father Indonesia dan ketulusan pengabdian beliau untuk bangsanya kemudian dibukukan: Tahta Untuk Rakyat: Celah-celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX. Penyusun buku ini adalah Mohamad Roem, Mochtar Lubis, Lustiniyati Mochtar, S. Maimoen. Disunting oleh Atmakusumah.

    Kepemimpinan yang berorientasi pada kepentingan rakyat tersebut oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X, sebagai pewaris tahta, disampaikannya dengan kalimat lugas: “Buat apa sebuah Tahta dan menjadi Raja apabila tidak memberi manfaat bagi masyarakat.”

    Penegasan ini diucapkan saat Jumenengan Sri Sultan HB X pada 7 Maret 1989. Sri Sultan HB X adalah salah satu tokoh reformasi. Penyatuan rasa antara raja dan rakyatnya membuat Yogya aman, terlindung dari kerusuhan proses reformasi. 

    Sri Sultan HB IX dan Sri Sultan HB X sama-sama telah menempatkan nobility dengan perspektif lebih lurus. Mereka mengubah persepsi tentang keturunan raja, kebangsawanan, aristokrasi, yang sering dianggap enggan bersintuhan dengan kepentingan rakyat, menjadi para noble sejati, antara lain dengan memiliki generosity dan courage dalam kemerdekaan RI (HB IX) dan melawan represi politik (HB X).

    Ketika perang menegakkan kemerdekaan, HB IX lebih dari menyediakan aset kerajaan untuk menopang kekuatan militer dan pemerintahan Sokarno-Hatta, tapi juga langsung menentukan langkah (courage) berpihak kepada RI – sementara saat itu raja-raja di wilayah lain masih bersikap menunggu.

    Saat proses reformasi genting pada 1998, HB X memiliki courage berpihak pada kepentingan masyarakat luas dalam menghentikan kepemimpinan Orde Baru. Diperkirakan saat itu ada sejuta orang --  terdiri dari mahasiswa, pelajar, guru, pegawai, dan masyarakat umum -- berkumpul di Alun-Alun Utara Yogya dalam sebuah Pisowanan Agung. Ini boleh dipersepsikan sebagai penyatuan rasa antara rakyat dan raja.

    HB IX dan HB X telah mengatasi ilusi dunia berupa status kebangsawanan, aristokrasi, dan simbol-simbol lain yang menyertainya, lantas menjadi bagian dari kepentingan publik. Mereka membebaskan diri dari belenggu statusnya sebagai raja, engaged dengan rakyat yang mereka pimpin. Sebagaimana kata Ernest Hemingway, “true nobility is being superior to your former self.”

    Ketika raja-raja yang sebenarnya, seperti HB IX dan HB X, berhasil merdeka dari belenggu kebangsawanan, belakangan ini di lingkungan organisasi bisnis dan non-profit, serta di institusi-institusi pemerintahan, para pimpinannya malah cenderung ingin jadi raja/ratu. Memenjarakan diri dalam jabatan dan perks (fasilitas dan kemewahan) yang menyertainya. Mereka seperti membangun feodalisme baru.

    Indikasinya: Tim harus melalui jenjang birokrasi untuk menyampaikan pendapat. Para pimpinan organisasi akhirnya dikelilingi para yes-men, selalu menyampaikan apa yang ingin didengar bos, bukan memberikan apa yang sesungguhnya mereka butuhkan. Informasi fakta-fakta lapangan dan realitas pasar sampai ke tangan para bos telah melalui saringan dan polesan yang pada akhirnya dapat menimbulkan salah persepsi. Bos pun merasa sangat superior di atas tim.   

    Bukankah masih jarang kita dapati pimpinan (ditakuti karena jabatan) yang memiliki courage meraih true nobility, sungguh-sungguh mau memenangi diri sendiri dan mind-set lama, untuk menjadi pemimpin sejati (dihormati karena melakukan hal-hal benar secara tepat, doing the right things right)?

    Dalam rapat-rapat organisasi setiap kuartal atau townhall meeting, para bos/pimpinan (yang ditakuti karena jabatan dan mungkin juga sebagai pemilik saham mayoritas) dengan mind-set lama biasanya akan mengatakan, “Jangan datang ke saya dengan persoalan, tapi bawa solusi.” Atau, “Kita akan melakukan perubahan mendasar, saya minta semua orang bekerja lebih baik,” etc. Tiga bulan kemudian si bos akan marah-marah lagi karena banyak orang masih bekerja dengan cara lama. Organisasi mengalami stagnasi.

    Kenapa? Karena sebagai pimpinan dia masih berperilaku sering berang, mudah menyalahkan anak buah, serta tidak konsisten jadualnya untuk memimpin rapat. Di tengah meeting tangannya juga aktif membuka notifikasi di smartphone-nya, atau menghabiskan waktu sampai 15 menit mengungkit-ungkit masa lalu, mencari kambing hitam, anak buah menyampaikan fakta-fakta di pasar dianggap sebagai orang bingung, …etc. Anda kenal situasi ini?

    Pimpinan berperilaku seperti itu menjadikan dunia yang indah dan maha luas ini menyempit, menjadi penjara baginya. Ia terpenjara oleh ego, arogansi, success delusion (meyakini cara sukses sebelumnya bisa dipakai mensiasati situasi sekarang), mungkin juga stigmatized.

    Orang dengan perilaku seperti itu memang belum jadi pemimpin sejati, walaupun jabatannya tinggi. Jiwanya terbelenggu oleh kenyamanan lingkungan dan ilusi yang diciptakannya sendiri.

    Mohon diingat dengan baik. Para bos dengan perilaku kepemimpinan sebagaimana diceritakan di atas – sering marah, selalu merasa superior di atas tim dst. nya itu -- sesungguhnya orang-orang baik hati, punya keahlian teknis hebat (makanya jadi bos), sebelumnya berprestasi terpuji (sehingga dipercaya pemegang saham), bahkan mereka juga rajin ke tempat peribadatan. Mereka hanya terkena wabah leadership blind spot, mengalami problem hubungan interpersonal dalam organisasi – sebagiannya ada juga yang bahkan punya masalah relationship di rumahnya, karena anaknya menilai dia “jerk”.

    Bisa saja mereka tidak menyadari dampak perilakunya. Mungkin juga belum ada yang memberitahu perangai negatif tersebut. Atau bisa jadi mereka sudah menyadari tapi masih menolak berubah. Kelihatannya benar, “Everyone thinks of changing the world, but no one thinks of changing himself,” kata Leo Tolstoy, novelis Rusia penulis War and Peace dan Anna Karenina.

    Menurut catatan kami, institusi pengembangan kepemimpinan Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching (MGSCC), perilaku kepemimpinan tidak efektif tersebut masih menjangkiti banyak organisasi bisnis dan nonprofit di pelbagai negara. Jika dibiarkan berkepanjangan menyebabkan organisasi dirugikan, proses kerja menjadi sangat tidak efektif, banyak resources (waktu, kecerdasan, dan mungkin juga uang) terpakai hanya untuk meladeni mood bos.

    Kita tentu punya pemahaman yang sama, bottleneck organisasi selalu terjadi di leher botol, di level pimpinan. Kebanyakan akibat success delusions, menganggap bisa memaksakan cara lama untuk menghadapi tantangan hari ini.

    Apakah kita sepakat, untuk melaksanakan continuous improvement agar organisasi bergerak lebih progresif, menghasilkan bottom line lebih baik, mesti dimulai dari para eksekutifnya?

    Jika sungguh-sungguh ingin memantaskan diri sebagai noble, sudah waktunya sekarang para eksekutif dan leader mengembangkan nobility, menjadi superior atas diri sendiri sebelum hari ini. Menjadi lebih efektif memimpin.

    Nobility, kemampuan memenangi diri sendiri, menentukan harkat dan martabat setiap pemimpin. Di sini pentingnya mempraktikkan tiga virtues Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching: courage, humility, dan discipline.

     

    Mohamad Cholid  adalah Head Coach di Next Stage Coaching.

    n  Certified Executive Coach at Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching

    n  Certified Marshall Goldsmith Global Leadership Assessment

    Alumnus The International Academy for Leadership, Jerman

    (http://id.linkedin.com/in/mohamad-cholid-694b1528)

    (http://sccoaching.com/coach/mcholid1)

    Kontak Nella +62 85280538449 untuk jadual peluang free consultation Anda.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.








    Oleh: Salsabila Zulfani

    1 hari lalu

    Covid-19, Membuat Tugas Auditor Menjadi Sulit?

    Dibaca : 122 kali

    Covid 19 adalah virus yang menyerang sisem pernapasan. Virus corona dapat menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru berat hingga kematian. Pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Virus ini menular dengan cepat dan telah menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Hampir setiap hari ribuan bahkan ratusan korban infeksi virus corona meregang nyawa. Perekonomian negara terganggu bahkan banyak perusahaan yang harus mengurangi pegawai supaya tidak bangkrut. Dampak Covid 19 ini memang cukup banyak bagi negara terdampak. Lalu bagaimana dengan negara Indonesia?. Indonesia sudah berusaha sedemikian rupa untuk mencegah penularan virus Covid 19 ini,hingga pemerintah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB ). Bekerja dan belajar dari rumah, hal ini mungkin tidak terlalu sulit sebab teknologi yang semakin canggih di masa sekarang ini. Lalu bagaimana dengan profesi yang harus bekerja turun lapang atau outdoor? Auditor misalnya?. Auditor harus menyambangi perusahaan klien sehingga dapat dengan mudah mengamati sistem pada perusahaan klien. Mengamati bagaimana SOP atau bagan alur setiap kegiatan perusahaan, seperti penjualan, pembelian dan aliran kasnya. Bagaimana auditor harus bekerja dari jarak jauh?. Strategi bagi auditor yang harus bekerja jarak jauh meliputi perencanaan audit, pemeriksaan/pengkajian dokumen, kerja lapangan/melakukan pengamatan, wawancara terhadap pihak yang terkait, dan pertemuan penutupan. Berikut penjelasan singkatnya. Perencanaan Perencanaan audit merupakan hal yang sangat penting di setiap pengauditan. Namun hal ini akan sulit jika pihak klien ada di lokasi yang jauh ataupun sulit terjangkau ( terpencil ). Sementara tahap perencanaan audit ini harus dibahas dengan klien. Informasi yang dapat dibahas dalam tahap ini adalah ruang lingkup perusahaan serta perncanaan jadwal kapan kegiatan audit akan di mulai, tak lupa memberi informasi kepada klien mengenai keterbatasan perihal proses kegiatan audit jarak jauh ini. Serta info apa saja yang akan dibagikan dan dengan tunjangan media atau teknologi apa yang digunakan. Berdasarkan kebutuhan diatas, auditor dapat menghabiskan waktu dua kali lebih banyak guna membahas perencanaan ini. Teknologi yang dapat digunakan dalam hal ini seperti vidio conference dan powerPoint untuk menyampaikan informasi/materi atau dapat menggunakan panduan visual lainnya. Pemeriksaan/Pengkajian Dokumen Pemeriksaan/pengkajian dokumen dari jarak jauh akan memakan waktu cukup banyak serta tak luput dari keterbatasan. Dalam hal ini auditor harus mampu menerima dokumen dalam bentuk/format apapun yang paling mudah diperoleh oleh klien sehingga dapat meminimalisir beban yang ada. Pertimbangan terkait aksesibilitas sistem file digital yang digunakan klien untuk menyimpan rekaman catatan tersebut harus diberikan. Pertimbangan strategi audit yang baik dan tepat juga harus dipikirkan oleh auditor untuk pemeriksaan ataupun pengkajian dokumen, pengambilan sampel dapat menjadi alternatif terbaik. Tergantung pada jumlah rekaman catatan yang ada. Terlepas apakah auditor memeriksa semua atau sebagian dari data yang tersedia. Tidak seperti pemeriksaan/pengkajian rekaman catatan di lokasi, pemeriksaan/pengkajian dokumen dari jarak jauh biasanya tidak memungkinkan untuk memberikan pertanyaan langsung pada saat yang sama. Auditor harus mencatat ataupun menulis hal-hal yang patut dipertanyakan pada klien saat melakukan proses pemeriksaan/pengkajian dokumen, dan dapat ditanyakan saat wawancara jarak jauh. Kerja Lapangan/Pengamatan Hal ini mungkin akan menjadi hal yang cukup sulit bagi audit jarak jauh, pasalnya hal ini biasanya dilakukan dengan menyambangi perusahaan klien. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan vidio conference ataupun livestreaming. Walaupun tidak terlepas dari kendala-kendala yang ada seperti ketersediaan Wi-Fi, lokasi kerja klien yang berada di tempat terpencil dan kebisingan yang mungkin akan mengganggu proses audit ini. Tidak banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan melakukan observasi jarak jauh. Sebab penayangan vidio hanya pada satu titik dan auditor akan kesulitan untuk melakukan pengamatan. Alternatif lain yang dapat diambil adalah dengan foto digital yang dapat diambil dari smartphone milik klien ataupun milik perusahaan. Hal ini dapat menimalisir kendala jaringan yang tidak memungkinkan melakukan vidio conference. Dari hasil pengamatan, audit dapat membuat catatan dan menyiapkan pertanyaan. Wawancara Terhadap Pihak yang Terkait Dalam hal ini mungkin tidak jauh beda dengan wawancara langsung, hanya perlu media penghubung seperti panggilan vidio ataupun semacamnya misalnya Google Meet, Skype dan Zoom. Auditor perlu melakukan perencanaan wawancara seperti berapa lama waktu yang diperlukan dan kepada siapa saja pihak yang perlu diwawancarai. Misalnya dengan penanggung jawab kegiatan, pemegang keluar dan masuknya kas ( kasir ), bagian gudang, penerimaan barang, dan personil lain yang bertanggung jawab dalam mendukung fokus audit. Persiapan wawancara jarak jauh membutuhkan waktu tambahan bagi auditor, serta auditor harus siap dengan daftar pertanyaan dan hal-hal terkait informasi tambahan apa saja yang dibutuhkan berdasarkan pengamatan yang dilakukan sebelumnya. Keterbatasan wawancara jarak jauh ini juga dapat terjadi ketika personil yang diwawancarai merasa canggung, gugup atau tidak nyaman dengan panggilan vidio oleh sebab itu, pemilihan kata dan penempatan intonasi yang bagus dan tepat akan dapat membuat wawancara menjadi tidak tegang. Pertemuan Penutupan Pertemuan penutupan audit jarak jauh memiliki konsep yang sama dengan pertemuan penutupan secara langsung, mungkin memang memerlukan media penghubung. Penjadwalan penutupan ini harus dipertimbangkan oleh auditor, minimal dua hari setelah melakukan wawancara. Sehingga auditor dapat mengkaji kembali catatannya dan menyusun rancangan awal hasil audit. Pertemuan penutupan ini dimaksudkan untuk mrmpresentasikan rancangan awal hasil audit kepada klien, menyelesaikan pertanyaan/permasalahan serta melakukan pembahasan lebih lanjut untuk hasil final audit, yaitu opini dari auditor. Kesimpulan yang dapat di ambil ialah penggunaan teknologi secara praktis. Inovasi dan transformasi teknologi menjadi fokus bisnis serta progam audit di seluruh dunia. Saat ini adalah saat yang tepat untuk mengkomunikasikan lebih lanjut mengenai proses audit jarak jauh. Terdapat beberapa teknologi berkembang yang dapat menunjang kegiatan tersebut antara lain vidio livestreaming, Virtual Reality ( VR ), pesawat tak berawak ( drone ) dan lainnya. Namun semua teknologi pastilah diperlukan biaya tambahan yang mungkin malah mengakibatkan auditor merugi. Jadi pilihlah teknologi yang sesuai dengan bayaran yang diterima. Proses audit jarak jauh bukanlah satu-satunya solusi yang tepat untuk semua masalah. Hal ini bukan pula sebagai pengganti pelaksanaan audit secara langsung. Namun sebagai bagian dari alternatif yang dapat dilakukan di masa pandemi ini.