#SeninCoaching: Jadi Pemimpin atau Kaisar? - Analisa - www.indonesiana.id
x

Mohamad Cholid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • #SeninCoaching: Jadi Pemimpin atau Kaisar?

    Dibaca : 1.167 kali

    #Leadership Growth: BE a Leader or an Emperor?

     

    Mohamad Cholid

    Practicing Certified Executive and Leadership Coach

     “Money is god” – spanduk di Guangzhou Trade Fair, China, musim gugur 1991.

     

    Perjalanan Urumqi ke Tian Shan cukup lama, lewat kawasan padang pasir dan  grassland. Dari Urumqi, induk kota Provinsi Xinjiang, daerah otonomi di Barat Laut China, kami berangkat pagi setelah matahari terbit, tiba di Tian Shan sekitar pukul 10.00. Bus kami terengah-engah menanjak ke kawasan lereng perbukitan setinggi 2.000 meter di atas permukaan laut. Itu perjalanan lebih dari 15 tahun silam, sebelum ada jalan baru dan sarana transportasi lebih bagus sekarang.

    Tian Shan juga dikenal sebagai Tengri Tagh, artinya Gunung-Gunung Surga, the Heavenly Mountain. Deretan gunung-gemunung yang membentang di Asia Tengah, sisi barat dan utara Taklamakan Desert, persis di utara Lembah Tarim – kawasan perbatasan dengan Kazakhstan, Kyrgyztan. Di sisi selatan nyambung dengan Pegunungan Pamir, wilayah Himalaya. Di sisi utara dan timur ketemu Pegunungan Altai, Mongolia.

    Puncak tertinggi di Tian Shan adalah Jengish Chokusu, 7.439 meter.

    Kawasan wisata yang kami datangi di tepian Danau Surgawi. Memukau dan sejuk dengan biodiversity yang mengundang rasa ingin tahu, sembari melihat salju abadi dari kejauhan di puncak Jengish Chokusu dan gunung-gunung sebelahnya.

    Daya pukau dan kesejukan itu belakangan ini apakah masih terasa atau meleleh, wallahualam. Karena di Urumqi atau Kashgar, mungkin juga Hotan, suasana semakin gerah akibat keresahan publik.

    Suku bangsa Turkic Uyghur dan minoritas lain, orang-orang Muslim, makin galau. Sebagian dijebloskan ke kamp untuk “menjalani re-edukasi politik” (bahasa resmi dari Beijing). Menurut berita bahkan mereka dipaksa untuk tidak menjalankan ajaran Islam, dilarang shalat dan puasa. Dari perspektif Beijing, itu kelompok minoritas yang anarkis, teroris, dan separatis.

    Penguasa di Beijing tampaknya mengerahkan dana besar, persenjataan canggih, dan kamera pengintai dimana-mana untuk mengontrol masyarakat Xinjiang. Sementara itu pemerintah negara-negara yang sudah ada kerja sama ekonomi dengan China umumnya bungkam terhadap situasi di sana.

    Xinjiang, seluas 1,6 juta km2, menjadi kawasan penting Jalur Sutera, yang menghubungkan Timur Tengah dan China. Beberapa puluh tahun terakhir posisinya menjadi makin istimewa sejak ditemukannya minyak dan mineral di sana. Lebih dari seperlima cadangan batu bara, gas alam, dan minyak China ada di Xinjiang. Ekonomi Xinjiang 60% -nya ditopang sektor minyak dan petrokemikal.

    Penguasa di Beijing memulai penguasaan wilayah Xinjiang sejak lebih dari 50 tahun lalu. Mao Zedong pada 1954 memerintahkan Wang Zhen membentuk Xinjiang Production and Construction Corps (XPCC) atau Bingtuan. Ini organisasi paramiliter untuk mengolah wilayah terpencil, memiliki sistem administrasi sendiri, menyediakan sarana pendidikan dan kesehatan mandiri, bebas dari campur tangan pemerintah daerah.

    Tugas Bingtuan selain mengembangkan pertanian, memajukan ekonomi, juga memastikan stabilitas sosial dan keharmonisan etnis, serta konsolidasi wilayah perbatasan.

    Dalam praktik, “keharmonisan etnis” tersebut adalah memperbanyak jumlah suku bangsa Han hidup di Xinjiang. Han merupakan etnis terbesar, 90%, di China. Suku bangsa Han pula yang paling banyak menikmati hasil dari perkembangan usaha Bingtuan, termasuk di antaranya sebagai pemasok kapas terbesar (60%) untuk kegiatan industri – beberapa garmen merek terkenal di dunia menggunakan kapas mereka. Suku bangsa Uyghur merasa terpinggirkan.

    Terjadinya tekanan politik terhadap suku bangsa Uyghur di Xinjiang indikasinya bukan soal agama, tapi lebih karena kepentingan ekonomi. Penguasa di Beijing mau memastikan hasil bumi Xinjiang penting untuk memperkuat pemerintahan.

    Kita bandingkan perlakuan penguasa di Beijing terhadap kaum Muslim di Xi’an.

    Para pedagang Muslim tiba di Chang An melalui Jalur Sutera. Chang An, atau Eternal Peace, sekarang disebut Xi’an, merupakan ibukota Provinsi Shaanxi, China Tengah. Pernah jadi pusat pemerintahan Dinasti Tang (618 – 907). Kekaisaran Tang memberikan konsesi lahan untuk komunitas Muslim, berikut masjidnya.

    Komplek masjid dibangun lagi di bawah pemerintahan Honwu masa Dinasti Ming (1368-1644), kemudian ada pembangunan lanjutan saat Dinasti Qing (1644-1911). Di kawasan Muslim Xi’an sekarang ada 10 masjid, paling tersohor adalah Xian Da Qingzhenshi atau Masjid Raya Xi’an. Dan sampai hari ini kaum Muslim di Xi’an hidup berdampingan dengan damai bersama komunitas lainnya.

    Mereka merupakan bagian dari suku bangsa Hui, minoritas (sekitar 10 juta orang) hasil campuran keturunan Arab, Persia, dan suku bangsa lain, termasuk Han. Kaum Muslim Hui termasuk minoritas yang relatif sukses di bidang ekonomi. Sebagian dari mereka mengandalkan pendekatan syariah untuk mengatasi problem internal di komunitas.

    Penguasa di Beijing sampai hari ini memberikan toleransi untuk suku bangsa Hui. Barangkali karena mereka menjalankan Islam dengan perbedaan sunnah di sana-sini, dianggap tidak solid, maka belum dinilai sebagai ancaman.

    Hui, tersebar di banyak wilayah, juga tidak sama dengan Uyghur, yang menempati wilayah kaya minyak dan mineral lainnya di Xinjiang.

    Kenapa penguasa di Beijing diberitakan tega menembaki orang-orang Uyghur dan dengan sistematis membungkam Islam di Xinjiang -- sama seperti yang mereka lakukan terhadap kalangan Buddhist di Tibet dan pengamal Kristiani di Zhejiang?

    Bagi Anda yang sudah menonton film Curse of The Golden Flower (2006) akan dapat melihat dengan perspektif baru kenapa penguasa di Beijing ugal-ugalan terhadap kelompok yang dipersepsikan sebagai ancaman terhadap kekuasaan.

    Curse of The Golden Flower adalah drama istana kekaisaran yang ditulis dan disutradari Zhang Yimou, sutradara tersohor. Judul film berdasarkan bait terakhir puisi karya rebel leader Kaisar Huang Chao (Dinasti Qi, 878 - 884), ceritanya berbasis pada drama Thunderstorm atau Leiyu, drama karya Cao Yu pada 1934 dan kisah King Lear, William Shakespeare.

    Dalam Curse of The Golden Flower terlihat gamblang, untuk mempertahankan kekuasaan seorang kaisar harus tega membunuh istri dan bahkan anaknya sendiri, jika mereka tidak patuh dan dianggap membahayakan kepentingannya.

    Ada omongan yang beredar dalam budaya China lama, “untuk jadi kaisar mesti jadi raja tega’’. Disokong keyakinan money is god, sebagaimana tertulis di spanduk Guangzhou Trade Fair Oktober 1991, “para kaisar” di Beijing demi penguasaan ekonomi memperlakukan suku bangsa Uyghur sekehendak mereka.

    Di belahan dunia lain, semangat mempertuhankan uang, apalagi kalau jumlahnya sampai milyaran dolar AS, juga menyebabkan banyak orang jadi tega merusak diri dan keluarga mereka. Apa pun mereka tempuh.

    Dalam sejarah sektor keuangan ada sederet skandal besar, dari sejak kasus Charles Ponzi 1919 di Boston, skandal Enron, “accounting error” Worldcom, sampai penipuan Bernard Madoff yang divonis 150 tahun penjara, plus kisah Lehman Brothers, lembaga keuangan yang sudah berusia 150 tahun dan terbukti melakukan cosmetic accounting tricks, lalu dinyatakan bangkrut.

    Bagi orang beragama, pengikut Buddha, kaum Kristiani, dan Islam, lazimnya ada kendali diri dalam mengelola kekayaan. Orang Muslim diingatkan dengan ini:

    “Have you not seen how your Lord dealt with `Ad Iram of lofty pillars, the like of whom no nation was created in the lands of the world? And with Thamud…. And with Pharaoh….. These were those who had committed great excesses in the lands of the world and spread great mischief in them.”-The Dawn (QS Al Fajr [89]: 6-12).

    Perilaku kepemimpinan yang menuhankan uang dan menempuh segala cara dalam menguasai aset merupakan sabotase terhadap diri sendiri dan peradaban.

    Para pemimpin sejati umumnya bahagia, antara lain karena bersedia untuk sharing leadership -- kebutuhan kepemimpinan Abad 21. Sedangkan kaisar, atau yang bermental bagaikan kaisar, adakah yang benar-benar bahagia dan tentram?

     

    Mohamad Cholid  adalah Head Coach di Next Stage Coaching.

    n  Certified Executive Coach at Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching

    n  Certified Marshall Goldsmith Global Leadership Assessment

    Alumnus The International Academy for Leadership, Jerman

    (http://id.linkedin.com/in/mohamad-cholid-694b1528)

    (http://sccoaching.com/coach/mcholid1)

    Kontak Nella +62 85280538449 untuk jadual peluang free consultation Anda.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.










    Oleh: Napitupulu Na07

    3 hari lalu

    Bangun Jutaan Tandon Air Hujan-Padat Karya Tunai, untuk Menambah Cadangan Air Kemarau dan Mengurangi Banjir, serta Dampak Covid 19

    Dibaca : 154 kali

    Pembangunan yang terlalu mengejar pertumbuhan ekonomi berakibat terjadinya alih fungsi hutan dan ruang terbuka hijau secara masif menjadi: perkotaan, permukiman, areal industri, perkebunan sawit, kawasan pertambangan minerba dan galian C, berbagai sarana transportasi, perladangan berpindah dan lahan gundul kritis terlantar; telah berujung terjadinya banjir-banjir besar di musim hujan,diikuti kekeringan dan kelangkaan air di musim kemarau, serta air kotor / tercemar oleh limbah cair dan sampah yang menyumbat sungai dan drainase sepanjang tahun. Mengatasi masalah ini sekarang pemerintah sedang giat-giatnya membangun banyak bendungan/waduk banjir dan serbaguna bersamaan dengan merehabilitasi hutan dan konservasi lahan (gerhan). Namun upaya gerhan dan bangun waduk-waduk tersebut belum optimal menurunkan debit puncak banjir DPB) yang membesar/meningkat menjadi 5 (lima) kali debit (Q) sebelum alih fungsi tata guna tanah. Untuk mengantisipasi dampak alih fungsi tata guna lahan ini peraturan perundang-undangan terkait Penataan Ruang telah memuat persyaratan prinsip Zero Delta Q (Pertambahan Debit Nol). Tulisan ini menguraikan pentingya menerapkan prinsip Pertambahan Debit Nol ini dengan membuat/membangun jutaan tandon-tandon air hujan di seluruh nusantara; untuk melengkapi dan mengoptilakan upaya yang sedang berjalan tersebut di atas, namun sekaligus dapat menyerap tenaga kerja secara padat karya bagi penduduk yang terdampak pandemi Covid 19.






    Oleh: Admin

    2 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 623 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).