SOKSI: 2019 Tahun Rawan Masyarakat Bangsa - Analisa - www.indonesiana.id
x

Valentino Barus

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • SOKSI: 2019 Tahun Rawan Masyarakat Bangsa

    Dibaca : 996 kali

    Berkaca pada situasi geopolitik tahun 2018, SOKSI dalam refleksi akhir tahun menarik kesimpulan bahwa tahun 2019 mesti diarungi dengan penuh kehati-hatian, kewaspadaan dan kematangan dalam berbangsa serta bernegara. Eskalasi perang dagang dan persaingan ekonomi antara Amerika dan Cina membuat situasi ekonomi global dalam ketidakpastian dan diprediksi akan terus berlanjut ke tahun mendatang; berbagai sengketa di tingkat regional seperti perebutan wilayah laut China Selatan belum menemukan solusi definitif dan akan tetap mempengaruhi situasi politik regional; Di dalam negeri akan berlangsung secara serentak Pilpres dan Pileg yang rentan mengakibatkan segregasi sosial dan polarisasi kelompok-kelompok masyarakat ke dalam kubu-kubu politik.

    Demikian pandangan yang mengemuka pada diskusi terbatas SOKSI yang bertajuk: "Refleksi dan Proyeksi Perjalanan Bangsa" yang berlangsung di Jakarta, dipandu oleh Prof. Thomas Suyatno.  Ahmadi Noor Supit, pada kesempatan tersebut menyampaikan bahwa kondisi politik dan perekonomian global dewasa ini sesungguhnya menjadi tantangan dan peluang tersendiri bagi bangsa Indonesia. Akhir-akhir ini banyak pengusaha yang hendak memindahkan pabriknya dari Cina guna menghindari tingginya biaya masuk barang dari Cina  ke Amerika. “Kita harus mampu memanfaatkan situasi ini sehingga optimal positif bagi perekonomian kita”, tandasnya. Untuk itu, lanjut Supit, di samping cepat dan cekatan mengambil peluang di pasaran global, kita juga harus mampu membangun iklim berinvestasi dan iklim ketenagakerjaan yang kondusif.

    Ujian Demokrasi

    Tak dapat dipungkiri bahwa fenomena semakin menonjolnya segregasi di tengah masyarakat menjelang  Pilpres dan Pileg di tahun politik ini menjadi tantangan dan ujian sendiri bagi ketahanan demokrasi dan keutuhan NKRI.

    Posisi Pilpres yang berbarengan dengan Pileg dan pemilihan DPD saat ini memang terasa unik karena kedua Capres berada dalam situasi "to be or not to be". Jokowi berada dalam posisi harus menuntaskan program dan rencana rencana besarnya tentang peletakan dasar menuju masyarakat adil makmur, sementara Prabowo bisa dikatakan bahwa kesempatan ini sebagai peluang terakhir untuk merebut posisi penentu arah pembangunan.

    Prof. Thomas Suyatno memprediksi tantangan di tahun 2019 akan lebih berat dibanding tahun 2014 atau tahun penyelenggaraan pesta demokrasi sebelumnya. Karena untuk pertama kalinya di tahun 2019 Pilpres dan Pileg akan dilaksanakan secara serentak. Dari sisi teknis, tentu kinerja penyelenggara akan lebih berat menghadapi dua pemilihan sekaligus. Demikian juga dalam mekanisme kontrol atau pengawasan, akan membutuhkan usaha serta konsentrasi lebih tinggi. Namun yang paling penting diantisipasi adalah dampaknya terhadap situasi sosio-politik di tengah masyarakat yang merupakan fundamen bagi pengembangan sosio-ekonomi sebuah bangsa.

    Dalam kesempatan tersebut, Ichsan Firdaus memaparkan pula bakal kerasnya pertarungan antar partai dalam upayanya untuk lolos dari parliamentary threshold. Pertarungan itu menjadi tantangan sekaligus dan peluang  bagi kader SOKSI dalam memperebutkan kursi untuk berbakti lewat parlemen, terang Ichsan.

    Menghadapi aneka tantangan tersebut, Bobby Suhardiman mengharapkan SOKSI dapat tampil sebagai bagian dari solusi dengan berperan aktif di tengah masyarakat. “SOKSI mesti mampu membawa pencerahan ke tengah masyarakat bahwa Pemilu sebagai salah satu instrumen demokrasi bertujuan untuk mengukuhkan kesatuan dan kematangan bangsa” kata putra Prof. Suhardiman (alm.) tersebut. Sebagai bentuk peran konkrit, masih menurut Bobby, SOKSI mesti mampu sebagai penggerak peralihan pola kampanye politik dari cara-cara tradisional seperti mobilisasi massa menjadi pola yang lebih modern dan beradap yakni adu gagasan; dari pola politik identitas ke pola politik partisipatif. “Partisipasi politik masyarakat sesuai kapasitas masing-masing merupakan fundamen dari kedewasaan berdemokrasi. Karena itu, pendidikan politik di tengah masyarakat mesti lebih digiatkan lagi agar kampanye hitam dan penyebaran berita bohong (hoax) segera berakhir dan dengan sendirinya tak ada tempat lagi bagi politik sektarian” tutup Bobby.

    Dari diskusi tersebut SOKSI menekankan 3 pesan penting dalam menghadapi tahun politik 2019: pertama, masyarakat (khususnya elite) dalam menyampaikan pendapat dan pikirannya hendaknya mengedepankan budaya politik yang santun, terukur dan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa. Kedua, lembaga dan perangkat penyelenggara Pemilu hendaknya bekerja profesional berlandaskan pada azas keadilan dan senantiasa menempatkan hukum sebagai panglima. Ketiga,  masyarakat dan pelaku politik hendaknya menempatkan ajang kontestasi sebagai ajang pelayanan dan pengapdian bagi bangsa, bukan ajang untuk merusak semangat persaudaraan sebagai satu keluarga bangsa.

    Pada kesempatan terpisah, Sujatno Pedro, tokoh SOKSI dan Golkar Jateng mengatakan bahwa kemampuan untuk mengelola konflik dan perbedaan di tengah pertarungan politik 2019, dengan tetap mengedepankan persatuan akan sangat mempengaruhi percepatan pembangunan nasional menuju Indonesia sebagai "the big five" dunia. Semoga.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.