#SeninCoaching: 2019 Pilih Presiden, Pemimpin atau Kaisar ? - Analisa - www.indonesiana.id
x

Mohamad Cholid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • #SeninCoaching: 2019 Pilih Presiden, Pemimpin atau Kaisar ?

    Dibaca : 903 kali

    #Leadership Growth: Leading for Better Society

     

    Mohamad Cholid

    Practicing Certified Executive and Leadership Coach

     

    “… Aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan.

    Aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang,

    aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan.Sapardi Djoko Damono.

     

    Dua puluh empat trilyun, delapan ratus milyar rupiah dianggarkan untuk pesta demokrasi 2019.

    Apakah orang Indonesia umumnya kurang bahagia sehingga pemilu dianggap sebagai pesta demokrasi – melengkapi sederet perayaan dan liburan dalam satu tahun kalender, sebagaimana kebijakan pemerintah? Menurut The World Happiness Report 2018, gambaran tingkat kebahagiaan di 156 negara, Indonesia menempati peringkat 96, di bawah Vietnam (95) dan Mongolia (94) – di peringkat pertama Finlandia, disusul Nowegia (2) dan Denmark (3).

    Apakah menyebut pemilu sebagai pesta supaya tidak berkesan terlalu serius sehingga akuntabilitas penggunaan dana dan kualitas penyelenggaraannya bisa lebih longgar?

    Bukankah pemilu merupakan urusan pelik yang kita asumsikan memiliki dampak sangat besar bagi kehidupan bersama, minimal selama lima tahun mendatang? Apalagi pada 2019 ini, yang akan dipilih adalah sepasang presiden dan wakil presiden, 575 anggota DPR RI, 136 anggota DPD, 2.207 anggota DPR Provinsi dan 17.610 anggota DPRD Kota/Kabupaten.

    Mereka yang akan dipilih dalam Pemilu 2019 ini tentunya diasumsikan sebagai para calon pemimpin, berpeluang untuk mempengaruhi upaya-upaya perbaikan penyelenggaraan negara, di tingkat kota/kabupaten sampai level nasional. 

    Pertanyaannya, apakah kompetensi setiap orang di setiap level jabatan dan wilayah tersebut sudah diukur melalui proses asesmen yang dapat diandalkan? Apa dasar dan alasan setiap partai politik menyodorkan calon-calon untuk berperan sebagai anggota DPRD Kota/Kabupaten, DPR Provinsi, dan DPR RI?  Apa alasan dan tujuan mereka ingin jadi anggota legislatif?

    Pertanyaan-pertanyaan di atas oleh sebagian orang dianggap naif. Karena kenyataannya, menurut orang-orang yang mengetahui cerita di balik layar mekanisme dan proses seleksi para calon pemimpin tersebut, proses itu merupakan kegiatan bisnis, lebih banyak bersifat tranksaksional lima tahunan. Kompetensi kepemimpinan menjadi urutan terakhir dalam seleksi. Wallahualam.

    Sekarang menyangkut pemilihan presiden dan wakilnya. Sebagaimana Anda lihat, situasinya lebih seru, kadang mencengangkan, terutama akibat dari upaya-upaya rebutan pengaruh para kandidat -- yang dikelola oleh mesin kampanye masing-masing -- di media mainstream dan media sosial.

    Bagaimana menurut Anda, bukankah manuver kampanye-kampanye tersebut belakangan sudah mengindikasikan terjadinya incivility? Ketiadaan adab dalam membangun diferensiasi mungkin berhasil membangkitkan emosi (publik), tapi ini dapat menimbulkan ekstrimisme (satu pihak merasa paling sah mengelola negara, sembari meniadakan peran pihak lain).

    Incivility dapat menciderai rasa hormat terhadap perbedaan pandangan dan mencabik kepercayaan publik kepada politisi dan proses politik, kata Diana C. Mutz (In-Your-Face Politics: The Consequences of Uncivil Media, 2016).

    Proses pematangan demokrasi bervariasi di pelbagai negara, kemungkinan dipengaruhi oleh budaya lokal, rasa kebangsaan, dan tingkat kebahagiaan publik. Pada tahap sekarang, dua puluh tahun setelah reformasi, para pemimpin formal dan informal di Indonesia sudah waktunya intentionally membangun proses politik yang lebih menghormati tingkat kecerdasan para pemilih.

    Investasi negara sebesar Rp 24,8 Trilyun untuk Pemilu 2019 sepatutnya memberikan yield yang pantas – bisa berupa proses pemilihan pemimpin yang lebih akuntabel, publik pemilih yang di-encourage untuk lebih matang, dan kehidupan berbangsa yang lebih dewasa.    

    Para pemimpin, atau yang karena jabatannya seolah-olah memimpin, serta para calon pemimpin, patut ditantang untuk membangun visi dan memiliki action plan yang gamblang dalam menumbuhkan rasa berbangsa yang lebih mulia. Minimal mengurangi gap antara retorika semasa kampanye dengan realitas.

    Pada tahap sekarang publik dapat melihat KPI (Key Performance Indicator) masing-masing kandidat. KPI adalah fakta yang sudah terjadi, tidak dapat kita ubah – ibarat satu tahap kejadian atau suasana yang kita lihat melalui kaca spion.

    Untuk membentuk Indonesia Inc. yang mampu eksis secara lebih terhormat, menurut persepsi publik maupun penilaian dalam pergaulan antar bangsa, para kandidat selain memperlihatkan KPI mestinya dapat pula melengkapinya dengan critical drivers – komitmen langkah-langkah kongkret perubahan perilaku kepemimpinan untuk menghasilkan yield lebih bermakna dalam jangka panjang. Lebih dari sekedar masa lima tahun pemerintahan.

    Dalam proses beberapa bulan ke depan sampai tiba D–day pencoblosan 17 April 2019, publik dapat menggunakan perspektif baru untuk menentukan kandidat pilihan masing-masing. Cobalah dilihat ulang dengan lebih seksama, apakah di antara calon pemimpin tersebut memiliki tiga kebajikan (virtues) sebagai pijakan dasar mengubah perilaku kepemimpinan menjadi lebih berintegritas. Tiga kebajikan tersebut adalah: courage, humility, dan discipline.  

    Courage (bukan bravado) merupakan wujud keberanian seorang (calon) pemimpin merambah wilayah intelektualitas dan spiritualitas baru, berani kelihatan vulnerable untuk perubahan (tidak perlu jaga image), dalam upaya meningkatkan benefit lebih baik untuk kepentingan publik. Humility, rendah hati mengakui kekurangan/kelemahan dan bersedia melibatkan para pemangku kepentingan (stakeholder) dalam proses perbaikan. Dan discipline, konsisten mengukur setiap tahap proses perubahannya untuk menjadi pemimpin lebih efektif.

    Metode yang dikembangkan Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching (MGSCC) untuk meningkatkan efektivitas kepemimpinan tersebut kelihatan sederhana. Namun kenyataannya ada saja para pemimpin dan eksekutif masih sulit secara konsisten melaksanakannya.

    Seorang calon presiden, selain dapat memenuhi persyaratan formal berdasarkan undang-undang, selayaknya mampu juga menerapkan (minimal) tiga kebajikan tersebut. Orang yang ingin berkuasa dalam penyelenggaraan suatu negara tapi tidak rendah hati mengakui kelemahan dan menolak masukan sesuai fakta, maunya benar sendiri, ada kecenderungan jadi kaisar atau seorang tiran, hanya menuntut kepatuhan publik, bukan engagement (kesertaan) masyarakat.

    Lihat saja dalam kesehariannya. Kalau saat berjalan matahari ada di belakangnya dan terjadi bayangan, apakah orang tersebut cenderung menyatakan, dirinyalah yang menghasilkan bayangan bukan matahari, bukan pula tanah yang dipijaknya (interpretasi sajak Sapardi Djoko Damono).  

    Orang-orang yang merasa dirinya bisa memimpin dengan mengandalkan karisma, memilih bertengkar ketimbang diplomasi, menyebarkan kebencian dan ketakutan – seperti Hitler, Stalin, Mussolini, Mao, atau sekarang Trump – terbukti melahirkan penderitaan umat manusia.

    Sekarang sudah tahun ke-19 di Abad 21. Masak sih Anda masih mau membiarkan investasi negara trilyunan untuk menghasilkan bayangan semu, seperti mengukir langit, mengorbankan kepentingan jangka panjang berbangsa? “…the old politics make no sense at all. But proven competence does,” kata Peter Drucker.  

     

    Mohamad Cholid  adalah Head Coach di Next Stage Coaching.

    n  Certified Executive Coach at Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching

    n  Certified Marshall Goldsmith Global Leadership Assessment

    Alumnus The International Academy for Leadership, Jerman

    (http://id.linkedin.com/in/mohamad-cholid-694b1528)

    (http://sccoaching.com/coach/mcholid1)

    Kontak Nella +62 85280538449 untuk jadwal peluang free consultation Anda.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.








    Oleh: Salsabila Zulfani

    1 hari lalu

    Covid-19, Membuat Tugas Auditor Menjadi Sulit?

    Dibaca : 123 kali

    Covid 19 adalah virus yang menyerang sisem pernapasan. Virus corona dapat menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru berat hingga kematian. Pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Virus ini menular dengan cepat dan telah menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Hampir setiap hari ribuan bahkan ratusan korban infeksi virus corona meregang nyawa. Perekonomian negara terganggu bahkan banyak perusahaan yang harus mengurangi pegawai supaya tidak bangkrut. Dampak Covid 19 ini memang cukup banyak bagi negara terdampak. Lalu bagaimana dengan negara Indonesia?. Indonesia sudah berusaha sedemikian rupa untuk mencegah penularan virus Covid 19 ini,hingga pemerintah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB ). Bekerja dan belajar dari rumah, hal ini mungkin tidak terlalu sulit sebab teknologi yang semakin canggih di masa sekarang ini. Lalu bagaimana dengan profesi yang harus bekerja turun lapang atau outdoor? Auditor misalnya?. Auditor harus menyambangi perusahaan klien sehingga dapat dengan mudah mengamati sistem pada perusahaan klien. Mengamati bagaimana SOP atau bagan alur setiap kegiatan perusahaan, seperti penjualan, pembelian dan aliran kasnya. Bagaimana auditor harus bekerja dari jarak jauh?. Strategi bagi auditor yang harus bekerja jarak jauh meliputi perencanaan audit, pemeriksaan/pengkajian dokumen, kerja lapangan/melakukan pengamatan, wawancara terhadap pihak yang terkait, dan pertemuan penutupan. Berikut penjelasan singkatnya. Perencanaan Perencanaan audit merupakan hal yang sangat penting di setiap pengauditan. Namun hal ini akan sulit jika pihak klien ada di lokasi yang jauh ataupun sulit terjangkau ( terpencil ). Sementara tahap perencanaan audit ini harus dibahas dengan klien. Informasi yang dapat dibahas dalam tahap ini adalah ruang lingkup perusahaan serta perncanaan jadwal kapan kegiatan audit akan di mulai, tak lupa memberi informasi kepada klien mengenai keterbatasan perihal proses kegiatan audit jarak jauh ini. Serta info apa saja yang akan dibagikan dan dengan tunjangan media atau teknologi apa yang digunakan. Berdasarkan kebutuhan diatas, auditor dapat menghabiskan waktu dua kali lebih banyak guna membahas perencanaan ini. Teknologi yang dapat digunakan dalam hal ini seperti vidio conference dan powerPoint untuk menyampaikan informasi/materi atau dapat menggunakan panduan visual lainnya. Pemeriksaan/Pengkajian Dokumen Pemeriksaan/pengkajian dokumen dari jarak jauh akan memakan waktu cukup banyak serta tak luput dari keterbatasan. Dalam hal ini auditor harus mampu menerima dokumen dalam bentuk/format apapun yang paling mudah diperoleh oleh klien sehingga dapat meminimalisir beban yang ada. Pertimbangan terkait aksesibilitas sistem file digital yang digunakan klien untuk menyimpan rekaman catatan tersebut harus diberikan. Pertimbangan strategi audit yang baik dan tepat juga harus dipikirkan oleh auditor untuk pemeriksaan ataupun pengkajian dokumen, pengambilan sampel dapat menjadi alternatif terbaik. Tergantung pada jumlah rekaman catatan yang ada. Terlepas apakah auditor memeriksa semua atau sebagian dari data yang tersedia. Tidak seperti pemeriksaan/pengkajian rekaman catatan di lokasi, pemeriksaan/pengkajian dokumen dari jarak jauh biasanya tidak memungkinkan untuk memberikan pertanyaan langsung pada saat yang sama. Auditor harus mencatat ataupun menulis hal-hal yang patut dipertanyakan pada klien saat melakukan proses pemeriksaan/pengkajian dokumen, dan dapat ditanyakan saat wawancara jarak jauh. Kerja Lapangan/Pengamatan Hal ini mungkin akan menjadi hal yang cukup sulit bagi audit jarak jauh, pasalnya hal ini biasanya dilakukan dengan menyambangi perusahaan klien. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan vidio conference ataupun livestreaming. Walaupun tidak terlepas dari kendala-kendala yang ada seperti ketersediaan Wi-Fi, lokasi kerja klien yang berada di tempat terpencil dan kebisingan yang mungkin akan mengganggu proses audit ini. Tidak banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan melakukan observasi jarak jauh. Sebab penayangan vidio hanya pada satu titik dan auditor akan kesulitan untuk melakukan pengamatan. Alternatif lain yang dapat diambil adalah dengan foto digital yang dapat diambil dari smartphone milik klien ataupun milik perusahaan. Hal ini dapat menimalisir kendala jaringan yang tidak memungkinkan melakukan vidio conference. Dari hasil pengamatan, audit dapat membuat catatan dan menyiapkan pertanyaan. Wawancara Terhadap Pihak yang Terkait Dalam hal ini mungkin tidak jauh beda dengan wawancara langsung, hanya perlu media penghubung seperti panggilan vidio ataupun semacamnya misalnya Google Meet, Skype dan Zoom. Auditor perlu melakukan perencanaan wawancara seperti berapa lama waktu yang diperlukan dan kepada siapa saja pihak yang perlu diwawancarai. Misalnya dengan penanggung jawab kegiatan, pemegang keluar dan masuknya kas ( kasir ), bagian gudang, penerimaan barang, dan personil lain yang bertanggung jawab dalam mendukung fokus audit. Persiapan wawancara jarak jauh membutuhkan waktu tambahan bagi auditor, serta auditor harus siap dengan daftar pertanyaan dan hal-hal terkait informasi tambahan apa saja yang dibutuhkan berdasarkan pengamatan yang dilakukan sebelumnya. Keterbatasan wawancara jarak jauh ini juga dapat terjadi ketika personil yang diwawancarai merasa canggung, gugup atau tidak nyaman dengan panggilan vidio oleh sebab itu, pemilihan kata dan penempatan intonasi yang bagus dan tepat akan dapat membuat wawancara menjadi tidak tegang. Pertemuan Penutupan Pertemuan penutupan audit jarak jauh memiliki konsep yang sama dengan pertemuan penutupan secara langsung, mungkin memang memerlukan media penghubung. Penjadwalan penutupan ini harus dipertimbangkan oleh auditor, minimal dua hari setelah melakukan wawancara. Sehingga auditor dapat mengkaji kembali catatannya dan menyusun rancangan awal hasil audit. Pertemuan penutupan ini dimaksudkan untuk mrmpresentasikan rancangan awal hasil audit kepada klien, menyelesaikan pertanyaan/permasalahan serta melakukan pembahasan lebih lanjut untuk hasil final audit, yaitu opini dari auditor. Kesimpulan yang dapat di ambil ialah penggunaan teknologi secara praktis. Inovasi dan transformasi teknologi menjadi fokus bisnis serta progam audit di seluruh dunia. Saat ini adalah saat yang tepat untuk mengkomunikasikan lebih lanjut mengenai proses audit jarak jauh. Terdapat beberapa teknologi berkembang yang dapat menunjang kegiatan tersebut antara lain vidio livestreaming, Virtual Reality ( VR ), pesawat tak berawak ( drone ) dan lainnya. Namun semua teknologi pastilah diperlukan biaya tambahan yang mungkin malah mengakibatkan auditor merugi. Jadi pilihlah teknologi yang sesuai dengan bayaran yang diterima. Proses audit jarak jauh bukanlah satu-satunya solusi yang tepat untuk semua masalah. Hal ini bukan pula sebagai pengganti pelaksanaan audit secara langsung. Namun sebagai bagian dari alternatif yang dapat dilakukan di masa pandemi ini.