#SeninCoaching: Indonesia Inc. atau The Country of The Blind ? - Analisa - www.indonesiana.id
x

Mohamad Cholid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • #SeninCoaching: Indonesia Inc. atau The Country of The Blind ?

    Dibaca : 762 kali

    #Leadership Growth: To Build a Different and Better Tomorrow   

     

    Mohamad Cholid

    Practicing Certified Executive and Leadership Coach

     

    Puncak gunung Parascotopeti belum pernah ditaklukkan oleh siapa pun.  Nunez memutuskan mendaki ke puncak Parascotopeti. Dalam upaya pendakian tersebut, Nunez terpeleset dan jatuh berguling ke sisi lain punggung gunung.

    Dalam upayanya menyelamatkan diri menuruni lembah bersalju di bawah bayangan puncak gunung, Nunez sampai ke sebuah perkampungan yang sudah terpisah bertahun-tahun dari kehidupan dunia lain oleh tebing-tebing berbatu yang curam. Gempa berkali-kali selama ini membentuk tebing-tebing yang jadi benteng pemisah, menyebabkan masyarakat di lembah itu makin terasing.

    Masyarakat di lembah Parascotopeti itu awalnya merupakan komunitas orang-orang yang melarikan diri dari tirani penjajahan Spanyol atas Ecuador. Mereka hidup mandiri dan tercukupi selama bertahun-tahun, namun terkena wabah penyakit yang menyebabkan setiap anak yang lahir langsung buta.

    Karena kebutaan berlangsung selama beberapa generasi, indra rasa dan pendengaran mereka terlatih baik secara alamiah. Ketika orang terakhir yang masih bisa melihat akhirnya meninggal, semua orang sudah terbiasa menjalani hidup dalam kebutaan. Mereka hidup di rumah-rumah yang tanpa jendela, dihubungkan oleh jaringan jalur-jalur setapak dengan pembatas tali kekang.

    Nunez sendiri buta sebelah. Melihat situasi di lembah itu, ia menghibur dirinya dengan mengutip kalimat dari cerita dongeng, “Di tengah-tengah orang buta, seorang bermata satu bisa jadi raja.”

    Rencana Nunez, pertama mengajari mereka memahami dunia menurut orang melek, lalu menguasai mereka. Ternyata Nunez keliru. Bagi komunitas orang-orang buta di lembah itu, mengenali dunia dengan mata terbuka tidak ada dalam konsep hidup mereka.

    Akibat ajakannya itu ditepis mereka, Nunez kesal dan galau. Marah-marah tidak keruan. Para penduduk setempat justru menenangkan Nunez, yang lantas mengalah untuk tidak memaksakan pandangan hidup orang melek, supaya bisa tinggal di wilayah itu. Karena sepertinya mustahil untuk kembali ke dunia luar.

    Nunez pun disarankan bekerja pada Yakob, seorang anggota komunitas. Dalam waktu singkat terjadi percintaan antara Nunez dengan Medina-Sarote, anak gadis bungsu Yakob. Merasa mendapatkan angin dari kekasihnya, Nunez berupaya untuk mengenalkan pandangan hidup menurut orang yang melek kepada Medina. Tapi oleh Medina ajakan Nunez tersebut dianggapnya khayalan saja.

    Ketika meminta restu agar bisa menikah dengan Medina kepada para tetua di sana, Nunez diminta agar membersihkan pikirannya dari obsesi cara melihat orang melek. Bahkan tabib setempat meminta agar mata Nunez dioperasi untuk dibutakan, karena kemampuannya melihat dengan mata telah menyebabkan "otaknya mengalami iritasi dan distraksi secara konstan.”

    Demi bisa menikahi Medina, dengan setengah hati Nunez menyetujui syarat tersebut. Namun esok paginya, sebelum cahaya matahari menyentuh lembah, ketika warga setempat masih tidur, Nunez kabur tanpa peralatan dan bekal yang memadai, mendaki tebing dan meluncur ke punggung tebing sebaliknya.    

    Kisah tersebut dari cerita pendek The Country of The Blind, karya penulis Inggris H. G. Wells, terbit pertama kali pada 1904 di The Strand Magazine dan menjadi bagian dari kumpulan karya The Country of The Blind and Other Stories, 1911. H.G. Wells sempat empat kali dinominasikan untuk hadiah Nobel bidang sastra.

    Dari cerita The Country of The Blind kita bisa belajar, di dalam kerumunan orang buta ajakan untuk memahami realitas dunia sebagaimana dilakukan orang melek dapat dianggap perilaku menyimpang. Bahkan bisa dimusuhi atau yang melek dipaksa jadi buta agar punya sikap dan “pandangan” sama.

    Setelah gempa berkali-kali selama sekian generasi, lembah Parascotopeti (gunung fiktif di Ecuador) itu terkepung oleh tebing-tebing tinggi yang memisahkan warga di sana dari dunia manusia umumnya. Mereka buta dan terasing.

    Kalau kita melihat Indonesia belakangan ini, setelah terjadi sederet gempa – di bidang politik, ekonomi, gempa intelektual, bahkan spiritual (akibat kegiatan agama menjadi komoditas perebutan kekuasaan) -- apakah Anda sepakat bahwa banyak orang di Indonesia jadi terpisahkan dari realitas dan jiwa manusia merdeka, serta banyak dari mereka (termasuk yang menduduki jabatan penting) telah dibutakan oleh syahwat keduniawian masing-masing?

    Massa rakyat telah dibutakan pula oleh manipulasi persepsi dan opini, bahkan melalui serbuan hoax, demi kepentingan-kepentingan jangka pendek orang-orang yang mengaku layak memimpin.

    Menjelang Pemilu 2019, proses pembutaan publik tersebut tampaknya makin gawat. Banyak orang yang kemudian terasing dari akal sehat. Mereka menciptakan tebing-tebing pembatas pikiran masing-masing.

    Di lingkungan diskusi-diskusi tertutup dan terbuka, serta di dalam grup-grup WhatsApp, ada saja perselisihan akibat perbedaan “pandangan politik” yang mereka lakukan dengan membuta – mereka cenderung menolak ajakan melihat dengan jernih dan secara lebih cermat. Pihak yang mengajak melihat fakta-fakta secara tenang, menganalisis dengan mendalam, malah mereka serang.

    Melihat realitas apa adanya memang dapat menimbulkan ketidaknyamanan bagi umumnya orang. Mereka lantas cenderung memilih membutakan hati dan pikiran, berselingkuh dengan delusi, memburu ilusi.

    Jabatan mentereng, posisi tinggi di pemerintahan atau di organisasi bisnis atau nonprofit, serta gelar akademis sampai S3 sekalipun, tidak menjamin seseorang bebas dari godaan senang menjadi buta, menggumuli delusi, dan memelihara ilusi; kalau tidak ada upaya (courage) membuka diri dan rendah hati melihat kenyataan. Contohnya tim Presiden John F. Kennedy dalam proses pengambilan keputusan untuk invasi ke Teluk Babi, Cuba (#SeninCoaching: Presiden Kok Gitu…).

    Orang-orang brilliant di sekitar JFK tersebut, dijuluki sebagai the best and the brightest team, telah buta hati dan pikiran akibat arogansi kelompok – bahkan mereka tidak mengecek ulang asumsi-asumsi mereka ke Kementrian Luar Negeri AS, yang memiliki data terkini situasi masyarakat Cuba. Kepintaran dan jabatan mereka telah menjadi tebing-tebing pembatas dengan realitas. Arogansi kelompok telah menyebabkan mereka buta hati. Akibatnya terjadi kegagalan operasi militer yang sangat memalukan buat Amerika.

    Kenapa bisa begitu? Umumnya orang berkelompok atau hadir dalam rapat tanpa mempersiapkan pikiran untuk menghormati perbedaan. Kita cenderung berkerumun dengan orang-orang seperti kita – sama-sama lulusan universitas ternama, jabatan setara, keyakinan sama, pola pikir seirama, etc. Ahli sosiologi menyebut perilaku semacam itu homophily.  

    Apakah Anda termasuk golongan yang tergugah membantu (publik) Indonesia untuk benar-benar merdeka, bebas dari tendensi kebutaan massal dan homophily? Apakah Anda siap menjadi para eksekutif dan leader yang lebih efektif, memberikan positive impact bagi kepentingan banyak orang (para stakeholder, termasuk keluarga)?

    Anda, di lingkungan profesi apa pun dan jabatan apa saja, utamanya yang ingin sekali berperan penting sebagai pemimpin, tentunya sepakat bahwa kita mestinya membangun Indonesia Inc., yang signifikan di arena global; bukan membiarkan negeri ini tersisih dari peta dunia jadi kawasan seperti The Country of The Blind.

    Membebaskan diri dari tirani masa lalu dan dari perilaku kepemimpinan yang ugal-ugalan, memerlukan ruh dan tindakan nyata entrepreneurship.

    Berdasarkan perspektif Joseph Schumpeter, ekonom dan political scientist Amerika kelahiran Austria, ekonomi suatu bangsa semarak dengan inovasi dan kemajuan teknologi karena peran para entrepreneurs, yang disebutnya “wild spirits.” Dia mengembangkan term Unternehmergeist, istilah Jerman untuk entrepreneur spirit, yang menegaskan kita perlu “the doing of new things or the doing of things that are already being done in a new way.” 

     

     Mohamad Cholid  adalah Head Coach di Next Stage Coaching.

    n  Certified Executive Coach at Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching

    n  Certified Marshall Goldsmith Global Leadership Assessment

    Alumnus The International Academy for Leadership, Jerman

    (http://id.linkedin.com/in/mohamad-cholid-694b1528)

    (http://sccoaching.com/coach/mcholid1)

    Kontak Nella +62 85280538449 untuk jadwal peluang free consultation Anda.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.










    Oleh: Napitupulu Na07

    3 hari lalu

    Bangun Jutaan Tandon Air Hujan-Padat Karya Tunai, untuk Menambah Cadangan Air Kemarau dan Mengurangi Banjir, serta Dampak Covid 19

    Dibaca : 154 kali

    Pembangunan yang terlalu mengejar pertumbuhan ekonomi berakibat terjadinya alih fungsi hutan dan ruang terbuka hijau secara masif menjadi: perkotaan, permukiman, areal industri, perkebunan sawit, kawasan pertambangan minerba dan galian C, berbagai sarana transportasi, perladangan berpindah dan lahan gundul kritis terlantar; telah berujung terjadinya banjir-banjir besar di musim hujan,diikuti kekeringan dan kelangkaan air di musim kemarau, serta air kotor / tercemar oleh limbah cair dan sampah yang menyumbat sungai dan drainase sepanjang tahun. Mengatasi masalah ini sekarang pemerintah sedang giat-giatnya membangun banyak bendungan/waduk banjir dan serbaguna bersamaan dengan merehabilitasi hutan dan konservasi lahan (gerhan). Namun upaya gerhan dan bangun waduk-waduk tersebut belum optimal menurunkan debit puncak banjir DPB) yang membesar/meningkat menjadi 5 (lima) kali debit (Q) sebelum alih fungsi tata guna tanah. Untuk mengantisipasi dampak alih fungsi tata guna lahan ini peraturan perundang-undangan terkait Penataan Ruang telah memuat persyaratan prinsip Zero Delta Q (Pertambahan Debit Nol). Tulisan ini menguraikan pentingya menerapkan prinsip Pertambahan Debit Nol ini dengan membuat/membangun jutaan tandon-tandon air hujan di seluruh nusantara; untuk melengkapi dan mengoptilakan upaya yang sedang berjalan tersebut di atas, namun sekaligus dapat menyerap tenaga kerja secara padat karya bagi penduduk yang terdampak pandemi Covid 19.






    Oleh: Admin

    2 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 621 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).