#SeninCoaching: Sloth, Wabah Penyakit Organisasi - Analisa - www.indonesiana.id
x

Mohamad Cholid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • #SeninCoaching: Sloth, Wabah Penyakit Organisasi

    Dibaca : 523 kali

    #Leadership Growth: Sloth Kills You

     

    Mohamad Cholid

    Practicing Certified Executive and Leadership Coach

     

    Di hutan-hutan tropis Amerika Tengah dan Selatan, Anda bisa mendapati sloths bergelantungan di pohon (arboreal), tiduran di dahan, atau sedang melata dan bergerak sangat pelan di tanah. Sloths adalah mamalia primitif yang menjalani hidup dengan gerakan sangat lamban.

    Dalam sejarah peradaban manusia sejak ratusan tahun silam, pemakaian kata sloth merujuk pada kelompok manusia yang berperilaku sangat malas. Saint Thomas Aquinas, filsuf dan theolog Italia (meninggal Maret 1274), dalam Summa Theologica mendefinisikan sloth sebagai “kenestapaan atas kebaikan spiritual.”

    Menurut Thomas Aquinas, sloth merupakan "sluggishness of the mind which neglects to begin good... [it] is evil in its effect, if it so oppresses man as to draw him away entirely from good deeds.” Dalam tradisi Katolik, sloth merupakan salah satu dari “the seven deadly sins”.

    Anda bisa bayangkan, manusia macam mana kok justru merasa menderita, sorrow, untuk melakukan kebaikan dalam hidup. Bahkan menganggap kerja sebagai beban.

    Gambarannya, sebagaimana kita bisa amati di kantor-kantor swasta, organisasi nonprofit, dan lembaga pemerintahan, berapa persen dari para karyawan dan mungkin juga pimpinan institusi yang memusatkan perhatian penuh, fokus, menyelesaikan tugas masing-masing pada jam-jam kerja di organisasi mereka?

    Sementara itu, berapa banyak dari mereka selingkuh di jam-jam kerja untuk melakukan kegiatan di luar tugas – seperti buka sosial media, aktif ber-WhatsApp di luar urusan kerjaan, dan bahkan membuka-buka YouTube mencari hiburan? Kemalasan bukan hanya tidur-tiduran seperti sloths itu kan? Menunda-nunda menyelesaikan pekerjaan sepertinya juga masuk ketegori sloth.

    Kondisi itu dapat terlihat di hasil survei Gallup, yang menyebutkan tingkat engagement karyawan di dunia ini rendah, sekitar 15%. Kenyataan ini bisa jadi akibat atasan mereka belum tahu dan kurang perduli pada potensi mereka, sehingga belum dioptimalkan, dilatih, untuk menyelesaikan tugas-tugas di divisi.

    Bisa juga akibat para karyawan yang terkena gejala sloth tersebut kurang berinisiatif meng-engage-kan diri, hanya menunggu program-program pelatihan upaya meningkatkan engagement yang dibuat perusahaan. Mereka pasif.

    “… the cardinal sin of sloth along with feeling of sorrow is manifested by an avowed aversion to work,” kata Dr. Steven Berglas, yang pernah 25 tahun lebih menjadi a faculty member Harvard School’s Department of Psychiatry dan belakangan berpraktik sebagai coach dan konsultan para eksekutif.

    Menurut perspektif Islam, malas bekerja atau melambatkan proses merampungkan pekerjaan atau menunda-nunda melaksanakan tugas yang bermanfaat bagi banyak orang, juga bisa dianggap mengingkari rahmat Tuhan.   

    Kalangan Muslim, atau orang-orang yang meyakini dirinya beragama Islam, sesungguhnya sudah diingatkan betapa manusia telah diciptakan istimewa, sebagaimana tertulis dalam sejumlah ayat di Al Qur’an, satu di antaranya, “Demi langit serta pembinaannya, demi bumi serta penghamparannya, dan demi jiwa serta penyempurnaannya lalu Allah mengilhaminya kedurhakaan dan ketakwaannya.” (Asy-Syam [91]: 5 – 8).

    Menurut para ulama, ukuran ketakwaan seseorang antara lain terlihat bagaimana dia menggunakan waktu untuk kebaikan dirinya, bermanfaat bagi keluarga dan organisasi (perusahaan), dan memberikan positive impact bagi masyarakat. Interpretasinya, seseorang yang masuk kategori sloth sama saja dengan meremehkan diri sendiri hidup tanpa kemuliaan -- kalau tidak mau disebut memilih jalan kedurhakaan (menyangkal keistimewaan dari Tuhan).

    Diperlukan upaya sungguh-sungguh agar berhasll hijrah (fisik dan batin) untuk bertransformasi meraih derajat lebih baik. Penegasannya antara lain melalui ayat ini “…Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri …” (Ar-Ra’d [13]: 11).

    Itu perlu action, kerja nyata, bukan pencitraan. Kata amal/pekerjaan digunakan oleh Al-Quran untuk menggambarkan penggunaan daya manusia – daya pikir, fisik, kalbu, dan daya hidup, kata Dr. M. Quraish Shihab (Tafsir Al Misbah).

    Meningkatkan kompetensi, berubah menjadi pribadi baru yang lebih baik dan bekerja efektif tentunya memerlukan “penggunaan daya manusia” tersebut.

    Anda tentunya setuju, untuk meningkatkan kompetensi, bekerja lebih efektif, mustahil dicapai kalau seseorang berperilaku sloth – yang menurut Dr. Steven Berglas merupakan “a habitual disinclination to exertion; laziness”.

    Bagi sebagian orang, bekerja lebih efektif merupakan tentang bagaimana melawan diri sendiri dan menang.

    Tujuan Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching (MGSCC) menerapkan tiga virtues (kebajikan) -- courage (berani keluar dari zona nyaman, merambah wilayah pemikiran dan praktik kerja baru), humility (rendah hati mengakui perlu pertolongan dari stakeholder), dan discipline (melakukan follow up dan selalu mengasah tingkat efektivitas diri) -- adalah membantu para eksekutif menang melawan diri sendiri, sehinga dapat berperilaku lebih efektif. Memimpin tim meraih goal secara terukur dan sistematis. Meningkatkan akuntabilitas diri dan tim.

    Para eksekutif dan leader yang sudah mempraktikkan ketiga kebajikan tersebut di kehidupan mereka, umumnya dapat mengatakan betapa spiritually enriching prosesnya. Atau, menurut seorang vice president dari sebuah grup bisnis besar, merupakan soul searching yang membahagiakan. Agama-agama besar di dunia ini selalu menghormati manusia yang bekerja dengan sungguh-sungguh, berintegritas, dan akuntabel.

     

    Mohamad Cholid  adalah Head Coach di Next Stage Coaching.

    n  Certified Executive Coach at Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching

    n  Certified Marshall Goldsmith Global Leadership Assessment

    Alumnus The International Academy for Leadership, Jerman

    (http://id.linkedin.com/in/mohamad-cholid-694b1528)

    (https://sccoaching.com/coach/mcholid1)

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.








    Oleh: Salsabila Zulfani

    2 hari lalu

    Covid-19, Membuat Tugas Auditor Menjadi Sulit?

    Dibaca : 123 kali

    Covid 19 adalah virus yang menyerang sisem pernapasan. Virus corona dapat menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru berat hingga kematian. Pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Virus ini menular dengan cepat dan telah menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Hampir setiap hari ribuan bahkan ratusan korban infeksi virus corona meregang nyawa. Perekonomian negara terganggu bahkan banyak perusahaan yang harus mengurangi pegawai supaya tidak bangkrut. Dampak Covid 19 ini memang cukup banyak bagi negara terdampak. Lalu bagaimana dengan negara Indonesia?. Indonesia sudah berusaha sedemikian rupa untuk mencegah penularan virus Covid 19 ini,hingga pemerintah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB ). Bekerja dan belajar dari rumah, hal ini mungkin tidak terlalu sulit sebab teknologi yang semakin canggih di masa sekarang ini. Lalu bagaimana dengan profesi yang harus bekerja turun lapang atau outdoor? Auditor misalnya?. Auditor harus menyambangi perusahaan klien sehingga dapat dengan mudah mengamati sistem pada perusahaan klien. Mengamati bagaimana SOP atau bagan alur setiap kegiatan perusahaan, seperti penjualan, pembelian dan aliran kasnya. Bagaimana auditor harus bekerja dari jarak jauh?. Strategi bagi auditor yang harus bekerja jarak jauh meliputi perencanaan audit, pemeriksaan/pengkajian dokumen, kerja lapangan/melakukan pengamatan, wawancara terhadap pihak yang terkait, dan pertemuan penutupan. Berikut penjelasan singkatnya. Perencanaan Perencanaan audit merupakan hal yang sangat penting di setiap pengauditan. Namun hal ini akan sulit jika pihak klien ada di lokasi yang jauh ataupun sulit terjangkau ( terpencil ). Sementara tahap perencanaan audit ini harus dibahas dengan klien. Informasi yang dapat dibahas dalam tahap ini adalah ruang lingkup perusahaan serta perncanaan jadwal kapan kegiatan audit akan di mulai, tak lupa memberi informasi kepada klien mengenai keterbatasan perihal proses kegiatan audit jarak jauh ini. Serta info apa saja yang akan dibagikan dan dengan tunjangan media atau teknologi apa yang digunakan. Berdasarkan kebutuhan diatas, auditor dapat menghabiskan waktu dua kali lebih banyak guna membahas perencanaan ini. Teknologi yang dapat digunakan dalam hal ini seperti vidio conference dan powerPoint untuk menyampaikan informasi/materi atau dapat menggunakan panduan visual lainnya. Pemeriksaan/Pengkajian Dokumen Pemeriksaan/pengkajian dokumen dari jarak jauh akan memakan waktu cukup banyak serta tak luput dari keterbatasan. Dalam hal ini auditor harus mampu menerima dokumen dalam bentuk/format apapun yang paling mudah diperoleh oleh klien sehingga dapat meminimalisir beban yang ada. Pertimbangan terkait aksesibilitas sistem file digital yang digunakan klien untuk menyimpan rekaman catatan tersebut harus diberikan. Pertimbangan strategi audit yang baik dan tepat juga harus dipikirkan oleh auditor untuk pemeriksaan ataupun pengkajian dokumen, pengambilan sampel dapat menjadi alternatif terbaik. Tergantung pada jumlah rekaman catatan yang ada. Terlepas apakah auditor memeriksa semua atau sebagian dari data yang tersedia. Tidak seperti pemeriksaan/pengkajian rekaman catatan di lokasi, pemeriksaan/pengkajian dokumen dari jarak jauh biasanya tidak memungkinkan untuk memberikan pertanyaan langsung pada saat yang sama. Auditor harus mencatat ataupun menulis hal-hal yang patut dipertanyakan pada klien saat melakukan proses pemeriksaan/pengkajian dokumen, dan dapat ditanyakan saat wawancara jarak jauh. Kerja Lapangan/Pengamatan Hal ini mungkin akan menjadi hal yang cukup sulit bagi audit jarak jauh, pasalnya hal ini biasanya dilakukan dengan menyambangi perusahaan klien. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan vidio conference ataupun livestreaming. Walaupun tidak terlepas dari kendala-kendala yang ada seperti ketersediaan Wi-Fi, lokasi kerja klien yang berada di tempat terpencil dan kebisingan yang mungkin akan mengganggu proses audit ini. Tidak banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan melakukan observasi jarak jauh. Sebab penayangan vidio hanya pada satu titik dan auditor akan kesulitan untuk melakukan pengamatan. Alternatif lain yang dapat diambil adalah dengan foto digital yang dapat diambil dari smartphone milik klien ataupun milik perusahaan. Hal ini dapat menimalisir kendala jaringan yang tidak memungkinkan melakukan vidio conference. Dari hasil pengamatan, audit dapat membuat catatan dan menyiapkan pertanyaan. Wawancara Terhadap Pihak yang Terkait Dalam hal ini mungkin tidak jauh beda dengan wawancara langsung, hanya perlu media penghubung seperti panggilan vidio ataupun semacamnya misalnya Google Meet, Skype dan Zoom. Auditor perlu melakukan perencanaan wawancara seperti berapa lama waktu yang diperlukan dan kepada siapa saja pihak yang perlu diwawancarai. Misalnya dengan penanggung jawab kegiatan, pemegang keluar dan masuknya kas ( kasir ), bagian gudang, penerimaan barang, dan personil lain yang bertanggung jawab dalam mendukung fokus audit. Persiapan wawancara jarak jauh membutuhkan waktu tambahan bagi auditor, serta auditor harus siap dengan daftar pertanyaan dan hal-hal terkait informasi tambahan apa saja yang dibutuhkan berdasarkan pengamatan yang dilakukan sebelumnya. Keterbatasan wawancara jarak jauh ini juga dapat terjadi ketika personil yang diwawancarai merasa canggung, gugup atau tidak nyaman dengan panggilan vidio oleh sebab itu, pemilihan kata dan penempatan intonasi yang bagus dan tepat akan dapat membuat wawancara menjadi tidak tegang. Pertemuan Penutupan Pertemuan penutupan audit jarak jauh memiliki konsep yang sama dengan pertemuan penutupan secara langsung, mungkin memang memerlukan media penghubung. Penjadwalan penutupan ini harus dipertimbangkan oleh auditor, minimal dua hari setelah melakukan wawancara. Sehingga auditor dapat mengkaji kembali catatannya dan menyusun rancangan awal hasil audit. Pertemuan penutupan ini dimaksudkan untuk mrmpresentasikan rancangan awal hasil audit kepada klien, menyelesaikan pertanyaan/permasalahan serta melakukan pembahasan lebih lanjut untuk hasil final audit, yaitu opini dari auditor. Kesimpulan yang dapat di ambil ialah penggunaan teknologi secara praktis. Inovasi dan transformasi teknologi menjadi fokus bisnis serta progam audit di seluruh dunia. Saat ini adalah saat yang tepat untuk mengkomunikasikan lebih lanjut mengenai proses audit jarak jauh. Terdapat beberapa teknologi berkembang yang dapat menunjang kegiatan tersebut antara lain vidio livestreaming, Virtual Reality ( VR ), pesawat tak berawak ( drone ) dan lainnya. Namun semua teknologi pastilah diperlukan biaya tambahan yang mungkin malah mengakibatkan auditor merugi. Jadi pilihlah teknologi yang sesuai dengan bayaran yang diterima. Proses audit jarak jauh bukanlah satu-satunya solusi yang tepat untuk semua masalah. Hal ini bukan pula sebagai pengganti pelaksanaan audit secara langsung. Namun sebagai bagian dari alternatif yang dapat dilakukan di masa pandemi ini.