Vietnam dan Thailand Level Asia, Kapan Indonesia Menyusul? - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

Ahmad Syaiful Bahri

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Olah Raga
  • Berita Utama
  • Vietnam dan Thailand Level Asia, Kapan Indonesia Menyusul?

    Dibaca : 2.097 kali

    Semua sepakat, sepak bola Thailand dan Vietnam kini status mereka bukan lagi raja Asia Tenggara, terlalu kecil bagi mereka, karena status mereka sudah masuk level Asia, seperti kelolosan mereka ke piala Asia 2020 di Thailand. 

    Walaupun jadi tuan rumah dan otomatis lolos, Thailand tidak mengendurkan permainan dan pemain yang tampil. terbukti mereka menghajar Indonesia 4-0.

    Dengan bakat, teknik serta skill yang dimiliki pemain sepak bola asal Thailand dan Vietnam, tidak sulit bagi mereka menguasai persepak bolaan Asia Tenggara dan menjadi raja di wilayah ini.

    Kini, dengan status yang sudah lama disandang tim gajah perang sebagai raja Asia Tenggara tersebut, level Thailand bukan lagi di Asia Tenggara. Melainkan Asia, mengikuti Jepang dan Korea Selatan yang sudah lebih dulu superior di kawasan Asia.

    Ada banyak hal yang melatar belakangi mengapa Thailand kini superior, mereka bisa mengimbangi tim-tim mapan di Asia, terbaru bahkan mereka mengalahkan China 1-0 di ajang China Cup, Jum’at, (22/3/2019).

    Mengingat level mereka yang sudah naik kelas di Asia, mereka sudah tidak lagi mempermasalahkan jika gagal di Asia Tenggara. Seperti kegagalan mereka meraih juara Piala AFF U-22 yang dikalahkan Indonesia dengan skor 2-1. Toh mereka juga tidak menurunkan pemain terbaik, tetap saja kekuatan mereka begitu menakutkan walaupun tidak diperkuat Kevin Duromram, Supachai Jaided, dkk.

    Terbukti ketika tim gajah perang tersebut turun dengan kekuatan penuh, timnas U-23 Indonesia hancur lebur digelontor 4 gol tanpa balas ke gawang Awan Setho ketika kualifikasi Piala Asia U-23 yang dilangsungkan di Vietnam, Jum’at, (22/3/2019).

    Mengapa Thailand begitu kuat di sepak bola, talenta mereka tidak pernah habis, bahkan ketika Chanatip Songkrasin dan Teerasil Dangda belum pensiun, sudah ada penerus di dalam diri Supachai Jaided, dkk.

    Lalu apakah ada faktor non teknis baik di Liga Thailand maupun Vietnam, mari kita bedah satu persatu:

    1. Liga Thailand lebih tertib dan sehat

    Suka atau tidak suka, jika timnasnya ingin baik, maka kompetisi liga sebagai jantung utama timnas haruslah tertib secara manajerial, tengoklah Liga Primer Thailand yang saat ini bergulir. Jadwal liganya tepat waktu, tidak diundur-undur. Boleh dikatakan, FAT, PSSI nya Thailand ini sangat professional dalam mengelola liga.

    Ternyata kedua hal tersebut, liganya tertib dan sehat sangat berpengaruh pada kualitas pemain di lapangan, ketika liganya berjalan baik, pemainpun akan sangat menikmati profesinya sebagai pemain sepak bola. Hal terpenting lainnya adalah liga Thailand lebih sehat, baik dari sisi keuangan maupun manajemen, lihat bagusnya stadion-stadion di Thailand yang mirip stadion di Inggris, sebut saja markas Buriram United, Bangkok Glass, maupun Muangthong United.

    2. Adanya pembinaan usia dini di Klub

    Thailand sudah lebih mendahului Indonesia soal pembinaan usia dini, mereka sadar betul jika tunas-tunas baru akan muncul menjadi bintang jika diarahkan secara benar. Pemain-pemain muda yang muncul bukan dari Sekolah Sepak Bola (SSB) seperti di Indonesia, melainkan dari sistem dan iklim yang berjenjang di klub.

    Mental mereka sudah terasah sejak menjadi pemain usia dini, liga usia dini di Thailand juga dikelola secara profesional. Sehingga ketika pemain muda sudah matang, tidak kesulitan ketika dipromosikan ke tim senior atau pemain Timnas.

    3. FAT gandeng FIFA

    Federasi sepak bola Thailand menggandeng FIFA dalam pengembangan pemain muda, mulai dari sistem pelatihan, modul, lapangan, standar stadion sampai ke hal-hal kecil seperti urusan gizi pemain.

    Bahkan, untuk melengkapi proyek ambisiusnya ini, FAT membangun training camp, lengkap dengan stadion bermain dan stadion berlatih.

    4. Klub Thailand bermain di Liga Champions Asia

    Klub Thailand sudah bisa langsung bermain di liga Champions Asia jika menjadi juara Liga Primer Thailand, hal ini membuktikan Liga Thailand sudah diakui Asia. Hal ini pula membuat pemain Thailand menjadi punya banyak pengalaman di Asia, tengok saja Chanatip Songkrasin dan Teraton Bunmatan yang direkrut klub Jepang ketika bermain apik di Liga Champions Asia.

    5. Manajemen klub yang baik

    Salah satu hal lain yang mungkin berpengaruh pada kualitas pemain Thailand adalah profesionalnya klub pengelola liga Thailand, lihat bagaimana bagusnya jersey mereka, logo klub, hingga sponsor yang tepampang bangga di dada pemain.

    Jika demikian dan Indonesia tidak mau berubah, jangan ngiri, jika suatu saat Thailand dan Vietnam akan menjadi peserta Piala Dunia lebih dulu ketimbang Indonesia. Tidak perlu bersedih, karena Indonesia jalan di tempat. 


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.











    Oleh: Admin

    5 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 1.119 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).