#SeninCoaching: Memimpin Mesti Berani Merengkuh Ombak - Analisa - www.indonesiana.id
x

Mohamad Cholid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • #SeninCoaching: Memimpin Mesti Berani Merengkuh Ombak

    Dibaca : 778 kali

    #Leadership Growth: Care is Your Currency to Win

     

    Mohamad Cholid

    Practicing Certified Executive and Leadership Coach

     

    Biru laut di kejauhan dilihat dari pesisir utara Jawa rasanya mirip punggung deretan ikan lemuru, ikan layang, tenggiri, dan lumba-lumba yang berbaris menuju arah matahari tenggelam. Itu imajinasi saya ketika masih di tahun-tahun awal SD dan sore hari bermain di pantai, empat kilometer dari rumah. Begitu beranjak remaja, gelombang laut yang bergulung-gulung -- yang terlihat di gambar buku-buku tentang lautan -- bagaikan undangan yang sulit ditampik.

    Saat liburan kenaikan kelas dua SMP, saya berhasil ikut kapal penangkap ikan berawak 18 orang. Itu setelah proses izin orang tua, Nenek dan Pak De saya (pemilik kapal, usaha perikanan dan dock beliau didukung oleh lebih dari 20 unit kapal). Mereka mewanti-wanti Jurumudi Malakhim, salah satu nakhoda senior bersertifikat dan handal yang dipercaya keluarga, untuk menjaga saya.

    Saat menyusuri sungai menuju muara, sekitar jam delapan malam, kapal berjalan pelan. Para awak kapal belum sibuk, ada yang merapikan tali, ada yang menikmati kopi hangat dan kepala juru mesin juga masih leluasa bergerak.

    Begitu keluar dari pintu muara dan pelabuhan sudah jauh di belakang, mesin kapal menderu makin keras. Goyangan mulai terasa. Setelah mendekati perairan sekitar Karimun Jawa, lepas tengah malam, kapal seperti loncat dari satu ombak ke ombak berikutnya, sambil disiram gerimis – saat itu saya mulai mabuk laut.

    Ugh, dalam keadaan terhuyung-huyung, saya menyadari, inilah realitas kehidupan di tengah laut di atas kapal kayu dengan panjang total tak lebih dari 25 meter.

    Selama lima malam di lautan, saat labuh jangkar dan langit cerah, tiduran di geladak melihat bulan sabit dan bintang-bintang, terasa nyaman. Ayunan ombak seperti buaian. Sebaliknya saat hujan dan badai, serta ombak makin tinggi, bergerak dari satu sumber ikan ke kawasan hunian ikan yang lain, apalagi malam hari, benar-benar menggetarkan. Pak Malakhim dan semua awak optimal bekerja. Di sini kepiawaian nakhoda dan kekompakan seluruh awak benar-benar diuji.

    Pak Malakhim, sang nakhoda, mengerahkan otoritasnya untuk memimpin operasi, agar penangkapan ikan – yang menggunakan jaring hasil adaptasi teknologi Jepang dipadu dengan pengalaman nelayan lokal -- berhasil baik dan seluruh awak selamat. Ia kelihatan selalu on alert, tegas, sekaligus care.

    Rasanya pantas kita renungkan. Selama hampir sepekan di tengah laut itu, satu kali pun tidak pernah saya dengar dari semua awak ada yang mengeluh. Di tengah ombak yang sering tidak terduga hantamannya dan cuaca kadang tidak ramah, saat-saat jeda dan sauh terpasang menunggu prosesi berikutnya untuk mengepung pusat kerumunan ikan, para awak santai.

    Ada yang tidur, ada yang berkerumun main gaple sambil guyonan membicarakan Raj Kapoor, salah satu aktor top Bollywood, atau filem-filem cowboy yang dibintangi Franco Nero. Sebagian dari mereka saat di darat sering nonton filem di bioskop dekat stasiun kereta api di kota kami. Bagi mereka, ombak yang menghantam keras haluan, angin kencang, dan cuaca yang berubah-ubah, seperti sahabat dekat yang datang dan pergi semaunya.   

    Pengalaman berhari-hari di tengah laut bersama Pak Malakhim dan timnya berdampak besar. Selain masuk sekolah dengan kulit lebih legam karena terpapar matahari di tengah laut, saya memiliki cara pandang berbeda dalam mengatasi serangkaian pembelajaran dan tes di sekolah, sehingga naik ke kelas tiga terseleksi masuk kelas unggulan tanpa sama sekali ikut les tambahan.

    Menjadi peserta dalam pergulatan nelayan mengatasi badai, ombak, dan ketidakpastian arus di laut, dengan tetap membawa hasil tangkapan sekian kuintal ikan segar, merupakan latihan kepemimpinan dasar yang sangat berharga. Maka, di musim yang lain, saya sempatkan ikut mereka lagi.

    Ketika kemudian aktif dalam kepramukaan, pencinta alam, kegiatan naik gunung, dan sempat menemani Dubes AS (waktu itu) Paul Wolfowitz mendaki Gunung Merapi dan turun ke kawasan kawah bersama ahli geologi AS, pengalaman bersama Pak Malakhim, sang nakhoda, dkk., mendapatkan pengayaan. Pengembangannya secara lebih terstruktur terbentuk setelah memimpin perusahaan investasi asing dan melalui sederet re-edukasi di manca negara.

    Proses panjang penggemblengan kepemimpinan tersebut dapat dipilah dalam sejumlah bab cerita. Salah satunya tampak fit dengan perspektif Alden Mills, mantan (tiga kali) komandan peleton di US Navy SEAL dan founder Perfect Fitness.

    Sukses hampir tidak pernah tergantung pada bakat dan keberanian individu, kata Alden. Tapi bergantung pada keberhasilan membangun fondasi yang kuat pada diri Anda sendiri dan menggunakan pijakan tersebut untuk membantu orang lain bergerak melampaui tujuan dan bakat pribadi masing-masing, meraih sesuatu yang lebih besar dan lebih istimewa.

    Kuncinya adalah care each other. Menurut Alden, kepanjangan CARE adalah: Connect (tentang membangun kepercayaan); Achieve (menetapkan tujuan), Respect (membangun lingkungan yang menyemangati tim saling memberi kontribusi); Empower (mengembangkan rasa memiliki, ownership).

    Berdasarkan pengalamannya membangun tim di Navy SEAL dan sebagai pengusaha, Alden Mills kemudian menulis buku Unstoppable Teams: The Four Essential Actions of High-Performance Leadership (2019).

    Realitas di organisasi-organisasi bisnis dan nonprofit, termasuk di institusi pemerintah, tim selalu terbentuk dari orang-orang dengan pelbagai latar belakang budaya, pendidikan, pelatihan, pola pikir, dan nilai-nilai yang berbeda. Interkoneksi antara pribadi-pribadi dengan latar belakang bervariasi tersebut perlu dikelola dengan cerdas. Ini tantangan besar bagi para leader.

    Kondisi organisasi zaman sekarang bisa dilihat kemiripannya antara lain pada kapal-kapal peserta yacht racing. Kru setiap yacht sering terdiri dari orang-orang berkebangsaan beda, tingkat usia bervariasi, dan pengalaman juga tidak sama.

    Tapi ketika kapal sudah melaju 30 knots mengarungi laut, dengan ombak yang sering mengempas membasahi geladak, semua anggota tim mengerjakan fungsi masing-masing dan siap saling mendukung. Mereka menjaga keseimbangan kapal untuk terus melaju, kalau bisa 40 knots. Tidak ada seorang pun tanpa kegiatan, apalagi mengeluh atau menyalahkan angin dan ombak besar. Dengan prinsip, nilai-nilai pribadi, dan fondasi jiwa masing-masing, seluruh anggota tim berpegang pada tujuan sama, yaitu memenangi lomba dengan tim selamat.

    Nakhoda Malakhim, berpegang pada kompas di depan kemudi, pengalaman, dan ketajaman intuisi, serta care pada semua awak, berhasil mengatasi ombak dan badai. Kapal yang dinakhodainya pulang dengan palka penuh ikan segar. Itu beberapa puluh tahun silam. Belum ada teknologi canggih sebagaimana kapal-kapal nelayan hari ini yang sudah dilengkapi sarana GPS dan radio komunikasi.   

    Kalau hari ini di antara Anda ada eksekutif yang selalu cerita pencapaian masa lalu dan bangga pada jabatannya, tapi saat diajak bekerja lebih efektif, dan memimpin tim dengan lebih care, selalu ada excuses -- antara lain menyalahkan struktur organisasi yang belum mendukung – sebaiknya diajak bercermin ulang.

    Kenyataannya masih ada saja orang-orang yang menurut diri sendiri sudah berkontribusi signifikan pada organisasi, setelah dicek ke atasan, peers, dan tim mereka -- sesuai praktik kami di Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching -- para eksekutif itu ternyata dipersepsikan belum efektif kerjanya. Masih terombang-ambing di tengah gelombang sukses masa lalu dan ilusi jabatan.

     

    Mohamad Cholid  adalah Head Coach di Next Stage Coaching.

    n  Certified Executive Coach at Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching

    n  Certified Marshall Goldsmith Global Leadership Assessment

    Alumnus The International Academy for Leadership, Jerman

    (http://id.linkedin.com/in/mohamad-cholid-694b1528)

    (https://sccoaching.com/coach/mcholid1)

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.










    Oleh: Napitupulu Na07

    3 hari lalu

    Bangun Jutaan Tandon Air Hujan-Padat Karya Tunai, untuk Menambah Cadangan Air Kemarau dan Mengurangi Banjir, serta Dampak Covid 19

    Dibaca : 153 kali

    Pembangunan yang terlalu mengejar pertumbuhan ekonomi berakibat terjadinya alih fungsi hutan dan ruang terbuka hijau secara masif menjadi: perkotaan, permukiman, areal industri, perkebunan sawit, kawasan pertambangan minerba dan galian C, berbagai sarana transportasi, perladangan berpindah dan lahan gundul kritis terlantar; telah berujung terjadinya banjir-banjir besar di musim hujan,diikuti kekeringan dan kelangkaan air di musim kemarau, serta air kotor / tercemar oleh limbah cair dan sampah yang menyumbat sungai dan drainase sepanjang tahun. Mengatasi masalah ini sekarang pemerintah sedang giat-giatnya membangun banyak bendungan/waduk banjir dan serbaguna bersamaan dengan merehabilitasi hutan dan konservasi lahan (gerhan). Namun upaya gerhan dan bangun waduk-waduk tersebut belum optimal menurunkan debit puncak banjir DPB) yang membesar/meningkat menjadi 5 (lima) kali debit (Q) sebelum alih fungsi tata guna tanah. Untuk mengantisipasi dampak alih fungsi tata guna lahan ini peraturan perundang-undangan terkait Penataan Ruang telah memuat persyaratan prinsip Zero Delta Q (Pertambahan Debit Nol). Tulisan ini menguraikan pentingya menerapkan prinsip Pertambahan Debit Nol ini dengan membuat/membangun jutaan tandon-tandon air hujan di seluruh nusantara; untuk melengkapi dan mengoptilakan upaya yang sedang berjalan tersebut di atas, namun sekaligus dapat menyerap tenaga kerja secara padat karya bagi penduduk yang terdampak pandemi Covid 19.






    Oleh: Admin

    2 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 617 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).