#SeninCoaching: 4 Pertanyaan untuk Kandidat Pemimpin - Analisa - www.indonesiana.id
x

Mohamad Cholid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • #SeninCoaching: 4 Pertanyaan untuk Kandidat Pemimpin

    Dibaca : 20.991 kali

    #Leadership Growth: Leading Like Marcus Aurelius?

     

    Mohamad Cholid

    Practicing Certified Executive and Leadership Coach

     

    “Waste no more time arguing about what a good man should be. Be one.” -- Marcus Aurelius

     

    Memimpin bisa merupakan proses perjalanan intelektual dan spiritual, di antaranya bagi Marcus Aurelius, salah seorang Kaisar Roma yang dikenal sebagai filsuf juga. Marcus Aurelius adalah satu dari yang disebut Five Good Emperor, para kaisar yang menegakkan sistem suksesi kepemimpinan berdasarkan seleksi atas kemampuan kandidat. Pemilihan kaisar dengan cara ini telah mencegah perang saudara selama hampir 100 tahun.

    Marcus Aurelius dalam kepemimpinan dan kehidupan sehari-hari tercatat dalam sejarah telah mempraktikkan stoicism, bagian dari ajaran filsafat Hellenistic. Stoicism dirintis oleh Zeno of Citium di Athena awal Abad ke-3 Sebelum Masehi. Filosofi ini menekankan kebajikan pada behavior, bukan kata-kata.

    Ajarannya mengingatkan kita bahwa kehidupan yang kita jalani hanya sebentar dan betapa di dunia ini banyak hal tak terduga. Intinya bagaimana action, bertindak nyata secara bijak. Stoicism tidak perduli pada teori-teori pelik tentang dunia, tapi mengutamakan pada bagaimana membantu kita bertindak tepat, selamat dari jebakan membiarkan emosi destruktif; bukan memperpanjang debat.

    Meditations, buku catatan harian kepemimpinan Marcus Aurelius selama mengelola kekaisaran Roma, ketika memimpin pasukan mengatasi pemberontakan di pelbagai wilayah, dan saat menghadapi gejolak politik di dalam negeri, tahun 2018 kemarin telah diterbitkan ulang.

    Buku tersebut barangkali relevan dengan zaman. Belakangan ini sebagian pemimpin punya kecenderungan bertindak (diindikasikan) tanpa ada pemikiran mendalam sebelumnya untuk mendukung tindakan tersebut. Bahkan ada yang kebetulan berada di level kepemimpinan nasional enak saja melemparkan makian atau kata-kata kasar lainnya di depan publik. Satu di antaranya Presiden Trump.

    Dalam realitas sekarang, ketika interaksi fisik dan nonfisik antar bangsa sudah makin pelik, memilih calon pemimpin organisasi (bisnis dan nonprofit), sampai ke level kepemimpinan negara, perlu perspektif baru. Ada empat pertanyaan mendasar yang perlu diajukan untuk menguji kelayakan seorang kandidat – pertanyaan-pertanyaan ini disarikan dari hasil survei dengan responden 200 organisasi multinasional plus sejumlah lembaga pemerintahan di enam benua (disponsori Accenture).

    Pertanyaan pertama, apa saja langkah calon pemimpin yang akan kita pilih mengupayakan keberhasilan organisasi atau institusi yang dikelolanya? Termasuk dalam pertanyaan ini adalah bagaimana kemampuannya memimpin proses kerja dan eksekusi; penggunaan teknologi (untuk kemajuan bersama atau digunakannya untuk manipulasi pencitraan); ketulusannya mengabdi pada para pemangku kepentingan; dan kesungguhan meningkatkan keunggulan kompetitif.

    Pertanyaan kedua, bagaimana seorang kandidat menyikapi perubahan? Termasuk di dalamnya adalah kemampuan seorang pemimpin mengantisipasi peluang di tengah arus perubahan tatanan ekonomi, sosial, dan politik global.

    Pertanyaan ketiga, apa saja buktinya tuan/puan (calon) pemimpin mampu mengelola perbedaan, keragaman anggota tim, dan diversity para pemangku kepentingan? Kalau seseorang yang mengaku sanggup memimpin hanya perduli pada satu golongan pemangku kepentingan saja, perlu dipertanyakan kehandalannya membangun persatuan dan mengelola realitas institusi atau suatu wilayah negara yang didukung oleh manusia-manusia dengan segala perbedaannya (tingkat kecerdasan, keyakinan, kemampuan ekonomi, etc).

    Pertanyaan keempat, bagaimana caranya berkomunikasi? Dalam interaksi antar manusia, segala hal yang kita lakukan adalah komunikasi. Apakah bahasa tubuh dan ucapan-ucapan (calon) pemimpin memperlihatkan dirinya sebagai sosok dengan integritas tinggi atau hipokrit? Apakah si pemimpin mampu membangun dialog konstruktif dengan para pemangku kepentingan? Apakah dia bisa memberikan clarity untuk visinya dan mengajak para pemangku kepentingan berkembang bersama?

    Untuk para ekskutif dan leader di organisasi-organisasi multinasional atau yang benar-benar siap memenangi kompetisi global, di Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching (MGSCC) kami mempraktikkan Global Leadership Assessment (GLA). Mengukur secara holistik, lebih menukik lagi dibanding empat pertanyaan dasar tersebut di atas, terhadap kompetensi kepemimpinan setiap eksekutif dalam menyikapi globalisasi. Agar dapat action lebih bertanggungjawab dan reliable.

     

    Mohamad Cholid  adalah Head Coach di Next Stage Coaching.

    n  Certified Executive Coach at Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching

    n  Certified Marshall Goldsmith Global Leadership Assessment

    Alumnus The International Academy for Leadership, Jerman

    (http://id.linkedin.com/in/mohamad-cholid-694b1528)

    (https://sccoaching.com/coach/mcholid1)

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.










    Oleh: Napitupulu Na07

    3 hari lalu

    Bangun Jutaan Tandon Air Hujan-Padat Karya Tunai, untuk Menambah Cadangan Air Kemarau dan Mengurangi Banjir, serta Dampak Covid 19

    Dibaca : 154 kali

    Pembangunan yang terlalu mengejar pertumbuhan ekonomi berakibat terjadinya alih fungsi hutan dan ruang terbuka hijau secara masif menjadi: perkotaan, permukiman, areal industri, perkebunan sawit, kawasan pertambangan minerba dan galian C, berbagai sarana transportasi, perladangan berpindah dan lahan gundul kritis terlantar; telah berujung terjadinya banjir-banjir besar di musim hujan,diikuti kekeringan dan kelangkaan air di musim kemarau, serta air kotor / tercemar oleh limbah cair dan sampah yang menyumbat sungai dan drainase sepanjang tahun. Mengatasi masalah ini sekarang pemerintah sedang giat-giatnya membangun banyak bendungan/waduk banjir dan serbaguna bersamaan dengan merehabilitasi hutan dan konservasi lahan (gerhan). Namun upaya gerhan dan bangun waduk-waduk tersebut belum optimal menurunkan debit puncak banjir DPB) yang membesar/meningkat menjadi 5 (lima) kali debit (Q) sebelum alih fungsi tata guna tanah. Untuk mengantisipasi dampak alih fungsi tata guna lahan ini peraturan perundang-undangan terkait Penataan Ruang telah memuat persyaratan prinsip Zero Delta Q (Pertambahan Debit Nol). Tulisan ini menguraikan pentingya menerapkan prinsip Pertambahan Debit Nol ini dengan membuat/membangun jutaan tandon-tandon air hujan di seluruh nusantara; untuk melengkapi dan mengoptilakan upaya yang sedang berjalan tersebut di atas, namun sekaligus dapat menyerap tenaga kerja secara padat karya bagi penduduk yang terdampak pandemi Covid 19.






    Oleh: Admin

    2 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 619 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).