Melepaskan Diri dari Jerat Adiktif Kantong Plastik - Analisa - www.indonesiana.id
x

kantong plastik

Dewa Made

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Melepaskan Diri dari Jerat Adiktif Kantong Plastik

    Dibaca : 1.316 kali

    Sesaat sebelum ke Jakarta, seperti biasa saya mampir ke toko oleh-oleh langganan di Kawasan Kuta. Toko ini sering saya kunjungi karena dekat dengan bandara dan menyediakan berbagai macam makanan olahan hasil UKM Bali dengan harga yang terjangkau. Nama toko ini sebut saja Bali Jaya Mart.

     

    Meski sudah terbiasa ke sini, ada yang tidak biasa di Tahun 2019 ini. Setelah selesai memilih barang belanjaan pesanan oleh-oleh rekan kantor, saya membawa belanjaan langsung ke meja kasir, sebagaimana orang belanja pada umumnya. Kasirnya pun mulai menghitung belanjaan saya tanpa beritikad untuk merapikan belanjaan saya. Sampai proses perhitungan belanja selesai dan saya melakukan pembayaran, kasir itu tetap membiarkan barang belanjaan saya berserakan di atas meja. Setelah tertegun beberapa detik, saya sadar bahwa kabar tentang Bali mulai melarang penggunaan kantong plastik memang benar adanya. Dengan wajah kalem, saya tersenyum ke arah kasir dan mulai mencicil untuk memasukkan barang belanjaan ke dalam tas ransel -syukurnya masih muat.

     

    Kabar larangan penggunaan kantong plastik ini sebenarnya tidak saya ketahui dari media, melainkan dari obrolan ibu-ibu di kampung saya. Para ibu tersebut heboh manakala pedagang di pasar mulai membatasi penggunaan kantong plastik. Mereka pun membahas dengan serius tas serbaguna yang mesti disiapkan ketika ke pasar. Dan begitulah, mereka saling mengingatkan satu sama lain saat hendak ke pasar.

     

    Bali sejatinya telah memulai pembatasan penggunaan kantong plastik ini sejak akhir 2018. Aturan ini rencananya berlaku secara penuh sekitar Juni 2019. Di balik itu, tersirat pesimis di benak saya. Mungkinkah Bali bisa lepas dari jerat kantong plastik hanya dalam 6 bulan? Berkaca pada pengalaman retorika di kota metropolitan, gubernur segalak Ahok pun tidak mampu menekan penggunaan kantong plastik. Saat Ahok menjabat, sempat muncul wacana agar ritel membebankan biaya kantong plastik hingga Rp 5.000 ke konsumen. Namun dalam perkembangannya, biaya tersebut kemudian turun menjadi Rp 500 hingga akhirnya, gratis kembali. Saya tidak tahu persis apa yang mengganjal aturan tersebut. Padahal tahap sosialisasi telah dimulai. Saya pun sempat berangan-angan untuk menyiapkan tas serba guna saat ke mini market, tapi pupus kembali.

     

    Tapi semangat di Jakarta ini nampaknya berbeda dengan Bali. Aturan mengenai larangan penggunaaan kantong plastik ternyata lebih cepat menyebar dan menjadi perbincangan warga hingga ke pelosok-pelosok Bali. Perbandingannya, kampung saya yang letaknya di pedalaman Bali saja, telihat menggeliat untuk mendukung larangan ini tanpa basa-basi. Mungkin karena karakteristik warga Bali tidak seheterogen di Jakarta yang dihuni berbagai kalangan.

     

    Yang kemudian menjadi pertanyaan, sejauh mana pemerintah Bali menyiapkan solusi alternatif pengganti kantong plastik ini. Faktanya, warga Bali sendiri sudah banyak yang meninggalkan kehidupan agraris mereka. Pemerintah Bali seolah ingin mebangunkan romansa bungkusan dedaunan hijau sebagai pengganti plastik. Romansa Bali yang ramah lingkungan dan selaras dengan alam. Tapi semoga kita tidak lupa kalau produksi daun pisang -atau dedaunan yang lain- tidak semasif dulu akibat jumlah petani yang kian berkurang dan alih fungsi lahan yang meningkat. Wong sekarang warga Bali sudah banyak yang lebih memilih untuk berdasi dibading pegang cangkul.

     

    Saya belum tahu pasti bagaimana para penjual jajanan tradisional di Bali yang biasa menggunakan kantong plastik kemudian beralih ke bungkusan yang lebih ramah lingkungan. Lalu apakah ini akan mempengaruhi biaya operasional mereka karena sulit mendapatkan daun pisang. Saya jelas keberatan jika harga jajanan jadi naik karena mengikuti aturan kantong plastik sementara gaji saya belum naik-naik dan terus tergerus inflasi -curhat.

     

    Saya tentu berharap aturan ini tidak sekadar populis tapi memang benar-benar dilakukan dengan tulus dan tegas. Aturan ini juga sebaiknya tidak hanya ditekankan pada konsumen, tetapi juga bagi produsen kantong plastik. Edukasi soal bahaya plastik harus terus digencarkan. Momentum pembatasan kantong plastik juga kian pas akhir-akhir ini. Terutama setelah ditemukan bangkai hewan-hewan laut yang mengkonsumsi plastik. Bahkan sampah plastik bungkus indomie yang beredar 19 tahun lalu pun menjadi viral karena tidak rusak sama sekali. Ini berarti bahaya plastik kian disadari masyarakat.

     

    Jika pada akhirnya, Bali mampu menyetop penggunaan kantong plastik pada Juni 2019 maka selanjutnya tentu ada PR besar bagaimana membatasi peredaran produk berbungkus plastik. Apabila hanya berhenti pada kantong plastik, akan jadi menggelikan ketika saya membawa tas rotan ke mini market tetapi pulangnya berisikan penuh dengan produk berbungkus plastik. Ini sama menggelikannya ketika saya berbelanja di McD yang berhenti menyediakan sedotan plastik atas alasan lingkungan, namun masih rutin dan masif menggunakan gelas plastik.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.








    Oleh: Salsabila Zulfani

    1 hari lalu

    Covid-19, Membuat Tugas Auditor Menjadi Sulit?

    Dibaca : 122 kali

    Covid 19 adalah virus yang menyerang sisem pernapasan. Virus corona dapat menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru berat hingga kematian. Pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Virus ini menular dengan cepat dan telah menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Hampir setiap hari ribuan bahkan ratusan korban infeksi virus corona meregang nyawa. Perekonomian negara terganggu bahkan banyak perusahaan yang harus mengurangi pegawai supaya tidak bangkrut. Dampak Covid 19 ini memang cukup banyak bagi negara terdampak. Lalu bagaimana dengan negara Indonesia?. Indonesia sudah berusaha sedemikian rupa untuk mencegah penularan virus Covid 19 ini,hingga pemerintah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB ). Bekerja dan belajar dari rumah, hal ini mungkin tidak terlalu sulit sebab teknologi yang semakin canggih di masa sekarang ini. Lalu bagaimana dengan profesi yang harus bekerja turun lapang atau outdoor? Auditor misalnya?. Auditor harus menyambangi perusahaan klien sehingga dapat dengan mudah mengamati sistem pada perusahaan klien. Mengamati bagaimana SOP atau bagan alur setiap kegiatan perusahaan, seperti penjualan, pembelian dan aliran kasnya. Bagaimana auditor harus bekerja dari jarak jauh?. Strategi bagi auditor yang harus bekerja jarak jauh meliputi perencanaan audit, pemeriksaan/pengkajian dokumen, kerja lapangan/melakukan pengamatan, wawancara terhadap pihak yang terkait, dan pertemuan penutupan. Berikut penjelasan singkatnya. Perencanaan Perencanaan audit merupakan hal yang sangat penting di setiap pengauditan. Namun hal ini akan sulit jika pihak klien ada di lokasi yang jauh ataupun sulit terjangkau ( terpencil ). Sementara tahap perencanaan audit ini harus dibahas dengan klien. Informasi yang dapat dibahas dalam tahap ini adalah ruang lingkup perusahaan serta perncanaan jadwal kapan kegiatan audit akan di mulai, tak lupa memberi informasi kepada klien mengenai keterbatasan perihal proses kegiatan audit jarak jauh ini. Serta info apa saja yang akan dibagikan dan dengan tunjangan media atau teknologi apa yang digunakan. Berdasarkan kebutuhan diatas, auditor dapat menghabiskan waktu dua kali lebih banyak guna membahas perencanaan ini. Teknologi yang dapat digunakan dalam hal ini seperti vidio conference dan powerPoint untuk menyampaikan informasi/materi atau dapat menggunakan panduan visual lainnya. Pemeriksaan/Pengkajian Dokumen Pemeriksaan/pengkajian dokumen dari jarak jauh akan memakan waktu cukup banyak serta tak luput dari keterbatasan. Dalam hal ini auditor harus mampu menerima dokumen dalam bentuk/format apapun yang paling mudah diperoleh oleh klien sehingga dapat meminimalisir beban yang ada. Pertimbangan terkait aksesibilitas sistem file digital yang digunakan klien untuk menyimpan rekaman catatan tersebut harus diberikan. Pertimbangan strategi audit yang baik dan tepat juga harus dipikirkan oleh auditor untuk pemeriksaan ataupun pengkajian dokumen, pengambilan sampel dapat menjadi alternatif terbaik. Tergantung pada jumlah rekaman catatan yang ada. Terlepas apakah auditor memeriksa semua atau sebagian dari data yang tersedia. Tidak seperti pemeriksaan/pengkajian rekaman catatan di lokasi, pemeriksaan/pengkajian dokumen dari jarak jauh biasanya tidak memungkinkan untuk memberikan pertanyaan langsung pada saat yang sama. Auditor harus mencatat ataupun menulis hal-hal yang patut dipertanyakan pada klien saat melakukan proses pemeriksaan/pengkajian dokumen, dan dapat ditanyakan saat wawancara jarak jauh. Kerja Lapangan/Pengamatan Hal ini mungkin akan menjadi hal yang cukup sulit bagi audit jarak jauh, pasalnya hal ini biasanya dilakukan dengan menyambangi perusahaan klien. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan vidio conference ataupun livestreaming. Walaupun tidak terlepas dari kendala-kendala yang ada seperti ketersediaan Wi-Fi, lokasi kerja klien yang berada di tempat terpencil dan kebisingan yang mungkin akan mengganggu proses audit ini. Tidak banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan melakukan observasi jarak jauh. Sebab penayangan vidio hanya pada satu titik dan auditor akan kesulitan untuk melakukan pengamatan. Alternatif lain yang dapat diambil adalah dengan foto digital yang dapat diambil dari smartphone milik klien ataupun milik perusahaan. Hal ini dapat menimalisir kendala jaringan yang tidak memungkinkan melakukan vidio conference. Dari hasil pengamatan, audit dapat membuat catatan dan menyiapkan pertanyaan. Wawancara Terhadap Pihak yang Terkait Dalam hal ini mungkin tidak jauh beda dengan wawancara langsung, hanya perlu media penghubung seperti panggilan vidio ataupun semacamnya misalnya Google Meet, Skype dan Zoom. Auditor perlu melakukan perencanaan wawancara seperti berapa lama waktu yang diperlukan dan kepada siapa saja pihak yang perlu diwawancarai. Misalnya dengan penanggung jawab kegiatan, pemegang keluar dan masuknya kas ( kasir ), bagian gudang, penerimaan barang, dan personil lain yang bertanggung jawab dalam mendukung fokus audit. Persiapan wawancara jarak jauh membutuhkan waktu tambahan bagi auditor, serta auditor harus siap dengan daftar pertanyaan dan hal-hal terkait informasi tambahan apa saja yang dibutuhkan berdasarkan pengamatan yang dilakukan sebelumnya. Keterbatasan wawancara jarak jauh ini juga dapat terjadi ketika personil yang diwawancarai merasa canggung, gugup atau tidak nyaman dengan panggilan vidio oleh sebab itu, pemilihan kata dan penempatan intonasi yang bagus dan tepat akan dapat membuat wawancara menjadi tidak tegang. Pertemuan Penutupan Pertemuan penutupan audit jarak jauh memiliki konsep yang sama dengan pertemuan penutupan secara langsung, mungkin memang memerlukan media penghubung. Penjadwalan penutupan ini harus dipertimbangkan oleh auditor, minimal dua hari setelah melakukan wawancara. Sehingga auditor dapat mengkaji kembali catatannya dan menyusun rancangan awal hasil audit. Pertemuan penutupan ini dimaksudkan untuk mrmpresentasikan rancangan awal hasil audit kepada klien, menyelesaikan pertanyaan/permasalahan serta melakukan pembahasan lebih lanjut untuk hasil final audit, yaitu opini dari auditor. Kesimpulan yang dapat di ambil ialah penggunaan teknologi secara praktis. Inovasi dan transformasi teknologi menjadi fokus bisnis serta progam audit di seluruh dunia. Saat ini adalah saat yang tepat untuk mengkomunikasikan lebih lanjut mengenai proses audit jarak jauh. Terdapat beberapa teknologi berkembang yang dapat menunjang kegiatan tersebut antara lain vidio livestreaming, Virtual Reality ( VR ), pesawat tak berawak ( drone ) dan lainnya. Namun semua teknologi pastilah diperlukan biaya tambahan yang mungkin malah mengakibatkan auditor merugi. Jadi pilihlah teknologi yang sesuai dengan bayaran yang diterima. Proses audit jarak jauh bukanlah satu-satunya solusi yang tepat untuk semua masalah. Hal ini bukan pula sebagai pengganti pelaksanaan audit secara langsung. Namun sebagai bagian dari alternatif yang dapat dilakukan di masa pandemi ini.