Respon Cepat Babinsa Kodim 0726 Sukoharjo Antisipasi Dampak - Analisa - www.indonesiana.id
x

Nugroho Tatag

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Respon Cepat Babinsa Kodim 0726 Sukoharjo Antisipasi Dampak

    Dibaca : 623 kali

    Berita Kodim Sukoharjo 0726

     

     

    Sukoharjo (16/04/19) Pohon tumbang akibat hujan lebat di beberapa wilayah Sukoharjo (15/04) pukul 16.30 juga menimpa warga dukuh Kwagean RT 02/06 Desa Jetis, Baki Sukoharjo. Pohon tumbang di wilayah desa Jetis tersebut menimpa rumah bapak Pardiman dan Bapak Manteb warga dukuh Kwagean RT 02/06.

     

    Akibat pohon-pohon tumbang tersebut mengakibatkan genteng dan atap rumah rusak. Babinsa desa Jetis Serda Karsono segera melaksanakan temu cepat dan lapor cepat ke Komando atas, yang segera ditindak lanjuti dengan melaksanakan sejumlah pencatatan keterangan saksi korban dan data-data yang diperlukan di TKP.

     

    Berkat Koordinasi yang cepat, segera dilaksanakan penanganan / membantu menyingkirkan pohon yang tumbang oleh BNPB Sukoharjo, Senkom dan warga masyarakat dukuh Kwagean. Menurut laporan Babinsa untuk kerugian personel nihil sementara kerusakan kedua rumah milik pak Pardiman dan pak Mateb ditaksir sekitar 25 juta.  (pen)


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.









    Oleh: Napitupulu Na07

    2 hari lalu

    Bangun Jutaan Tandon Air Hujan-Padat Karya Tunai, untuk Menambah Cadangan Air Kemarau dan Mengurangi Banjir, serta Dampak Covid 19

    Dibaca : 118 kali

    Pembangunan yang terlalu mengejar pertumbuhan ekonomi berakibat terjadinya alih fungsi hutan dan ruang terbuka hijau secara masif menjadi: perkotaan, permukiman, areal industri, perkebunan sawit, kawasan pertambangan minerba dan galian C, berbagai sarana transportasi, perladangan berpindah dan lahan gundul kritis terlantar; telah berujung terjadinya banjir-banjir besar di musim hujan,diikuti kekeringan dan kelangkaan air di musim kemarau, serta air kotor / tercemar oleh limbah cair dan sampah yang menyumbat sungai dan drainase sepanjang tahun. Mengatasi masalah ini sekarang pemerintah sedang giat-giatnya membangun banyak bendungan/waduk banjir dan serbaguna bersamaan dengan merehabilitasi hutan dan konservasi lahan (gerhan). Namun upaya gerhan dan bangun waduk-waduk tersebut belum optimal menurunkan debit puncak banjir DPB) yang membesar/meningkat menjadi 5 (lima) kali debit (Q) sebelum alih fungsi tata guna tanah. Untuk mengantisipasi dampak alih fungsi tata guna lahan ini peraturan perundang-undangan terkait Penataan Ruang telah memuat persyaratan prinsip Zero Delta Q (Pertambahan Debit Nol). Tulisan ini menguraikan pentingya menerapkan prinsip Pertambahan Debit Nol ini dengan membuat/membangun jutaan tandon-tandon air hujan di seluruh nusantara; untuk melengkapi dan mengoptilakan upaya yang sedang berjalan tersebut di atas, namun sekaligus dapat menyerap tenaga kerja secara padat karya bagi penduduk yang terdampak pandemi Covid 19.