Ultah Ke-21 - Gaya Hidup - www.indonesiana.id

Nuraz Aji

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 17 April 2019 14:43 WIB

Ultah Ke-21

Dibaca : 194 kali

Dua tahun lalu, tidak pernah ada yang memperhatikanku, di kantor DL. Bekerja di garmen tidak membuatku bergaya seperti seorang model majalah. Aku memakai kacamata, dan jilbab instan yang sering dipakai para orang tua, dengan potongan kemeja putih dan celana hitam yang longgar, lebih tepatnya kebesaran di tubuhku yang kurus.

 

Di kantor DL, area konveksi B, di sana aku menjahit. Karena pemula, sempat beberapa kali dipindah bagian dan team. Pernah memasang cuff (manset), stik tengah collar (krah), blabar cuff dan collar, dan lain-lain.

 

Tidak ada bulying di kantor ini. Semua karyawan diberi kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensi diri, dan memajukan perusahaan. Aku tetap mendapatkan teman-teman, saat istirahat makan siang, atau pun saat sholat. Tapi tidak banyak teman dekat. Mereka semua terlihat bersahabat. Hanya itu yang aku lihat.

 

Tidak ada yang mengataiku culun, hanya tidak banyak laki-laki yang melirik wajah cupuku. Sampai aku dilempar ke AG. Di sana juga konveksi, tapi menjahitnya lebih mudah. Bukan menjahit baju orang dewasa, tapi menjahit baju boneka barbie. Di beberapa proses, ada yang lebih sederhana, ada juga yang lebih rumit, karena kostumnya kecil.

 

Satu hari.

Dua hari.

Tiga hari seperti berlari.

 

Dua bulan.

 

Tiga bulan.

 

“Zah, berubah o! Baju kegedean, hidungmu pesek lagi.”

 

Mas Fras, dia yang menjahit seat seam di depanku, hanya dia yang berani bilang seperti itu. Dia jujur, dia peduli dan dia memperhatikan siapa rekan kerjanya. Dia adalah penyemangatku dalam bekerja di kantor AG. Dia juga masih muda. Usianya 22, aku 21 dan Saroh, partner kerjaku yang lain, 20 tahun.

 

Saat bekerja, aku lebih banyak diam, sesekali saja berbicara, jika hal itu kurasa penting. Aku tidak suka menceritakan masalahku pada orang yang baru dikenal. Tidak seperti Saroh. Menurutku dia centil, seperti perempuan kebanyakan. Saroh suka mengeluh, dia sering bercerita tentang masalahnya di depanku dan Mas Fras. Aku tak tahu, apakah ia hanya satu-satunya orang yang paling menderita atau hanya sekadar cari perhatiannya Mas Fras.

 

Saat itu aku sedang tidak sadar, merasa jealous. Untuk apa cemburu hanya kepada yang sama-sama berteman.  Tanpa pikir panjang, aku mengganti seragamku dengan seragam yang diberikan oleh Kakak. Mas Fras pernah memberiku saran untuk mengganti frame kacamata. Sejak saat itu, aku mengikuti perkataannya dan merubah penampilanku.

 

“Zah, tahu Betty Lavea?”

 

“Nggak tahu.”

 

“Kamu mirip kayak Betty Lavea.”

 

Batinku bilang, gombal. Tapi, suka juga. Ini hanya terlihat berbeda. Sebelumnya seragamku kebesaran, kini kekecilan memperlihatkan lekuk tubuh. Model hijabku berubah, seperti hijab segiempat yang sering diperagakan model di AdiTV. Wajahku penuh bedak tebal, entah make upku kentara atau tidak. Lensa kacamataku tidak setebal yang sebelumnya, framenya lebih kecil. Berapa banyak biaya modal yang kukeluarkan hanya untuk mendapat perhatian.

 

Sejak itu, penampilanku berubah. Tanpa sadar, sikapku pun mulai berubah. Aku mulai menanggapi senyum Akbar, dia adalah rekan kerja yang sering menggoda Saroh. Di satu sisi aku merasa senang. Bukan hanya Mas Fras yang terpesona memujiku seperti Betty Lavea, Akbar juga mulai melirikku. Bahkan pernah Mas Digdo usil menendang kursi yang kududuki. Beberapa rekan kerja perempuan, ada yang terlihat sinis dengan perubahanku.

 

Leaderku menjodoh-jodohkanku dengan laki-laki di team sebelah, yang belum kukenal. Saroh juga, diledek sama seperti itu. Kesannya, kami masih kecil dan belum punya waktu untuk laku, hanya untuk mendapat status sebagai pacar. Diam-diam, kami juga punya teman laki-laki. Tapi tidak perlu semua orang tahu kan? Termasuk Mas Fras dan Leader Team. Mas Fras hanya tertawa meledek, melihat wajah yang memerah di depannya.

 

“Zah, bawa permen karet lagi nggak?”

 

Sempat-sempatnya Mas Fras bertanya tentang permen karet. Di tengah situasi yang bergejolak seperti ini. Bagiku dan Saroh, AG seperti kantor yang penuh ledekan, tapi romantis. Aku melirik kanan dan kiri. Berharap tidak ada yang melihat permen karet keluar dari saku celanaku. Shift malam, sering membuat Mas Fras dan Saroh mengantuk. Apakah siangnya mereka tidak tidur, terus ngapain?

 

Kusodorkan 2 permen karet, di depan mesin jahit yang saling berhadapan. Mungkin Mas Fras belum bisa melihat permennya. Lalu, kupindah posisinya di depan kepala mesin Mas Fras. Ia malah pura-pura tidak melihat dan asyik menjahit.

 

“Sok ganteng banget laki-laki ini.” Batinku sebal, sambil menatap matanya tajam.

 

“Hai! Biasa saja, matanya...”

 

(Mataku menatap tajam ke matanya, lalu melirik ke permen karet.)

 

“Oh, makasih ya, Zah.”

 

Aku hanya tersenyum, di balik masker. Sebelum kembali cemberut, karena ada kabar Minggu masuk, lembur. Terdengar ada yang senang karena gajinya double. Aku berusaha tenang, meski merutuki dalam hati sendiri. Ini hari Sabtu dan aku ulang tahun di hari ini. Aku tidak boleh izin untuk tidak lembur, padahal aku ingin pulang kampung. Ibu pasti sudah memasak paha ayam goreng spesial untuk menyambut kedatanganku.

 

Sabtu sore, aku pulang ke kost pukul setengah tujuh. Tidak ada orang, kecuali aku. Sendirian di malam minggu. Jomblo yang ulang tahun dan makan malam sendirian, sebelum mandi. Di dalam kamar mandi, aku mandi cepat-cepat, rasanya, takut dan sedih menerima kenyataan pahit tadi siang, Mas Fras sudah memiliki istri dan tidak lama lagi akan memiliki bayi.

“Nasib-nasib, di mana sih nasib baik itu?”

 

Tidak lama, terdengar bunyi. Seseorang membuka gerbang. Saat aku terkejut ada sebuah catatan kardus tertutup gambar Menara Eiffel, di sana tertulis nama Nuraz Aji. Siapa dia itu, yang pasti dia bukan kekasihku. Ternyata ada catatan kecil yang menempel di sana, itu adalah kado ulang tahun dari Fitri, teman kostku yang paling dekat. Aku senang, tapi tersenyum miris sendirian di kamar ini. Apakah masih ada yang ingat dengan hari ulang tahunku, selain teman-teman di facebook.

 

Danke, Fit.”

 

Ada suara langkah kaki yang semakin dekat. Aku keluar kamar, cepat-cepat. Berteriak Waaaa! Ternyata itu Fitri, kedatangannya tiba-tiba membuatku kaget. Kirain dia sudah di kampung, bersama keluarganya. Ternyata, dia memilih melewati malam Minggu yang spesial ini berdua bersamaku.

 

“Sini deh, sini...” Fitri memberiku kode, aba-aba mendekat.

 

“Kenapa sih, kenapa, Dik?

 

Seseorang berjilbab lebar keluar, dan membuka cadar. Wah, kurang ajar Dik Fitri membuatku deg-degan. Kirain ada apa, ternyata ada yang datang. Dia adalah Sholikah, sahabatku yang sudah menikah.

 

“Ini istri orang kok mbok culik ki pye?”

 

“Ntar kalau dicari suaminya gimana, Dik Fit?”

 

“Tenang, aku sudah izin kok sama suamiku buat nginep. Nemenin kamu di sini. Nggak tega aku, kalau kamu sendirian.” Itu yang Sholikah katakan.

 

“So sweet.” Aku merangkul Sholikah, Fitri juga ikut rangkul-rangkulan.

 

“Ngapain ikut-ikut? Ganggu aja deh kamu, Dik.”

 

Fitri cemberut, dan kami tertawa bertiga. Saling meledek satu sama lain. Mereka belum mandi ternyata, bau asem. Sementara mereka bersih-bersih badan dan cuci pakaian beres-beres kamar. Pas banget momennya, aku baru saja gajian, ke ATM. Dan membeli beberapa makanan buat pesta semalam.

 

Di supermarket, aku beli camilan ringan. Sholikah mau nasi kucing, okay aku cariin sampai ke ujung jalan, aku juga kangen tempe bakar. Udah nenteng dua kantong plastik, ada gerobak siomay lewat, tepat di depan kost.

 

“Bang, siomay lima ribu aja.”

 

Buka gerbang, masuk kost. Mereka masih ada di kamar Fitri. Aku ambil satu piring, tiga sendok dan tiga gelas. Kubawa ke kamar, sedikit repot dengan sekaligus bawa kantong kresek. Tapi aku balik dua kali. Tara, dua nasi kucing dan enam tempe bakar biar di keresek. Gelas biar kosong, aku siapkan sahaja, biar ambil sendiri-sendiri. Hahaha, air putih soalnya sehat. Tiga jenis camilan mendapatkan wadahnya, ada cumi-cumi, cendol keju dan singkong balado. Kuputar film Indonesia, judulnya Aku, Kamu dan KUA. Biar Fitri jadi baper.

 

“Ke kamarku yuk, nonton film dari notebook dan makan-makan.”

 

Wis tenang kalau ada Izah.” Kata Fitri.

 

Malam Minggu di Hari Ulang Tahunku itu, kita makan dan nonton film bertiga. Sampai ketiduran. Besok paginya, kami mengantar Sholikah mencari bus buat pulang ke rumah suaminya. Tidak lama, Fitri juga ikut beres-beres pulang ke kampung dengan bersepeda, satu setengah jam perjalanan, man. Dia itu termasuk perempuan kuat ya.

 

Tinggal aku sendirian di kost. Shift malam nih, Malam Senin sudah masuk kerja. Sendirian lagi di kost. Pulang kerja pagi. Kakak-kakak kost mulai kembali dan berangkat kerja pagi hari. Aku tidur saja tanpa keluar kamar, karena mengantuk. Aku bertemu mereka sore hari, sebelum mandi dan saat mereka pulang kerja.

 

Ada dua orang spesial yang datang di hari Senin sore, dan itu membuatku sedikit cengeng plus manja. Yaitu Ibu dan Bapak. Mereka bawa nasi, camilan dan jilbab lebar yang pernah kuinginkan. Jilbab itu berwarna hitam, buatan ibuku. Itu kado di hari ulang tahunku yang sudah lewat. Tapi it is not too bad. I’m happy. Thanks, Mom. I love you. Bapak dan Ibu tidak lama di kamar kostku, hanya jam empat sampai jam lima, karena aku harus siap-siap buat masuk kerja pukul tujuh malam. Maklum, siap-siapnya lama.

***

Sukoharjo, Februari 2017


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.