Warisan Arung Palakka - Gaya Hidup - www.indonesiana.id

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 21 April 2019 16:51 WIB

Warisan Arung Palakka

Dibaca : 100 kali

Judul: Warisan Arung Palakka

Judul Asli: The Heritage of Arung Palakka – A History of Shout Sulawesi (Celebes) in the Seventeenth Century

Penulis: Leonard D Andaya

Penterjemah:  Nurhady Sirimorok

Tahun Terbit: 2013 (cetakan III)

Penerbit: Ininnawa                                                                                                      

Tebal: xvi + 432

ISBN: 979-98499-0-X

 

Sulawesi Selatan (Sulsel) adalah sebuah wilayah yang mempunyai sejarah yang kaya di Nusantara. Peran Sulawesi Selatan sudah muncul sejak abad 13. Namun sayang, kemunculan peristiwa sejarah Sulsel di kancah sejarah nasional begitu tipis. Sulsel menjadi bagian dari angkatan laut Majapahit di abad 13. Perannya di laut bagian utara dan timur Nusantara begitu penting untuk dilupakan begitu saja. Kerajaan Goa di abad 17 menguasai bagian utara dan timur Nusantara. Hanya Aceh di Sumatra dan Mataram di Jawa yang tidak menjadi taklukan Goa. Kerajaan Goa bahkan bersahabat dengan Spanyol di Filipina, Inggris dan Portugus di India. Namun di sejarah nasional, khususnya yang masuk dalam pelajaran sejarah di sekolah, hanya kisah Hasanuddin yang bertikai dengan Arung Palakka saja. Upaya untuk menuliskan sejarah Sulsel menjadi begitu penting, supaya perannya di masa lalu bisa mewarnai sejarah nasional Indonesia.

Buku Warisan Arung Palakka karya Leonard D Andaya ini adalah salah satu buku yang membedah dinamika kerajaan-kerajaan di wilayah Sulsel, khususnya antara Goa Tallo melawan Bone. Buku ini membahas latar belakang dinamika politik abad 15-16 di Sulsel, pengaruh Agama Islam di Sulsel dan pertikaian antara Arung Palakka dengan Hasanuddin serta pengaruhnya pada imigrasi besar-besaran orang Sulsel ke wilayah lain di Nusantara.

Buku ini sangat penting untuk memahami kontroversi tokoh Arung Palakka yang dalam banyak penulisan sejarah diposisikan sebagai pihak yang pro kolonial karena mendukung VOC. Andaya menunjukkan dinamika yang sangat kompleks dalam hal pertikaian antarkonfederasi. Dengan membaca paparan Andaya ini kita bisa mengetahui lebih jernih dan mendudukkan semua tokoh di Sulsel dengan lebih baik.

Andaya memulai bukunya dengan menjelaskan hal-hal yang membentuk peradaban Sulsel. Ia menelisik jauh ke mitos kekuatan pada batu yang membawa konsep gaukeng. Konsep pemerintahan ala gaukeng ini adalah cikal bakal model konfederasi antarkerajaan kecil di Sulsel. Model kepemimpinan berevolusi dengan masuknya tokoh Tomanurung, yang dianggap sebagai orang dari langit yang bisa memimpin.

Andaya juga menjelaskan konsep sirri dan pacce’. Dua konsep tentang harga diri ini harus dipelajari sebelum mempelajari sengketa antarkerajaan atau antarfederasi yang sering terjadi di Sulsel. Sebab konsep sirri dan pacce’ inilah yang digunakan oleh Andaya untuk menjelaskan mengapa Arung Palakka memilih untuk bersekutu dengan VOC.

Andaya masuk sampai dengan jaman awal konfederasi Luwu yang berjaya di pantai timur dan Siang di pantai barat. Pada masa tersebut, perubahan konfederasi sudah terjadi. Siapa terkuat dalam konfederasi akan menjadi pemimpinnya. Konfederasi utamanya terbagi dalam dua wilayah, yaitu Pantai Timur (Luwu) dan Pantai Barat (Siang). Namun di wilayah Toraja dan Mandar (baca juga: “Puang dan Daeng – Sistem Nilai Budaya Orang Balanipa Mandar karya Darmawan Ma’sud Rahman. 2015) juga terbentuk konfederasi lokal. Konfederasi di Toraja dan di Mandar tidak bisa berkembang karena wilayahnya terisolasi. Pada periode ini konflik antara Goa dengan Luwu terjadi secara masif. Goa akhirnya memenangkan konflik pada akhir abad 16. Namun konflik tidak berhenti. Sebab setelah Luwu kalah, Wajo, Soppeng dan Bone menjadi lawan Goa. Bone menjadi lawan tangguh bagi Goa dari Pantai Timur.

Selanjutnya Andaya menjelaskan tentang peran Islam di Sulsel. Kehadiran Islam ini membawa warna baru dalam kemakmuran wilayah Sulsel, model kepemimpinan baru dan peta politik baru. Karaeng Matoaya penguasa Tallo masuk Islam. I Manga’rangi Daeng Manrabbia penguasa Goa juga masuk Islam. Ia bergelar Sultan Alaudin. Islam mengubah banyak aspek dari sosial politik di Sulawesi Selatan. Islam membawa kesejajaran antarkerajaan. Islam juga mengubah posisi-posisi dalam kerajaan. Islam juga membuat Goa menjadi semakin kuat karena mendapatkan dukungan dari kesultanan-kesultanan di Nusantara yang lebih dulu memeluk Islam, Turki dan India (Moghul). Islam juga menyekutukan Goa dengan Luwu karena sama-sama telah memeluk agama tersebut.

Goa menjadi kerajaan yang semakin besar. Dalam masa kepemimpinan Karaeng Matoaya dan Sultan Alaudin, hampir semua kerajaan telah masuk dalam konfederasi mereka. Bahkan kekuasaan perdagangan maritim mereka berkuasa sampai jauh ke timur. Meski menggunakan kesetaraan ala Islam dalam berhubungan dengan kerajaan-kerajaan yang lebih kecil, Goa-Tallo tetap memperlakukan kerajaan-kerajaan tersebut sebagai bawahan. Hukum lama, yaitu tidak mencampuri urusan pemilihan pemimpin di kerajaan-kerajaan kecil tetap dipertahankan.

Konflik antara Bone (Arung Palakka) dengan Goa bermula dari rasa terhina. Sultan Hasanuddin  penguasa Goa yang berkonflik dengan VOC membangun parit antara benteng Pannakukkang yang sudah direbut VOC dengan benteng Somba Opu yang menjadi markas Hasanuddin. Percekcokan antara Goa dengan VOC ini karena mereka berebut pengaruh dalam perdagangan rempah.

Dalam pembuatan parit ini, para pekerja mendapat perlakuan kasar. Termasuk pekerja dari Bone. Maka Arung Palakka melakukan pemberontakan. Bersama dengan Regent Bone yang diangkat Goa – Tobala’, Arung Palakka melarikan diri dari Makassar dan memimpin pemberontakan di wilayah Bugis. Sayang sekali pemberontakan ini gagal. Arung Palakka melarikan diri ke Jawa.

Di Jawa Arung Palakka bergabung dengan VOC memerangi kerajaan-kerajaan yang belum takluk. Di antaranya adalah kerajaan Minangkabau di Sumatra Barat. Keberhasilan Arung Palakka ini membuat Belanda menunjuk Arung Palakka bersama Speelman melakukan penyerangan ke Makassar. Gabungan tentara VOC dengan laskar Bugis dibawah kepemimpinan Arung Palakka berhasil menaklukkan Goa. Arung Palakka kemudian memerintah Sulawesi Selatan bersama dengan VOC.

Jatuhnya Somba Opu – markas Hasanuddin, membuat banyak pihak yang tidak setuju dengan VOC dan Arung Palakka meninggalkan Sulawesi Selatan. Para pengungsi ini adalah orang-orang bersenjata dan berani berperang. Mereka menjadi laskar yang dimanfaatkan oleh penguasa setempat untuk berperang. Laskar yang cukup terkenal adalah laskar pimpinan Karaeng Galesong yang sampai ke Jawa dan berperang melawan Belanda.

 

Andaya dalam buku ini memberi perspektif bahwa persekutuan Arung Palakka dengan VOC adalah upaya orang Bugis mempertahankan harga diri. Konsep Sirri dan Pace’-lah yang menggerakkan Arung Palakka melakukan pemberontakan kepada Goa. Perspektif ini sangat bermanfaat dalam mendudukkan konflik Goa – Bone di Sulawesi Selatan.

 

 

  • Tim Mawar

Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.