Parenting: Pentingnya Penerimaan Orang Tua untuk Anak yang Transgender - Analisa - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi ibu dan anak. Shutterstock

Kevin Halim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 8 Mei 2019

Rabu, 8 Mei 2019 14:27 WIB

Parenting: Pentingnya Penerimaan Orang Tua untuk Anak yang Transgender

Dibaca : 321 kali

Tujuh puluh empat tahun Indonesia sudah merdeka, namun sampai saat ini (2019) saya jarang mendengar gaung penerimaan orang tua dengan anak yang trans. Mungkin ada, namun tidak populer. Padahal, sebagai seorang trans, saya menyadari bahwa saya menerima banyak sekali manfaat penerimaan orang tua untuk anak yang transgender. Sebaliknya, malah saya mendengar bahwa orang tua malu dan berusaha sebisa mungkin agar orang lain tidak tahu bahwa anak mereka transgender. Cerita-cerita yang bergaung seperti membawa anak ke terapis untuk terapi konversi atau lebih menerima anak dengan diagnosis gangguan kejiwaan lebih mudah diterima oleh orang tua, ketimbang orang lain tahu bahwa mereka menerima anak mereka sebagai trans. Itu yang menggerakan saya untuk membuat panduan sederhana penerimaan orang tua agar setidaknya menjadi bukti hitam di atas putih betapa kasih sayang orang tua dalam menerima anak yang trans memiliki banyak sekali dampak positif. Saya jabarkan di sini mengapa penerimaan itu penting untuk anak-anak yang trans.

 

Pondasi, referensi, dan sikap kepantasan

 

Penerimaan anak membantu anak merasakan pengalaman pernah disayangi, sehingga menjadi pondasi yang kuat untuk anak menghadapi kehidupan. Jika ada yang belajar psikologi, kita diajarkan bahwa manusia memiliki tugas perkembangan sosial, dimana dalam setiap tahapan, terdapat tugas perkembangan manusia. Ketika anak merasa ditolak, hal ini tidak hanya akan membuat anak tidak mampu menjalankan tugas perkembangannya dengan baik, namun menghasilkan ‘kelumpuhan sosial’ yang banyak salah dipersepsikan oleh masyarakat sebagai ‘ketidakberfungsian sosial’ karena anak itu trans. Saya menyebut ‘kelumpuhan sosial’ karena sistem yang diskriminatif membuat teman-teman trans secara sosial harus dianggap bermasalah. Kita hidup di masyarakat yang melihat kondisi trans sebagai penyebab ketidakberfungsian sosial, ketimbang melihat bahwa penolakan menjadi penyebab ketidakberfungsian tersebut. Selain itu, ketika rumah yang harusnya menjadi sumber utama rasa aman dan kasih sayang, namun tidak berhasil memenuhi fungsi ini, hal ini akan berdampak pada keinginan untuk terus menerus mencari rasa aman dan kasih sayang tersebut di tempat lain yang dipersepsikan anak dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Saya menyadari ini karena ketika orang tua memberikan rasa aman dan kasih sayang pada diri saya, untuk menjalani kehidupan perkuliahan dan pekerjaan pun menjadi lebih mudah dijalankan ketimbang jika saya belum selesai dalam memenuhi perasaan yang mendasar tersebut.

 

Selain itu, rasa aman dan kasih sayang orang tua juga dapat menjadi referensi bagi anak-anak trans untuk memahami bagaimana mengalami perasaan disayang, diterima dan memiliki rasa positif terhadap diri sendiri. Seperti yang disebutkan sebelumnya, selain menjadi pondasi, pengalaman disayangi juga menjadi referensi untuk anak memahami apa dan bagaimana disayangi dan dilindungi, sehingga tidak salah dalam mengidentifikasi perasaan baru yang dialami di luar rumah. Dengan begini, anak menjadi paham bahwa penerimaan yang mereka berhak dapatkan tidak perlu menjadi beban materi dan dan melibatkan transaksi secara ekonomi.

 

Rasa aman dan kasih sayang orang tua juga membantu anak untuk merasa bahwa dirinya punya kendali dalam hidup dan mampu membedakan mana yang menjadi haknya. Saya menyadari ini ketika saya bertemu dengan teman-teman yang mengalami penolakan, ketika mereka bercerita tentang pengalaman diperlakukan dengan tidak baik, rasa untuk membela diri sebagai hak mereka pun sulit untuk tumbuh. Hal ini dikarenakan ada sikap bahwa perlakukan buruk yang dialami itu “layak dan pantas” untuk diterima. Mengapa sikap tidak menerima diperlakukan buruk penting untuk dimiliki teman-teman trans? Karena ketika perlakuan buruk dianggap sebagai sesuatu yang layak dan pantas, maka perubahan untuk situasi yang lebih baik sulit diwujudkan. Sementara sikap ini adalah kunci untuk membawa perubahan yang lebih baik.

 

Habitus dan emotional labor

 

Para ahli sosiologi mengatakan bahwa orang tua mewariskan social capital atau modalitas social yang berbeda-beda. Modalitas sosial yang paling banyak dibicarakan adalah habitus. Habitus bisa dengan sederhana didefinisikan sebagai kebiasaan, kemampuan, keterampilan, dan disposisi yang diwariskan oleh lingkungan sosial dan dari keluarga sehingga mempengaruhi kemampuan anak dalam setting sosialnya serta mempengaruhi jalan yang terbentuk untuk masa depan seseorang. Habitus juga bisa dilihat secara kolektif oleh kelompok sosial tertentu. Mereka yang memiliki status sosial ekonomi yang tinggi memiliki habitus yang berbeda dengan mereka yang berbeda di status sosial ekonomi lebih rendah. Mengapa membahas habitus menjadi penting? Karena ketika anak tidak diterima oleh orang tuanya dan (dalam contoh yang ekstrim diusir dari rumah), habitus yang dimiliki oleh teman-teman trans adalah kebiasaan kolektif yang secara sistemik dilemahkan secara struktural. Dalam realita kita sekarang, teman-teman trans sulit untuk mengakses pendidikan dan pekerjaan yang dapat mendukung perkembangan diri yang sehat, sehingga habitus yang tercipta, secara kolektif, terbentuk secara stereotip yang negatif. Jika kita observasi, kita bisa melihat bahwa habitus yang terbentuk dan diwariskan oleh keluarga fiktif yang teman-teman trans bentuk hanya terbatas pada pekerja seks, pekerja salon, mengamen, dan make-up. Saya tidak mau merusak gerakan advokasi pekerjaan-pekerjaan ini. Namun, yang menjadi masalah adalah keterbatasan pilihan yang tersedia jika modalitas sosial yang dimiliki hanya itu-itu saja.  

 

Penerimaan orang tua dapat membantu anak menumbuhkan dan mengumpulkan modalitas sosial yang dapat membantu anak-anak trans memiliki masa depan yang lebih baik dan non-stereotipikal. Sehingga, penolakan, dampaknya hanya akan mengafirmasi siklus yang sudah terjadi selama puluhan tahun untuk melemahkan, memiskinkan, dan “membutakan” teman-teman trans untuk masa depan yang cerah dengan potensi dihormati dan dihargai secara sosial.

 

Dalam membicarakan habitus, saya pun juga terkesima dengan konsep emotional labor. Dalam konsep emotional labor, individu harus memproses perasaan dan ekspresinya untuk memenuhi kebutuhan emosional dalam pekerjaannya. Dalam relasi dengan gender, terdapat pekerjaan yang secara stereotipikal membutuhkan emosi tertentu untuk memperlancar pekerjaan. Emotional labor juga menjadi faktor yang membantu perubahan status sosial, karena orang tua yang dokter akan menyiapkan anaknya memiliki emotional labor menjadi dokter juga. Contoh dari emotional labor, banyak pekerjaan guru TK diberikan kepada perempuan, karena perilaku nurturing secara stereotipikal diharapkan pada perempuan. Dalam konteks trans, emotional labor yang terbentuk adalah sikap yang secara stereotipikal didorong oleh masyarakat. Seperti hanya mampu bekerja di bidang salon, entertainment (ada yang beruntung menjadi selebriti atau make-up artist, namun banyak yang harus menjadi penyanyi di jalan), dan pekerja seks. Penolakan orang tua membuat emotional labor yang terbentuk terbatas pada apa yang diwariskan oleh ‘orang tua angkat atau mami-mami’. Saya tidak mengatakan pekerjaan ini buruk, namun jika pilihan pekerjaan hanya terbatas disini, sungguh amat sayang jika potensi teman-teman trans dibatasi oleh area kerja yang secara tradisional dianggap ‘ramah’ teman-teman trans. Sulit bagi teman-teman trans untuk bergerak ke area yang secara tradisional tidak dianggap ramah, seperti pekerjaan di bidang hukum, psikologi, kedokteran, ekonomi, dan lain-lain, karena emotional labor yang dibentuk untuk teman-teman trans hanya terbatas di area tertentu.

 

Sulit juga untuk menerima bahwa menjadi trans tidak harus ‘ngondek’ dan tidak harus menjadi ‘badut’ yang harus lucu. Banyak yang kadang bertanya pada saya kenapa saya trans tapi tidak menggoda lelaki dan tidak punya gaya bicara atau juga tidak menjadi ‘badut’ ketika berkumpul dengan teman-teman. Hal ini membuat saya berani mengatakan bahwa penolakan serta stigma dan diskriminasi terhadap teman-teman trans ‘membutakan’ karena seakan-akan trans harus lucu dan punya kepribadian yang extrovert dan harus hadir untuk menghibur orang lain, tidak ada realita lain yang bisa dijalani. Padahal banyak teman trans yang mengalami pengalaman yang sebenanrnya cenderung membentuk kepribadian yang introvert dan tidak menunjang kesehatan mental yang baik karena pengalaman-pengalaman tersebut, namun tetap diharapkan lucu untuk menghibur orang lain.

 

Jadi, apa hubungannya penerimaan keluarga dengan emotional labor? Jawabannya secara sederhana adalah dengan penerimaan keluarga, orang tua dapat membantu membentuk emotional labor yang non-stereotip yang dapat membantu mengikis pandangan negatif dan stereotip yang ada di masyarakat tentang teman-teman trans. Tentu saya paham ini bukan satu-satunya cara yang ampuh, namun saya percaya kalau pun tidak ada dampak besar di masyarakat, penerimaan orang tua yang memberikan emotional labor yang positif, dapat juga membantu teman-teman trans untuk memiliki masa depan yang lebih baik di level individual.

 

Saya juga berpendapat bahwa penerimaan orang tua, dibarengi dengan penerimaan di institusi pendidikan dapat membantu membentuk emotional labor yang sehat. Saya sependapat dengan ibu Kartini bahwa pendidikan baik untuk perempuan cis, sehingga pendidikan juga merupakan cara paling ampuh untuk membantu teman-teman trans keluar dari lingkaran setan yang terus membelenggu selama berpuluh-puluh tahun, plus jika dibarengi dengan penerimana orang tua. Sehingga, institusi pendidikan yang seharusnya menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan memberikan kesempatan untuk semua orang dapat mengakses pendidikan seharusnya mampu membuka diri untuk teman-teman trans belajar dengan ekspresi gender yang membuat mereka nyaman. Namun yang terjadi, malah banyak sekolah yang melarang teman-teman trans mengekspresikan gender dengan asumsi bahwa orang dengan ekspresi gender berbeda memiliki moral yang rusak. Sehingga, justru banyak pelarangan untuk teman-teman trans menempuh pendidikan yang tinggi dan membuat pilihan untuk pekerjaan yang terhormat pun terbatas.

 

Dengan ini, saya berharap semoga membantu para orang tua untuk paham bahwa penerimaan bisa menjadi kunci bagi anak untuk memiliki kehidupan yang lebih bahagia dan mungkin lebih bermakna. Dan dengan panduan sederhana ini, saya berharap ini bisa menjadi referensi untuk para orang tua mengetahui kisah perjuangan mereka yang sudah melewati pergumulan dalam isu hubungan orang tua dengan anak yang trans. Tentu saya pahami tulisan ini banyak keterbatasannya, namun saya berharap ini bisa menjadi langkah awal untuk para orang tua bisa memahami anaknya dengan lebih baik sehingga bisa membantu membangun rasa percaya antara anak dan orang tua dan Bersama dapat membuat jalur hubungan yang sehat untuk masa depan yang lebih baik.

 

 

 

  • Parenting

Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.