Peran Penting Sistem Informasi Akuntansi pada Pengendalian Intern Perusahaan Manufaktur dalam Meningkatkan Laba - Analisa - www.indonesiana.id

Nisa Khafifah Nurma

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 8 Mei 2019

Kamis, 9 Mei 2019 09:15 WIB

Peran Penting Sistem Informasi Akuntansi pada Pengendalian Intern Perusahaan Manufaktur dalam Meningkatkan Laba

Dibaca : 89 kali

Nisa Khafifah Nurma
Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unissula
Sri Dewi Wahyundaru
Email: sridewi@unissula.ac.id

        Peran Penting Sistem Informasi Akuntansi pada Pengendalian Intern Perusahaan Manufaktur dalam Meningkatkan Laba


      Sistem Informasi Akuntansi (SIA) adalah sub sistem-sub sistem yang saling berhubungan satu sama lain yang terdapat input, proses, dan output berupa laporan keuangan yang memiliki tujuan, yaitu digunakan untuk mengambil keputusan (Nugroho Wijayanto, 2001).

      Sistem merupakan sesuatu yang memiliki bagian-bagian yang saling berkaitan satu sama lain untuk mencapai suatu tujuan. Bagian-bagian yang saling berkaitan tersebut dinamakan subsistem.
Sistem informasi akuntansi memiliki sistem pengendalian, yaitu pengendalain intern dan ekstern. Pengendalian intern meliputi pengendalian terhadap struktur organisasi. Sedangkan pengendalain ekstern yaitu pengendalian dari luar perusahaan terhadap komponen-komponen yang berhubungan dengan perusahaan. Pengendalian intern sendiri memiliki tujuan untuk
1. Mengamankan aktiva perusahaan
2. Mengecek kecermatan data ketelitian data akuntansi
3. Meningkatkan efisiensi
4. Mendorong agar kebijakan menejemen dipatuhi oleh segenap jajaran organisasi (Nugroho Wijayanto, 2001).
      Manufaktur berasal dari kata manufacture yang berarti membuat dengan tangan (manual) atau dengan mesin sehingga menghasilkan sesuatu barang (Heizer, dkk 2005). Dapat diartiakan, perusahaan manufaktur merupakan perusahaan yang memproduksi bahan-bahan hingga menjadi barang siap jual yang bernilai tambah besar. Contoh industri manufaktur, Pakaian dan Tekstil: makanan.
     Tujuan perusahaan manufaktur yaitu untuk kemanfaatan umum berupa penyediaan barang yang bermutu tinggi dan sekaligus mengejar keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan perusahaan.. Untuk mengejar keuntungan dan pengelolaannya, perusahaan harus memiliki sistem yang menatur agar tujuan tersebut tercapai, yaitu dengan pengendalian intern.
       Perusahaaan ketika ingin mengetahui seberapa besar keuntungan (laba) yang didapatkan dapat menghitung dengan:
Laba bersih = laba kotor – beban usaha
Laba kotor = penjualan bersih – harga pokok penjaualan
Penjualan bersih = penjualan – retur penjualan dan pengurangan harga – potongan penjualan.
Jika hasil akhir menunjukkan pendapatan lebih besar daripada beban, maka dikatakan perusahaan mencapai keuntungan atau memperoleh laba.
      Ketika perusahaan telah pencapai laba, maka perusahaan terus berusaha agar laba mengalami peningkatan. Perusahaan pun harus melakukan upaya-upaya agar laba perusahaan meningkat, yaitu dengan menerapkan SIA untuk mengendlikan intern yang berkaitan dengan subsistem-subsistem yang terkait. Subsistem-subsistem tersebut harus dilakukan pemisahan fungsi sesuai bagian-bagiannya. Disini SIA sangat berperan terhadap pengendalian intern.
      Unsur-unsur dan pernanan pengendalian intern berpengaruh pada perusahaan untuk meningkatkan laba, yaitu: (1) Struktur organisasi yang memisahkan tanggujawab fungsional secara tegas. Upaya memisahkannya yaitu menyusun pembagian tanggung jawab menurut fungsinya. Dalam artian, perusahaan harus menyusun struktur organisasi dan melakukan pemisahan fungsi. Pemisahan fungsi bertujuan meminimalisir kecurangan. Pemisahan fungsi terkait dengan pencatatn, pelaksanaan, penyimpanan, atau pengelolaan. Ketika perusahaan melakukan upaya peningkatan laba, maka harus ada bagian-bagian yang mengatur. Misalnya, menejer menetapkan target penjulualan agar perusahaan mencapai laba. Selajutnya dengan berbagai proses hingga produk terjual, dilakukanlah pencatatan berapa besar jumlah laba yang diperoleh. Pemegang kas menerima laba perolehan. Disini dapat dilihat untuk setiap bagian-bagian hanya melakukan tugas fungsionalnya. (2) Sistem wewenang dan prosedur pencatatan. Sistem ini memberikan perlindungan yang cukup terhadap kekayaan, utang, pendapatan, dan baiaya. Hal ini harus ada kewenangan yang tegas untuk mengawasi jalannya sebuah sistem. Kewenangan hanya sebatas fungsinya. (3) pelaksanaan kerja yang sehat, yaitu terdapat formulir yang menguatkan pencatatan, misalnya nota pembelian. Bagian pencatatan wajib mencatat biaya yang dikeluatkan sesuai dengan nota. Jika perusahaan laba tapi tidak memiliki bukti transaksi (nota) bisa saja pada subsistem pecatatan melebihkan biaya, padahal kelebihannya untuk diambil pribadi. Hal ini harus dihindari dengan pelaksanaan kerja yang sehat. (4) Karyawan yang berkualitas. Rekrutmen karyawan harus dari orang-orang bertanggung jawab. Rekrutmen karyawan bisa menimbangkan pendidikan, pengalaman, dan akhlak. Perusahaan dapat merekrut karyawan untuk menjadi menejer yang telah sukses menjalankan strategi dalam upaya peningkatkan laba pada perusahaan lain.
       Uraian diatas menunjukkan bagaimana pentingnya pengendalian intern sistem informasi akuntansi bagi perusahaan dalam meningkatkan laba. Pengendalian intern harus benar-benar dijalankan sesuai dengan fungsi masing-masing unsur tanpa adanya kecurangan yang telah diatur dari pihak yang berwenang. Jika pengendalian intern tidak diterapkan, kemungkinan perusahaan akan mengalami kesulitan atau ada kecurangan di dalamya. Maka pengendalian intern berperan sebagai pengewas jalannya perusahaan, terutama dalam meningktkan laba perusahaan.

                     Daftar pustaka:
https://annisadiandwil.wordpress.com/2014/04/27/cara-menghitung-laba-rugi-sebuah-usaha/
https://xerma.blogspot.com/2013/09/pengertian-industri-manufaktur.html
Wijayanto,nugroho. 2001. Sistem Informasi Akuntansi. Jakarta : Erlangga

 

 

  • Akuntansi

Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.