Cendekiawan dalam Sangkar Emas Kekuasaan - Analisa - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 9 Mei 2019 21:20 WIB

Cendekiawan dalam Sangkar Emas Kekuasaan

Dibaca : 251 kali

 

Kekuasaan memang selalu menggoda siapapun. Ketika sempat mencicipi kenikmatan berkuasa, sebagian orang tergoda untuk memperpanjang usia kekuasaannya. Yang tergoda itu tidak terkecuali adalah para cerdik cendekia—orang-orang yang bertumpu pada nalar dan integritas moral untuk mencari, menemukan, dan menegakkan kebenaran. Sehari-hari mereka mungkin juga hadir sebagai ilmuwan, jurnalis, sastrawan, ataupun aktivis sosial yang kerap membela kaum lemah—untuk menyebut beberapa di antaranya.

Dalam penuturan-penuturan yang bersifat ideal, kaum cendekiawan sering disebut sebagai makhluk yang menjauhi atau menjaga jarak dari kekuasaan. Mereka disebut-sebut memahami benar bahwa kuasa memiliki watak khas yang kekuatannya begitu magis sehingga mampu memaksa orang-orang yang sudah berkuasa untuk tidak ingin melepas kekuasaannya. Kuasa memiliki pesona tersendiri yang mampu menyihir dan kemudian memerangkap siapapun yang sudah masuk ke dalamnya sehingga enggan keluar.

Kendati paham benar watak kekuasaan, toh banyak cendekiawan yang terpikat untuk mencoba-coba masuk ke gelanggang politik kekuasaan. Mereka ini berpikir bahwa moral kecendekiaan akan mampu mengawal mereka agar selamat selama memegang kekuasaan. Mereka juga menyangka bahwa nalar kecendekiaan mereka akan membentengi diri mereka dari godaan untuk mengingkari kebenaran, keadilan, maupun rasa empati kepada yang tertindas. Mereka mengira diri mereka cukup tangguh untuk mengatasi godaan kuasa.

Dengan terjun ke gelanggan politik kekuasaan, para cendekiawan menyangka bahwa mereka akan mampu memperbaiki watak kuasa dari dalam agar kekuasaan dapat berjalan secara lebih adil, lebih jujur, lebih berempati, dan lebih mengayomi kepada yang tertindas, namun lebih keras kepada yang menyeleweng. Namun mereka mungkin terkejut, setidaknya di tahap-tahap awal berada di lingkaran kekuasaan, bahwa semua itu ternyata merupakan tugas yang berat untuk dipikul.

Mereka, kaum cendekiawan itu, kemudian menyadari bahwa kuasa mengembangkan nalar dan moralnya sendiri yang tidak mudah untuk diubah, apa lagi ditaklukkan. Sebagian cendekiawan menyangka bahwa perubahan memerlukan waktu dan proses, tapi kemudian sebagian kecil dari mereka menyadari bahwa sangat tidak mudah melakukan tugas ini. Sebagian cendekiawan akhirnya teperangkap dalam sangkar emas kekuasaan, merasa nyaman di dalamnya, sementara hanya sebagian kecil cendekiawan memilih untuk menyingkir dari lingkaran kekuasaan. Bung Hatta adalah cendekiawan tipe kedua.

Di masa lalu Mohammad Hatta berikhtiar memperbaiki keadaan negara hingga mencapai batas kesabarannya untuk kemudian ia memilih mundur dari kekuasaan dan jabatan wakil presiden—peristiwa yang sangat langka di dunia ini. Bung Hatta dihadapkan situasi yang sukar untuk diatasi, sekalipun ia berada di dalam dan merupakan kawan seperjuangan Presiden Sukarno. Ketimbang bersikap dan melakukan tindakan yang bertentangan dengan nalar dan hati nuraninya, Hatta memilih untuk menyingkir dari lingkaran kekuasaan.

Sayangnya, kelihatannya, banyak cendekiawan di masa sekarang yang perlahan-lahan lebih menikmati madu kuasa. Tidak selalu karena alasan ekonomi dan fasilitas, tapi sebagian besar menikmati rasanya memutuskan nasib orang lain, mengharuskan ini dan melarang itu, atau memaksa orang lain mengikuti kemauannya. Tak heran bila kemudian nilai-nilai moral kecendekiaan mereka perlahan-lahan tergerus dan luruh.

Sebagian cendekiawan ini mulai terperangkap oleh nalar dan moral kuasa, untuk kemudian membela kekuasaan tanpa sikap kritis, kehilangan rasa keadilan, tidak lagi mampu melihat kebenaran terlebih bila kebenaran itu ada di pihak lain. Sebagian dari mereka menyerahkan diri kepada penguasa, bersikap partisan, dan enggan memahami bahwa pada pihak lain sangat mungkin ada kebenaran, kebaikan, dan hikmah. Mereka mengingkari inti kecendekiaan, yakni terus belajar dan mencari kebenaran di manapun kebenaran itu berada.

Cendekiawan yang menganggap apa yang tidak ia sukai sebagai sepenuhnya buruk, maka ia cenderung menutup mata dalam melihat kebenaran yang datang dari pihak lain. Ia akan membela kekuasaan tanpa menyisakan sikap kritis. Banyak di antara cendekiawan yang kemudian menjadi penyusun-penyusun alasan untuk membenarkan tindakan atas nama kekuasaan.

Dalam situasi sulit seperti sekarang, bangsa ini membutuhkan kehadiran cendekiawan independen yang mengedepankan kebenaran, kejujuran, dan keadilan. Bersikap jujur dan adil sejak dalam pikiran. Sayangnya, hanya sedikit cendekiawan seperti ini yang masih tersisa. Mereka yang dulu kritis kepada kekuasaan, kini senyap suaranya, sekalipun di hadapan mereka tergelar ketidakadilan dan ketidakjujuran yang sebelumnya kerap mereka kecam dengan suara lantang. Mereka kini merasa nyaman berada di dalam lingkaran kekuasaan dan semakin tidak peka terhadap ketidakadilan. >>

  • Kepemimpinan

Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.