Pagelaran Langen Tayub, Antara Pelestarian dan Penyimpangan - Travel - www.indonesiana.id
x

Nadia Ramadhani

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 11 Mei 2019

Sabtu, 11 Mei 2019 10:38 WIB

Pagelaran Langen Tayub, Antara Pelestarian dan Penyimpangan

Dibaca : 172 kali

Akhir-akhir ini, banyak digembar-gemborkan pada masyarakat untuk selalu melestarikan kesenian tradisional Indonesia. Sebagai negara dengan jumlah suku yang sangat banyak, sudah semestinya Indonesia memiliki kesenian tradisional dengan ciri khas masing-masing daerah. Salah satunya adalah kesenian bernama Langen Tayub yang berada di ujung barat pantura Jawa Timur, Kota Tuban. Langen tayub merupakan kesenian tradisional Tuban yang masih sangat ekis hingga saat ini khususnya diwilayah pedesaan. Kesenian ini banyak digelar saat ada acara pernikahan, khitanan, atau acara rutin yang diadakan tiap tahun untuk menghormati para leluhur. Masyarakat sekitar sering menyebut kesenian ini dengan nama “sindir”.

            Dilansir dari BeriSatu.com, pada mulanya, langen tayub merupakan kesenian yang berisi tari pernyataan puji syukur. Kesenian ini memanggul nilai rohani yang kuat. Kesenian ini di gelar dari siang hari sampai malam menjelang pagi hari. Langen tayub di isi dengan tarian-tarian gemulai dan nyanyian campursari dari para waranggono atau biasa disebut sinden dan seorang pramugara atau pembawa acara. Langen tayub dimainkan dengan iringan musik tradisional gamelan yang merdu. Ketika kesenian ini dimulai, para lelaki baik muda ataupun dewasa akan berkumpul membentuk barisan untuk menari disekeliling sinden dengan menggunakan selendang panjang. Namun saat ini, pelestarian budaya-budaya Indonesia seringkali disisipi oleh tindakan-tindakan yang kurang senonoh. Hal ini cenderung dilakukan untuk menarik perhatian masyarakat sekitar agar berminat untuk menghadiri pagelaran acara. Karena, kebanyakan masyarakat Indonesia, terutama kaum milenial jaman sekarang, seringkali menganggap bahwa pertunjukan seni tradisional Indonesia itu membosankan. Tidak hanya di Tuban, hal ini terjadi hampir diseluruh wilayan Indonesia bahkan dunia.

            Berdasarkan uraian diatas, kesenian Indonesia sudah mulai terlupakan oleh masyarakat Indonesia. Bahkan digunakan cara-cara yang seharusnya tidak digunakan untuk menarik perhatian masyarakat. Salah satunya adalah pagelaran kesenian langen tayub di wilayah Tuban, Jawa Timur. Artikel ini akan membahas tentang 1) penyimpangan-penyimpangan pada pagelaran langen tayub, 2) aksi kejahatan yang meresahkan masyarakat saat pagelaran diadakan, 3) perilaku masyarakat sekitar terhadap penyimpangan-penyimpangan yang terjadi. Dengan demikian artikel yang berjudul “Pagelaran Langen Tayub, Antara Pelestarian Dan Penyimpangan” perlu dibahas lebih lanjut.

            Seiring berjalannya waktu, kesenian langen tayub acap kali disalahgunakan oleh sekelompok masyarakat tertentu. Kesenian yang awalnya mengandung nilai rohani tinggi menjadi kesenian yang digunakan sebagai ajang mabuk-mabukan. Tak sedikit dari masyarakat yang mengadakan pesta minuman keras, baik itu bir, arak ataupun minuman tradisional Tuban yang dapat memabukkan yang dikenal dengan nama tuak. Hal ini tentu saja menjadi keresahan masyarakat sekitar, karena para lelaki yang mabuk sering kali mengganggu ketertiban umum. Lebih parahnya lagi, para waranggono atau sinden biasa memakai “bantal” tambahan di bagian belakang tubuh mereka, agar semakin terlihat lekuk tubuhnya, ditambah dengan pemakaian kebaya super ketat yang mengundang tindakan pelecehan seksual terhadap para siden tersebut.

            Sudah banyak sekali kasus yang terjadi pada saat kesenian ini di gelar. Salah satunya adalah hilangnya salah satu waranggono atau sinden setelah acara selesai. Dan setelah ditelusuri oleh masyarakat beserta para petinggi desa, siden tersebut ditemukan dengan keadaan telanjang bulat akibat perbuatan salah satu warga yang melakukan pemerkosaan. Tidak berhenti disitu, berbagai tindakan pelecehan seksual acap kali didapatkan oleh para sinden dari para lelaki yang sedang menari, seperti tangan para lelaki yang dengan sengaja menyentuh payudara ataupun bagian tubuh tertentu dari para sinden. Selain kejahatan seksual, kekerasan serta pencurian juga sering terjadi yang umumnya disebabkan oleh para pria mabuk. Akan banyak sekali kasus kehilangan barang berharga seperti dompet, perhiasan, hingga motor. Tetapi, semua hal yang terjadi ini tidak menyurutkan animo masyarakat yang menghadiri kesenian ini. Masyarakat yang hadir bahkan semakin membludak seiring bertambahnya waktu.

            Dengan adanya kasus-kasus tersebut, para tetinggi desa sudah berusaha untuk mengingatkan. Namun hal itu akan berlalu saja, karena setelah diingatkan dalam kurun waktu beberapa minggu saja, semua akan kembali terulang. Jadi, kasus-kasus ini harus ditindak secara tegas.

            Melihat hal yang terjadi, apakah pagelaran ini masih dapat disebut sebagai acara pelestarian budaya? Memang masih ada unsur-unsur budaya yang dilaksanakan, namun banyaknya kasus kejahatan yang terjadi menurunkan nilai budaya yang terkandung dalam kesenian langen tayub. Hingga kesenian ini lebih sering menunjukan penyimpangan sosial yang tidak sesuai dengan norma-norma Indonesia. Pegelaran seni yang seharusnya berlangsung dengan hikmat berubah menjadi anarkis. Pagelaran seni yang seharusnya digelar sebagai rasa syukur terhadap Tuhan menjadi pagelaran yang dilakukan atas dasar rasa senang semata.

            Seharusnya, para pejabat desa ataupun pihak yang berwenang lebih tegas dalam menindak hal-hal seperti ini. Karena jika tidak, kesenian langen tayub akan menjadi kesenian yang kkehilangan kesakralannya. Perilaku-perilaku menyimpang yang dilakukan oleh sebagian kelompok masyarakat yang dapat merugikan semua golongan masyarakat tersebut sangat tidak etis dalam sebuah pagelaran seni yang seharusnya memiliki nilai budaya yang tinggi.

 

  • Mahasiswa

Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.