Media Sosial, Pemecah atau Pemersatu Bangsa? - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Felicia Hioe

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 14 Mei 2019

Selasa, 14 Mei 2019 08:50 WIB

Media Sosial, Pemecah atau Pemersatu Bangsa?

Dibaca : 54 kali

Memasuki jaman milenial, semua orang berlomba-lomba untuk memiliki gadget terbaru. Media sosial pun tidak luput dari hal tersebut. Penggunaan media sosial di Indonesia sangat meningkat tajam. “Hasil penelitian dari UNESCO menyimpulkan bahwa 4 dari 10 orang Indonesia aktif di media sosial seperti Facebook yang memiliki 3,3 juta pengguna, kemudian WhatsApp dengan jumlah 2,9 juta pengguna dan lain lain,” ujar Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika, Rosarita Niken Widiastuti dalam kegiatan Bimbingan Teknis SDM Penyiaran angkatan ke 30 yang digelar Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), di Jakarta. Tingginya angka ini memiliki dampak baik maupun buruk. Mudahnya akses ke media sosial menyebabkan kebebasan seseorang dalam berpendapat. Hal ini merupakan sebuah pemicu mulainya pertengkaran. Seringkali, berita yang digugah akun-akun gosip mengundang pertikaian, terutama di kolom komentar. Mudahnya seseorang dalam mengutarakan pendapat menyebabkan tidak terkontrolnya  kata-kata yang dilontarkan seseorang. Tidak hanya itu, media seringkali menggunakan platform media sosial untuk menyebarkan kebohongan, atau yang sering disebut sebagai hoax. Masyarakat yang memiliki perbedaan pendapat pun mudah terpicu menyebabkan bangsa ini terbelah menjadi dua atau lebih kubu. Meninjau hal ini, apakah media sosial merupakan bom waktu yang menunggu saatnya untuk meledak?

Penggunaan media sosial yang berlebihan, ditambah dengan karakter pengguna yang mudah tersulut merupakan dua kombinasi terburuk yang dapat dibayangkan. Perseteruan antara dua atau lebih orang di media sosial sangatlah sering kita jumpai. Contoh yang paling mudah ialah pemilu 2019 yang baru saja diadakan. Masyarakat terbagi menjadi dua kubu, yaitu pendukung paslon 01 dan pendukung paslon 02. Namun, dalam prosesnya, seringkali terjadi perselisihan antara kedua pendukungnya. Di instagram, masyarakat seringkali mengupload cuplikan video yang menyudutkan salah satu paslon. Di whatsapp, banyak sekali beredar berita-berita yang tidak benar, seperti quick count yang tidak berasal dari sumber terpercaya.

Namun, selain hal-hal buruk yang dapat terjadi di media sosial, terdapat hal-hal baik yang dapat menggerakkan kita dalam satu tujuan. Seperti contoh, gerakan anti sedotan plastik. Aksi ini dipopulerkan melalui berbagai media sosial seperti instagram, line, twitter, snapchat, dan lain sebagainya. Selain itu juga banyak sekali gerakan yang memiliki niat baik, dan semuanya dapat terlaksana berkat publikasi yang bagus di media sosial. Aksi-aksi tersebut merupakan bukti nyata bahwa bangsa ini dapat bersatu sebagai poros penggerak perubahan.

Mari kita simpulkan, apakah media sosial merupakan suatu hal yang buruk atau baik? Semuanya kembali lagi kepada para pengguna. Jadilah seorang pengguna media sosial yang tidak menelan mentah-mentah semua berita di internet. Gunakan media sosial untuk hal-hal yang bermanfaat, dan saling menghargai opini pihak lain merupakan kunci dari sebuah keharmonisan.

  • Mahasiswa

Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.