Ujaran Memenggal Kepala Bukanlah Bahan Candaan - Viral - www.indonesiana.id
x

Dewa Made

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 14 Mei 2019 15:18 WIB
  • Viral
  • Berita Utama
  • Ujaran Memenggal Kepala Bukanlah Bahan Candaan

    Dibaca : 1.338 kali

    Sebuah video yang memperlihatkan seorang pemuda mengancam untuk memenggal kepala Presiden Jokowi, viral di media sosial. Pemuda yang belakangan diketahui berinisal HS (25 tahun) itu mungkin tidak menyangka celoteh gaharnya saat demo akan berbuntut panjang. Terlepas dari tudingan dukung medukung salah satu capres, fenomena HS ini selayaknya jadi pelajaran terakhir untuk masyarakat Indonesia.

    Hanya karena saya menulis opini tentang ini, bukan berarti mendukung sepenuhnya upaya represif aparat, yang ‘bergerak cepat’ melacak dan meringkus HS namun ‘bergerak lambat’ dalam mengungkap kasus penyiraman air keras yang dialami Novel Baswedan. Atau pada kasus lainnya, polisi sangat responsif menangani kasus hoax Ratna Sarumpaet sampai sangat kreatif memberikan paparan kronologi detail kebohongannya.

    Saya menggaris bawahi tindakan HS terlepas dari subjek ancaman yang dituju. Karena siapapun orangnya, kalimat ancaman tetaplah meresahkan. Kesalahan fatal HS yang ditindak seharusnya bukan semata karena kalimat ancaman yang ditujukan ke presiden, biar tidak terkesan “mentang-mentang menyangkut presiden, aparat langsung responsif”. Namun kita sebaiknya mulai menyadari bahwa melontarkan kalimat ancaman -entah itu hanya gurauan- di ranah publik atau media sosial, harus dihentikan. Karena kalimat semacam itu bisa diinterprestasikan lain di tiap individu. Dan yang paling dikahawatirkan, memicu aksi brutal dan menebar ketakutan.

    Masih ingatkah anda dengan curhat pebulu tangkis asal Denmark, Mathias Boe atas kritiknya terhadap fans bulu tangkis Indonesia yang bringas pada 2017 silam. Saat konferensi pers dia menyatakan kalau dirinya mendapat kecaman bahkan ancaman pembunuhan lewat media sosial karena telah menumbangkan para pemain Indonesia. Dia berkata, “Di media sosial, saya mendapat ancaman akan hidup saya”. Pernyataan itu disambut gelak tawa wartawan, yang kita kira itu hanya gurauan. Namun tawa itu berakhir ketika dia melanjutkan pernyataanya, ”Saya disebut macam-macam dan di sini kalian duduk sambil tertawa. Padahal jika anda mengancam hidup seseorang di negara lain, anda bisa dipenjara. Anda pikir itu lelucon seperti 'Saya ingin meledakkan bom bunuh diri' dan sebagainya”.  Diapun menambahkan,"Kalau saya tak dihormati mungkin itu bagian dari pertandingan. Tapi kalau kalian pikir mengancam orang itu lucu berarti Anda salah didikan orang tua," katanya. Cuplikan videonya bisa disimak di sini.

    Kejadian itu seharusnya menampar kita dan mulai memperhatikan etika berbahasa di media sosial, meskipun itu hanya untuk lingkungan pergaulan informal. Walaupun hanya bermaksud bercanda, namun belum tentu kalimat ancaman itu dipersepsikan gurauan oleh penerima/ pembacanya. Alih-alih mengundang tawa, malah membuat penerima pesan itu terancam. Lalu mengutip dari pernyataan Boe, jika menyerukan ancaman pembunuhan dianggap enteng, mungkin anda dan HS memang salah didikan dari orang tuanya (tanpa mengurangi rasa hormat orang tua di seluruh dunia).

    Namun, membawa kasus HS ke arah makar juga tidak memperlihatkan tindakan polisi yang elegan dalam menyikapi kelompok anti pemerintah. Padahal, belum tentu HS itu sendiri paham apa itu makar. Kesalahan fatal HS yang perlu ditonjolkan bukanlah soal makar, menyinggung simbol negara, mengancam keamanan negara, dan sebagainya, tetapi lebih menyoroti penggunaan kalimat ancaman itu sendiri. Karena kita tidak seharusnya mendidik masyarakat untuk melontarkan kalimat-kalimat macam itu meskipun saat demo atau di media sosial. Dan memang butuh sanksi yang menimbulkan efek jera bagi pelakunya. Tapi yang terpenting juga, polisi harus transparan dalam menangani kasus ini.

    Semoga dengan terangkatnya berita mengenai HS membuat kita belajar untuk tidak mudah melontarkan kata-kata bernada mengancam ataupun celotahan kebencian yang brutal. Jika kita semua merasa pintar dan terdidik, seharusnya ada diksi lain yang bisa digunakan untuk menyuarakan kritik. Tapi ingatlah, jangan sampai kebencian malah membutakan kita dalam membedakan benar-salah atau baik-buruk. Dan seperti kata para pemuka agama jagalah selalu iman dan jaga nurani.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Admin

    2 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 610 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).