Melupakan 98 - - www.indonesiana.id
x

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 15 Mei 2019 10:01 WIB
  • Berita Utama
  • Melupakan 98

    Dibaca : 406 kali

    Judul: Melupakan 98

    Penulis: Annisa Tang

    Tahun Terbit: 2015

    Penerbit: Garuda Mas Sejahtera

    Tebal: 207

    ISBN: 978-623-213-265-8

    Tragedi Mei 1998 adalah sebuah tragedi yang meninggalkan trauma menganga, khususnya bagi para perempuan Tionghoa. Selain kehilangan harta dan keluarga, banyak perempuan Tionghoa yang mengalami perkosaan massal.

    Namun kita tahu bahwa tak semua fakta kerusuhan 1998 terungkap ke publik. Banyak fakta yang tersembunyi entah karena alasan apa. Khususnya kasus-kasus perkosaan perempuan Tionghoa, misalnya. Kisah tragis ini tak banyak muncul di ranah publik. Di saat sejarah tak mampu berperan mendokumentasikan fakta, maka sastra mengambil alihnya.  Novel ini adalah salah satu bukti bahwa sastra mampu menyuarakan ketidakadilan.

    Novel ini memuat banyak kisah tentang korban-korban perkosaan dalam kerusuhan 98. Lena, perempuan Tionghoa yang diperkosa dan kemudian bunuh diri, A Phei, seorang remaja SMP yang diperkosa ramai-ramai dilukai dan dibunuh sampai mayatnya susah dikenali, dan tokoh utama novel ini, Mei Lan yang diperkosa 8 orang dalam angkot. “Melupakan 98” juga mengisahkan penjarahan dan pembakaran toko, yang dalam beberapa kasus sang empunya masih berada di dalam tokonya.

    Kisah relawan yang dibunuh saat hendak membawa beberapa korban untuk memberi kesaksian ke luar negeri juga masuk dalam novel ini. Tokoh bernama Ita adalah seorang perempuan keturunan Tionghoa yang menjadi relawan. Ita mendampingi para korban supaya mereka lebih kuat dalam menghadapi peristiwa horor yang dialami para korban. Dalam upayanya membawa beberapa korban untuk bersaksi di luar negeri Ita bersama saksi-saksi korban perkosaan, diperkosa dan dibunuh dalam perjalanan ke bandara.

    Mei Lin adalah anak dari pasangan Xi Lin dan Xiao Tan, seorang pedagang keturunan Tionghoa. Pada peristiwa kerusuhan 1998, Xi Lin terbunuh saat tokonya dibakar. Mei Lin dan ibunya ditolong oleh keluarga A Cin. Mereka dipinjami salah satu rumah kontrakan yang sangat sempit. Peristiwa ini membuat Mei Lin trauma. Tetapi Mei Lin segera sadar bahwa ia harus mengambil alih tanggung jawab papanya. Mei Lin berupaya mencari kerja. Mengingat bahwa situasi belum sepenuhnya aman, Xiao Tan tidak mengijinkan Mei Lin bekerja.

    Saat konflik antara Mei Lin dan ibunya sedang berlangsung, Chong Lie datang dan menawari pekerjaan di butik mamanya. Chong Lie adalah pacar Mei Lin sebelum kerusuhan. Namun Mei Lin begitu kecewa karena saat kerusuhan justru Chong Lie menghilang. Apalagi perjumpaan terakhir mereka, Mai Lin melihat Chong Lie sedang memeluk Leni, sahabat karib Mei Lin. Meski Mei Lin masih marah kepada Chong Lie, tetapi tawaran bekerja di butik mamanya diterimanya.

    Mei Lin diantar jemput oleh Chong Lie untuk bekerja di butik. Dalam perjalanan ke tempat kerja itulah akhirnya Mei Lin tahu bahwa sesungguhnya Leni adalah korban perkosaan. Leni bunuh diri karena tidak kuat menanggung derita akibat dari perkosaan tersebut. Mengetahui cerita tentang Leni, Mei Lin kembali berbaikan dengan Chong Lie.

    Karena Chong Lie di suatu pagi tidak datang menjemputnya (ternyata Chong Lie mengalami kecelakaan), Mei Lin berangkat kerja dengan menumpang angkot. Perjalanan berangkat kerja dengan angkot inilah awal dari petaka bagi Mei Lin. Ia diperkosa oleh 8 orang yang berada di angkot tersebut. Melalui bantuan Ita, seorang relawan, dukungan ibu dan A Cin, Melani berhasil keluar dari trauma perkosaan. Apalagi hubungan asmaranya dengan Chong Lie juga kembali mesra. Chong Lie memutuskan untuk tetap menikahi Mei Ling. Sayang sekali, ternyata Mu Tang tak merestuinya.

    Saat Mei Lin mempertimbangkan dengan serius tawaran A Cin untuk menjadi suaminya, tiba-tiba Chong Lie kembali muncul. Merasa bahwa ia tak akan bisa mengambil keputusan terhadap dua pemuda yang menginginkannya, ia memutuskan untuk pergi dan menghilang. Mei Lin muncul lagi di akhir cerita sebagai seorang perempuan berjilbab, bernama Amira. Ia datang bersama Bram suaminya. Amira dan Bram suaminya datang untuk menemui Xiao Tan, ibu Mei Lin.

    Trauma kerusuhan 98 memang sangat hebat. Peristiwa kerusuhan ini memakan banyak korban bagi keturunan Tionghoa di Indonesia, khususnya di Jakarta dan Solo. Penjarahan dan pembakaran aset milik orang-orang Tionghoa terjadi sangat masif di kedua kota tersebut. Banyak berita yang beredar dari mulut ke mulut (yang saya kain benar) di kedua kota tersebut juga terjadi perkosaan terhadap perempuan-perempuan Tionghoa. Namun berita-berita perkosaan ini tidak menyebar melalui pemberitaan resmi.

    Banyak dari korban perkosaan tersebut yang depresi dan menjadi gila. Banyak juga yang kemudian bunuh diri karena tidak kuat menanggung derita. Namun ada satu dua korban yang berhasil mengatasi trauma dan mencoba menjalani kehidupannya dengan tegar. Mei Lin dalam novel ini menggambarkan para korban yang kemudian berani meneruskan hidupnya. Para korban yang berani meneruskan hidup ini kemudian mengambil identitas baru untuk melupakan identitas lamanya. Semoga kelak, setelah gejolak trauma mereda, ada para korban perkosaan yang berani menuliskan kisah hidupnya. Penulisan kisah hidup para korban sangat penting supaya kebenaran bisa diungkapkan. Hanya dengan pengungkapan kebenaran, menghukum mereka yang bersalah dan kemudian pengampunanlah yang bisa menyelesaikan persoalan. Bukankah Nelson Mandela menyatakan: “Tak ada rekonsiliasi tanpa mengungkap kebenaran dan setelah itu pengampunan.”

    Para korban inilah yang nantinya akan berani mengungkapkan kebenaran, memberikan pengampunan demi rekonsiliasi bangsa demi menjahit kembali koyak-koyak di kain tenun kebangsaan.

     

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Admin

    2 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 595 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).