Kejanggalan Logika dari Kisah Rambut Nabi Muhammad - Viral - www.indonesiana.id
x

Istiqomatul Hayati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 17 Mei 2019 06:24 WIB
  • Viral
  • Pilihan
  • Kejanggalan Logika dari Kisah Rambut Nabi Muhammad

    Dibaca : 27.956 kali

     Sepekan kemarin, ada berita yang jujur menghibur sekaligus membuat saya langsung mengernyitkan dahi: klaim Opick bahwa ia dipercaya membawa sehelai rambut Nabi Muhammad SAW. Oh ya, pertama, jika Anda percaya klaim itu benar adanya, disarankan gak usah baca tulisan ini karena bisa membuat Anda emosi dan membatalkan puasa. Tulisan ini opini pribadi saya yang langsung takjub seketika dengan kabar ini.

    Ya betul, saya termasuk yang tidak percaya bahwa yang dibawa Opick dari Turki itu benar-benar rambut Nabi Muhammad SAW, manusia termulia di bumi ini bagi umat Islam. Banyak pertanyaan yang menyebut kejanggalan dalam logika saya soal ini.

    1. Siapa Opick sehingga (jika benar) Dewan Mursyid Thariqad Internasional di Turki mempercayakan sehelai yang diduga rambut Nabi Muhammad. Saya yakin banyak pertanyaan senada diarahkan kepada mantan suami Dian Rositaningrum ini. Jawaban kemudian, dia adalah pengurus Dewan Mursyid Thoriqod Indonesia. Well, apapun itu dan jabatan, soal ini benar-benar di luar nalar. Seberapa penting dia hingga mendapatkan kepercayaan amat mulia itu? Kok diam-diam? Jika dia bercerita bahwa rambut itu benar milik Baginda Nabi, tidak mungkin pemerintah diam saja?
    2. Bicara soal relik rambut dari tokoh yang dimuliakan, tidak mungkin rambut itu akan dibiarkan tersebar di tangan orang per orang atau komunitas. Apalagi usianya sudah ribuan tahun. Tentu saja akan dikuasai Pemerintah Turki. Bicara logika, jika ditempatkan di museum, akan mendatangkan turis. Masak iya, barang berharga dibiarkan lolos keluar Turki dan dipercayakan kepada orang yang belum berpengalaman memegang relik? Arkeolog tidak dilibatkan nih?
    3. Sejarah benda yang diduga rambut itu sendiri bagaimana riwayatnya? Sanadnya bagaimana? Adakah keterangan tertulis siapa yang turun temurun memegangnya? Oh ya, adakah arkeolog Turki yang bisa menjelaskan?
    4. Opick mengatakan riwayat rambut itu dikawal oleh tujuh pasukan tempur Rusia dan begitu datang disambut ribuan umat Islam. Tapi, mengapa saat datang ke Indonesia terkesan diam-diam. Ini rambut Nabi Muhammad lho, datang ke negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia. Memang ada penyambutnya, tapi ya teman-teman dia saja itupun gak sampai ratusan orang.
    5. Soal perlakuan rambut. Bagian ini sukses membuat saya tertawa terbahak-bahak. Jika ini adalah benar rambut Nabi Muhammad, maka usianya sudah di atas 1.400 tahun. Bagaimana mungkin, sebuah relik atau peninggalan dari tokoh masa lampau yang dikeramatkan, hanya dibungkus dalam botol? Saya bukan seorang arkeolog, tapi setidaknya saya tahu bukan begitu saja memperlakukan relik. Tentu saja ada pengaturan suhu udara agar benda itu awet, mungkin memakai zat kimia apa yang bisa membantu mengawetkan, dan sudah pasti tidak digendong ke sana ke mari.
    6. Yang lucu buat saya, saat benda yang diduga rambut Nabi Muhammad itu tiba di tanah air, diletakkan di dalam botol, dimasukkan ke dalam kotak kaca, dibungkus kain hijau selayaknya bekal zaman orang-orang dulu, dan dipanggul di atas kepala. Iya, dipanggul selayaknya aksi bongkar muat kapal.
    7. Pernyataan istri Opick, Bebi Silvana pun terasa menggelikan. Menurut dia, saat dia, Opick, dan kerabat mereka membawa benda yang diduga rambut Nabi Muhammad itu, awan memayungi perjalanan mereka di darat dan di udara. Apakah ini cara dia agar ceritanya meyakinkan? Memang, Allah menghadirkan Muhammad manusia yang istimewa. Ia selalu dipayungi awan kemanapun pergi. Apa maksud dari cerita Bebi ini bahwa rambut itu benar-benar milik Nabi Muhammad? Apa yang bisa membuktikan keasliannya?
    8. Jika benar ini relik Nabi Muhammad, baiklah, ini pertanyaan sederhana saya. Karena usianya sudah 1.400 tahun, selain Opick, siapa lagi yang menyimpan helai-helai rambut lain atau apapun dari beliau? Seharusnya ada pencatatannya tersebar di mana saja. Dan karena ini berasal dari satu orang, tentunya peninggalan ini amat terbatas, lha ya gegabah sekali kalau dibiarkan keluar dari tempat asalnya.

    Saya mencoba googling soal rambut Nabi Muhammad ini di Turki. Memang ada, tapi jenggot Nabi Muhammad yang disimpan di Topkapi Palace di Istambul.  Ada juga sih, video di YouTube, yang memperlihatkan helai rambut Nabi Muhammad tengah dibuka untuk diciumi dan di situ tertulis di Museum Turki. Atau sejumput rambut Nabi Muhammad  yang disimpan di Museum Dubai, UEA. Tapi sekali lagi, relik ini dikuasai oleh pemerintah bukan dipercayakan ke perorangan.  

    Anda tahu bendera Sang Saka Merah Putih kan? Bendera pusaka Indonesia yang dijahit Ibu Fatmawati 74 tahun lalu itu sejak 1999 tak lagi dibawa di Upacara 17 Agustus di Istana. Kenapa? Ya karena sudah lapuk, maka disimpan saja. Ini benda usianya belum 100 tahun lho, lalu bagaimana rambut Nabi Muhammad yang jika benar, usianya sudah 1.400 tahun???

    Saya gak tahu motivasi Opick dan istrinya dengan kisah rambut Nabi Muhammad SAW ini. Apakah dengan kehebohan ini orang datang ke rumahnya dan mungkin ( mungkin lho ya) terketuk hatinya untuk berdonasi demi perawatan rambut itu. Pada akhirnya, ketika MUI menyatakan keraguannya dan menilai ini bid’ah, Opick meminta tidak diadu pendapat. Tapi, bukannya mengklarifikasi masalah ini dengan mendatangi MUI misalnya, ia tetap berusaha meyakinkan bahwa ia menempatkan rambut itu dengan mengatur suhu secara amatiran tanpa melibatkan arkeolog atau siapapunlah yang lebih pakar. Ia juga membiarkan orang yang percaya datang dan berharap bisa menciumi benda yang diduga rambut Nabi Muhammad itu.

    Di bulan puasa ini, menurut saya, ketimbang kita mempercayai benda yang belum jelas benar rambut Nabi Muhammad dan terobsesi untuk datang sekadar menciuminya (yang menurut saya mengarah ke syirik), akan lebih baik jika memperbanyak baca Al Quran. Sebenar-benarnya warisan Rasulullah itu bukan rambut yang tidak jelas kebenarannya tapi Al Quran dan As Sunnah.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.