Dapatkah Kita Menggugat Prostitusi? - Viral - www.indonesiana.id
x

Novia Utami

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 16 Mei 2019

Jumat, 17 Mei 2019 11:57 WIB
  • Viral
  • Pilihan
  • Dapatkah Kita Menggugat Prostitusi?

    Dibaca : 120 kali

    Di bulan yang penuh berkah ini, tentu saja kita ingin menjadi orang yang beraklak baik. Namun, walau cenderung pesimis, dengan melihat realita di sekitar kita, tentu saja kita semakin skeptis dengan hidup ini. Krisis moral dan krisis identitas menggerogoti bangsa ini. Mulai dari perbedaan kelas, perbedaan agama, hingga perbedaan pilihan politik menjadi senjata untuk menghabisi sesama kita yang berbeda. Krisis moral akut yang terjadi di Negara ini pun rasanya tak bisa dilepaskan begitu saja dari peran kemajuan teknologi. Bagaimana tidak, dengan sekali klik, semua informasi bisa di dapat, baik yang positif maupun negatif, baik valid maupun tidak, semua dapat diperoleh dengan mudah, hanya dengan sekali klik. Kemudahan mencari informasi tersebut berimbas pada maraknya pornografi di Indonesia. Walaupun pihak MENKOMINFO sudah melakukan pemblokiran di beberapa situs porno, namun tetap saja tingkat pengakses situs porno terus meningkat dari tahun ke tahun. Selain itu, kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual juga perlahan meningkat. Pornografi selalu berkaitan dengan kegiatan seksual. Orang yang kecanduan pornografi, adalah orang yang (biasanya) tak bisa lepas dari kegiatan-kegiatan seksual, seperti membaca cerita seks (stensilan), menonton film porno, masturbasi setelah menonton film porno, atau bahkan pergi berkunjung ke tempat prostitusi untuk melampiaskan nafsu birahinya.

     

    Sungguh, Tempat itu adalah Surga Dunia!   

    Secara umum, di Jakarta, di masing-masing wilayah terdapat tempat-tempat prostitusi yang memiliki ciri khas yang berbeda satu dengan lainnya. Setidaknya, menurut saya pribadi dari hasil wawancara dengan beberapa pihak, tempat-tempat prostitusi di Jakarta dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori, yakni kelas bawah, kelas menengah dan kelas atas.

    Pertama, kelas bawah. Di kelas bawah ini, biasanya tempatnya tidak diadakan di sebuah tempat yang khusus seperti hotel, tempat karaoke, dan sebagainya, tapi tempat prostitusi kelas bawah ini dapat kita temukan di taman terbuka dengan lampu remang-remang ataupun di pinggiran rel kereta api. Di Jakarta Timur misalnya, tepatnya di seputaran Jatinegara, ada tempat prostitusi di pinggiran rel kereta api, biasanya pelanggan yang datang ke tempat seperti ini berasal dari kelompok kelas bawah pula, seperti tukang ojeg, supir, pedagang, dan sebagainya. Di kelas bawah ini, tarif yang dikenakannya pun beragam, mulai dari Rp.30.000,- sampai Rp.100.000,- sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Kedua, kelas menengah. Tempat prostitusi kelas menengah dapat kita temui di beberapa tempat, misalnya di wilayah Jakarta Pusat, tepatnya di daerah Mangga Besar. Kira-kira apa yang dipikirkan orang pertama kali ketika mendengar kata “Mangga Besar” selain jajanan makanannya? Sudah pasti: tempat prostitusi-nya! Ya memang, kalau kita cermati, atau misalkan saja ketika kita lewat di jalan Mangga Besar Raya atau di jalan Gajah Mada sampai Hayam Wuruk pada malam hari (diatas pukul 10 malam misalnya), perhatikanlah gedung-gedung yang ada di kanan kiri jalan, tepatnya, arahkanlah pandangan anda ke gedung-gedung yang memancarkan cahaya lampu berwarna warni, anda akan tahu bahwa tempat itu adalah tempat prostitusi atau bukan bahkan tanpa perlu menelitinya secara lebih detail. Batas antara tempat prostitusi kelas menengah dan kelas atas, sebenarnya tak terlalu jelas. Samar-samar. Karena tempat prostitusi kelas menengah dan kelas atas sama-sama berkedok hotel, tempat karaoke, tempat pijat, dan sebagainya. Ada sebuah ruangan khusus yang diperuntukkan untuk memanjakan pelanggan.

    Tempat prostitusi kelas menengah tak hanya ada di seputaran Harmoni-Kota, namun dapat pula ditemukan di daerah-daerah lain. Misalkan saja di daerah Kelapa Gading, ada tempat prostitusi berkedok lounge yang tampilannya lumayan mewah. Bisnis prostitusi berkedok lounge ini memang dapat kita temui di mana-mana, namun lounge-prostitusi di Kelapa Gading memiliki konsep yang unik. Keunikannya adalah karena lounge itu berada di satu komplek dimana isinya adalah gabungan dari beberapa tempat prostitusi dengan berbagai macam kedok. Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa bisnis prostitusi tak melulu berkedok lounge ataupun hotel, ada tempat prostitusi berkedok tempat karaoke, massage, diskotik, atau bahkan café biasa. Cara menjajakannya pun berbeda-beda. Tiap lokasi punya Term of Reference-nya sendiri-sendiri. Misalkan saja, yang paling komplit adalah tempat prostitusi kelas menengah yang berkedok hotel di seputaran pasar baru, tak begitu jauh dari Gajah Mada Plaza. Hotel ini termasuk hotel (lumayan) mewah yang ada di Jakarta. Berdiri di atas tanah sekitar 1 hektar, hotel ini memiliki delapan lantai. Jika anda pengendara motor, anda akan diarahkan untuk parkir di lantai bawah (basement). Sedangkan untuk parkiran mobil tersedia dari lantai tiga sampai lantai delapan. Dari basement, para pengendara motor akan diarahkan masuk dengan dua pilihan, mau naik tangga (yang tidak berjalan) atau elevator. Di lantai basement ada pula tempat spa dan pijat plus-plus. Perempuan yang ditawarkan di situ, bukan hanya perempuan lokal, tapi juga dari luar negeri (Cina, Thailand, Uzbek, Hongkong, dsb). Harga yang ditawarkan pun beranekaragam tergantung seperti apa permintaan si pelanggan mulai dari Rp.400.000,- sampai dengan Rp.2.000.000,-. Yang jelas harga lokal lebih murah dari pada harga luar. Dari basement, kalau anda naik tangga menuju lantai dasar anda akan menemukan dua buah restoran, yang satu tempatnya agak tertutup, dan satu lagi persis di depan pintu utama, tempatnya agak terbuka. Di lantai dasar inilah baru dapat ditemukan escalator guna memudahkan para pelanggan untuk naik ke lantai satu, dua, dan seterusnya. Di lantai satu anda kembali dapat menemukan sebuah restoran bernuansa asia (mungkin Jepang/China). Naik ke lantai dua, anda akan menemukan satu tempat yang dinamakan terminal dua. Isinya adalah gadis-gadis cantik dan seksi yang duduk di sofa eksklusif, tarif yang dikenakan di terminal dua untuk bisa dilayani oleh perempuan cantik adalah Rp.350.000,-. Di lantai tiga dan empat, ada café dan tempat karaoke, sedangkan di lantai lima anda akan menemukan sebuah tempat bernama terminal lima, yang hampir sama dengan di lantai dua. Dan baik di lantai dua maupun lima, sama – sama menawarkan produk lokal saja. Sedangkan di lantai enam sampai delapan, tersedia parkiran mobil dan penginapan ala kadarnya (short-time).

    Kategori yang terakhir adalah tempat prostitusi kelas atas. Pada level ini, para pelanggan disuguhkan dengan perempuan-perempuan yang betul-betul membuat mata terbelalak, mulut menganga, dan jantung berdegub cepat. Misalkan saja di sebuah hotel berbintang di daerah kota tua. Tidak sembarangan orang yang mampu datang ke tempat ini, sebab budget yang diperlukan untuk dapat menikmati pelayanan dari perempuan-perempuan itu tidaklah sedikit, bahkan bisa mencapai Rp.3-5 jt.

     

    Mengugat Tempat Prostitusi = Menggugat Para Pemilik Modal

    Segala sesuatu bisa diperoleh di tempat prostitusi. Apapun warna kulit anda, apapun agama anda, apapun golongan darah anda, dan sejelek apapun paras anda, jika anda memiliki uang banyak, anda dapat memesan perempuan seperti apapun jenis dan bentuknya untuk di-kencani. Semua tipe perempuan ada di tempat protitusi, mau yang hidungnya mancung, jidatnya lebar, payudaranya besar, rambutnya merah, atau apapun juga permintaan anda dapat dikabulkan asal anda sanggup pula untuk membayarnya. Di hadapan uang, semua manusia adalah sama. Mungkin kalimat itu yang paling tepat menggambarkan bagaimana relasi antara (kuasa) uang dan kepemilikan dalam ranah ini. Ranah prostitusi.

    Semua perempuan yang bersolek di tempat itu dapat dipilih dengan bebas, mau satu, dua, bahkan lebih, bisa diperoleh dengan cara yang sangat mudah. Tak perlu repot, karena begitu anda melangkahkan kaki ke dalam ruangan tersebut, anda akan disambut bak putra raja, sang pemilik perempuan-perempuan itu atau yang biasa disebut dengan mami akan dengan luwes menawarkan barang-barang kepunyaannya yang tak lain adalah perempuan-perempuan cantik itu. Di tempat seperti itu, perempuan dijadikan objek, dijadikan benda yang bisa dibeli, dan di eksploitasi oleh sang pemilik sementara. Inilah yang disebut dengan dosa dari aktor-aktor kawakan pelanggeng budaya patriarki. Perempuan dalam budaya patriarki dianggap sebagai alat dan posisinya selalu berada di bawah laki-laki. Identitas perempuan dalam budaya patriarki dijadikan jenis kelamin kedua. Figur perempuan senantiasa mengalami penindasan dan tindak ketidakadilan dalam budaya patriarki.

    Di tempat-tempat prostitusi biasanya didominasi oleh rupa dan jenis perempuan yang hampir sama, yakni dengan kulit putih, rambut panjang, tubuh sedikit berisi, dan bau badan yang harum mewangi. Seperti layaknya pasar yang terus menerus menyesuaikan dengan kebutuhan konsumen, demikian pula tempat prostitusi juga menyesuaikan dengan kebutuhan pelanggan. Dominasi perempuan yang cantik dengan kulit putih, rambut panjang, make up tebal memesona adalah kontruksi yang dibentuk oleh masyarakat itu sendiri secara khusus lewat media. Maka tak heran, standardisasi kecantikan perempuan dimutlakkan dengan kriteria tertentu dan disediakan oleh tempat prostitusi.

    Eksistensi tempat prostitusi memang sudah lama digugat. Banyak pihak yang ingin menutup tempat-tempat seperti itu dengan alasan moralitas, namun tempat prostitusi adalah bisnis yang mendatangkan keuntungan yang sangat besar. Bisnis adalah bisnis, dimana ada aliran uang yang deras disitulah ada pengusaha dan pemilik modal yang siap memutar otak untuk membangun tempat prostitusi lagi, lagi, dan lagi. Dan sejauh manusia dalam hal ini laki-laki masih membutuhkan sensasi sensasi lebih yang tak di dapatkan dirumah, dan sejauh terus menganga-nya kemungkinan untuk pergi ke tempat prostitusi, maka walaupun terus digugat, tempat-tempat seperti ini akan tetap terbuka lebar dan para mami-pun akan semakin ramah menyapa para pelanggan kesayangannya, untuk menjebak mereka masuk ke dalam perangkap. Inilah dosa kapitalisme: meraup untung sebanyak-banyaknya tanpa peduli dengan dampak yang ditimbulkan. Ada sebuah lingkaran kegelapan yang berusaha keras menolak paham moralitas, yang mau menyingkirkan moralitas secara total, dan yang membuat bangsa ini semakin terpuruk dalam krisis moral yang tak berkesudahan, lagi-lagi semua karena uang.  Dengan demikian, perlukah kita menggugat tempat prostitusi tersebut? Atau biarkan saja dengan pengandaian tiap orang memiliki super-ego-suara hati nya masing masing yang memampukannya untuk bertindak dengan baik dan benar? Jika kita menerapkan logika pasar terhadapnya, maka dapat kita pastikan bahwa tempat prostitusi harus tetap ada bahkan harus dikembangkan sedemikian rupa karena itulah lumbung-lumbung kekayaan bagi para pemilik modal. Namun, jika menekankan pada kehidupan bermoral, sudah pasti eksistensi tempat prostitusi harus dihentikan karena tidak mengembangkan moral masyarakat ke arah yang lebih baik. Persoalan ini bukanlah persoalan yang mudah, khususnya di Jakarta ini, karena di balik superioritas dari keberadaan tempat prostitusi ada kekuatan pasar yang ditopang oleh para kapitalis-kapitalis yang siap menerkam siapa saja yang mencoba untuk memutus aliran uang ke dalam pundi-pundinya.

    Melihat fenomena tersebut, rasanya tidak mungkin kita menggugat eksistensi tempat prostitusi tersebut dengan tanpa kekuatan yang memadai, dengan kata lain, harus ditempuh cara lain agar moralitas orang-orang Jakarta tak terus tergerus oleh kenikmatan-kenikmatan sesaat saja. Setidaknya alternatif solusi yang dapat kita jalankan dari persoalan ini, adalah dengan cara membangun kesadaran moral agar nantinya tidak mudah jatuh pada kenikmatan-kenikmatan sesaat. Itulah pekerjaan yang terus menghantui orang Jakarta secara khusus adalah bagaimana caranya untuk membangun moralitas setidaknya anak-anaknya agar nanti ketika mereka tumbuh dewasa mereka tidak mudah jatuh ke dalam lubang hitam, tempat prostitusi tersebut. Pendidikan suara hati, moralitas, etika, dan sebagainya harus terus ditumbuhkembangkan dengan cermat, agar eksistensi tempat prostitusi beserta benturan budaya dan kemajuan teknologi tak menggerus iman dan moralitas yang semakin hari rasanya semakin jatuh kedalam ketidak pekaan. Semoga.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.