Nepotisme Gaya Baru - Analisa - www.indonesiana.id

Georona KA

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 19 Mei 2019

Minggu, 19 Mei 2019 23:43 WIB

Nepotisme Gaya Baru

Dibaca : 418 kali

Seiring berkembangnya zaman setiap manusia semakin mudah terhubung satu dengan yang lainnya. Tidak jarang hubungan-hubungan yang terjalin tersebut menjadi sebuah kedekatan yang spesial dan penuh maksud, tujuan, dan kepentingan. Kedekatan hubungan ini kerap kali menjadi sebuah penyakit yang menciderai sebuah integritas dalam pengambilan sebuah keputusan. Penyakit inilah yang dikenal sebagai nepotisme. Nepotisme berasal dari Bahasa latin yaitu nepos yang berarti keponakan atau secara istilah diartikan sebagai kecenderungan untuk mengutamakan sanak saudara dan kerabat terdekat dalam mendapatkan hak istimewa di masyarakat seperti jabatan dan pangkat di pemerintahan.

Nepotisme masa kini menyerang berbagai lini masyarakat mulai dari kalangan bawah sampai dengan kalangan elit politik negeri ini. Ironisnya Pancasila yang dijunjung tinggi oleh bangsa justru di ciderai melalui tindak nepotisme. Hal ini disebabkan karena tindakan ini akan menguntungkan kepentingan pribadi dan kerabat terdekat seseorang diatas kepentingan masyarakat, bangsa, dan negera. Pancasila dalam sila kedua berisikan bahwa kehidupan dalam bermasyarakat harus terjalin melalui sebuah rasa kemanusiaan yang adil dan beradab. Selain itu, lama kelamaan nepotisme akan merusak sendi-sendi kebersamaan serta memperlambat tercapainya tujuan nasional yang tercantum pada pembukaan UUD 1945.      

Adanya nepotisme akan merugikan banyak pihak yang sebenarnya layak dan berkompeten dalam suatu pekerjaan. Mereka harus merelakan kesempatan kerja tersebut direbut secara paksa hanya karena tidak memiliki akses kekerabatan.  Lebih parahnya tindakan nepotisme ini nantinya akan memicu tindakan yang dikenal dengan istilah bagi-bagi jabatan. Tindakan tersebut akan berbahaya karena hanya mementingkan hubungan kekerabatan tanpa memperdulikan tingkat keahlian dan kompetensi yang dimiliki oleh seseorang. Pihak-pihak yang melakukan tindakan nepotisme akan merasa berkuasa dan bahagia dikarenakan mendapatkan segala sesuatunya secara instan dan cepat, sedangkan mereka yang tidak mengetahui apa-apa telah menjadi korban dari ketidak adilan.

Melalui nepotisme akan menjadikan rusaknya tatanan keadilan dalam berkehidupan. Hal ini jelas jelas telah melanggar salah satu sila dalam Pancasila yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Masa depan negeri ini sedang dipertaruhkan ditengah virus nepotisme yang sedang menyebar dan menjangkiti bangsa Indonesia. Tragedi seperti ini tidak hanya terjadi pada dunia pekerjaan saja. Akan tetapi, pada lingkup perguruan tinggi juga sering terjadi. Seringkali kita mendengar praktik jual beli kursi perguruan tinggi yang harganya bisa mencapai ratusan juta rupiah atau juga kita pernah dengar istilah “anak titipan”, “jalur belakang”, dan “orang dalam” itu semua adalah praktik kotor nepotisme.

Pada akhirnya setelah mengetahui semua sebab dan akibat dari nepotisme, bisa disimpulkan bahwa nepotisme adalah “benalu sosial” yang merusak tatanan masyarakat, pemerintahan, dan menghambat tujuan nasional negeri ini. Selain itu, nepotisme juga merupakan bagian dari gejala sosial yang menyimpang, karena merugikan individu lain dalam masyarakat, melunturkan nilai-nilai keadilan, serta tidak memihak kepentingan bersama. Apabila nepotisme tidak segera diberantas, maka nepotisme akan semakin mengakar kuat pada setiap lini masyarakat. Ketidak berhasilan dalam membendung nepotisme nantinya menjadi bukti bahwa perilaku tersebut sudah menjadi penyakit kronis dan sudah tidak mempan lagi diobati.

  • Politik Uang

Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.