Rasa Cinta yang Menjemput Kesuksesan - Analisa - www.indonesiana.id
x

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 20 Mei 2019 07:01 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • Rasa Cinta yang Menjemput Kesuksesan

    Dibaca : 96 kali

    Manusia memiliki zona masing-masing dalam prosesnya menuju sukses. Hal yang dipilih sebagai zona tersebut dikembangkan melalui daya serapnya menjalani kehidupan. Maka yang harus dipahami adalah bukan apa yang manusia telah gapai, tetapi bagaimana kekuatan yang ia bangun dalam prosesnya menuju kesuksesan.

    Dan menjadi manusia yang sukses bukan berdasarkan apa yang yang telah ia dapatkan, tetapi bagaimana cara dia mampu bertahan untuk mencapai kesuksesan tersebut. Karna apa yang kita telah ia dapatkan bisa menjadi hilang sirna, tapi bertahan dalam mencapai kesuksesan adalah sebuah pilihan.

    So, create your own success by what do you want. Kenapa harus mengukur sukses dari melihat orang lain, sedangkan yang merasakan adalah kita. Kita yang merasakan lika liku dalam meraih bintang yang berkedip manis di depan mata.

    Pagi yang tidak pernah seterang pagi ini. Cerah menawan, seperti sinar bintang sirus. Alhamdulillah.
    Pelajaran ini tentang bagaimana aku ingin tumbuh dengan memberi, bukan pada siapa, bukan mengapa kita harus memberi. Tapi bagaimana cara memberi cinta, cinta yang sesungguhnya, cinta yang abadi nan tulus. Kemudian suatu hari di pagi buta, ada sekelompok manusia, tanpa aku pernah melihat bola matanya, tanpa pernah aku dengar nyaring dan lembut suaranya.

    Ini perjalanan panjang. Tentang manusia yang tanpa mengenal, kemudian memberikan arti kehidupan. Bagaimana memperlakukan manusia, bagaimana mencintai tanpa harus mengenal. Ini bukan hanya tentang dua insan manusia, ini tentang bumi dan isinya, serta langit dengan pesonanya. Maka manusia menjadi mutlak untuk memberi cinta. Cinta dari surga.

    Apa aku terlampau sibuk? Untuk apa kesibukanku?
    Mengapa aku seakan ragu. Padahal sabdamu sungguh nyata dalam fatamorgana dunia dan hingar bingarnya yang tanpa arah.
    Sebab jalanku belum ku hempaskan pada setapak menuju keridhoan-mu. Sebab aku masih mengarungi fatamorgana yang aku lihat begitu jelas seperti siluet malam yang akan mendatangkan fajar.

    Aku lupa mengapa dunia sempit sekali membuatku bernafas. Sebab belum kuarungi lentera yang kau jadikan ia cahaya hingga malamku penuh makna. Sebab selama ini aku tersesat.
    Tetapi masih kau beri aku ladang yang hijau menghampar begitu luasnya, hingga aku sulit sekali berenang. Sebab menyibak tangkaian padi menjajar lebih menyeramkan dari menyelam dalam air bebatuan. Namun kini aku berusaha senantiasa mencintai, menghargai, menghormati bahkan menerima segala keputusan yang telah ku buat. Dimana ia telah ku pertimbangkan sematang-matangnya di setiap malam dengan sujudku.

    Dimasa ini, aku mencoba untuk memulai mencintai dari diri sendiri hingga orang yang berada disisiku dan yang mengelilingiku. Tanpa batas, tanpa alasan. Karena aku percaya, dengan rasa cinta yang telah tumbuh, mampu menguasai segala keinginan untuk mencapai bintang yang tiada tandingannya. Namun karena aku hanya seorang insan yang lemah, tak lupa selalu aku sebut nama-mu disetiap perjalananku agar ku tak tersesat. Agar ku mampu berpijak di jalan keridhoanmu tanpa sia-sia.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.