Pergumulan Etnis Tionghoa Indonesia - Analisa - www.indonesiana.id

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 22 Mei 2019 10:30 WIB

Pergumulan Etnis Tionghoa Indonesia

Dibaca : 359 kali

Judul: Hatiku dan Negeriku

Penulis: Barnabas Sudirgo Ong

Tahun Terbit: 2007

Penerbit: Bina Sahabat Osindo

Tebal: 229

ISBN:

Buku ini berisi tentang pemikiran-pemikiran Barnabas Sudirgo Ong alias Ong Pik Tjwan tentang berbagai isu kebangsaan. Supaya singkat, untuk selanjutnya saya akan menggunakan Ong saja. Ong adalah seorang pendeta Kristen dengan latar belakang etnis Tionghoa yang sekarang tinggal di Australia. Dalam buku ini kita diajak untuk ikut memahami pergumulan Ong tentang jatidirinya sebagai seorang etnis Tionghoa, kecintaannya kepada NKRI dan pilihannya untuk tinggal dan menjadi warganegara Australia. Dalam buku ini kita disuguhi bagaimana iman Kristen, nilai-nilai ketionghoaan dan kebangsaan berkelindan dalam menanggapi berbagai isu.

Ong dilahirkan pada Bulan Desember 1945, di keluarga etnis Tionghoa di Kota Solo. Ayahnya adalah seorang pecinta Republik Indonesia. Ayahnya ikut serta mengurusi kegiatan PON I yang diselenggarakan di Kota Solo. Lahir dalam keluarga yang cinta Republik membuat pergaulan masa kecil Ong tiada jarak dengan anak-anak dari etnis lain, khususnya etnis Jawa. Rumah mereka memang bertetangga. Mereka berenang di kali yang sama, bermain bola di lapangan yang sama. Meski Ong bergaul erat dengan anak-anak etnis Jawa, namun sebagai seorang etnis Tionghoa ia juga pernah mengalami trauma. Kejadian pembakaran toko-toko orang Tionghoa sering terjadi di Kota Solo. Ia juga menghadapi situasi dimana sebagai etnis Tionghoa harus mengalami diskriminasi tentang administrasi kependudukan. Meski demikian, rasa kebangsaannya ternyata lebih kuat daripada segala trauma yang dialaminya.

Ong terpaksa memilih mengganti kewarganegaraan karena alasan keluarga. Anak tunggalnya yang dulunya bangga sebagai anak Indonesia, tiba-tiba berubah saat melihat kerusuhan di Solo di tahun 1980. Saat itu keluarga Ong sedang di Solo. Anaknya menyaksikan sendiri bagaimana toko-toko milih etnis Tionghoa dibakar. Sejak saat itu sang anak mengalami kebingungan identitas. Saat sang anak dianjurkan untuk memilih menjadi warga negara Australia, sang anak tidak mau apabila papa dan mamanya tidak turut serta menjadi warga negara Australia. Karena alasan inilah kemudian Ong berpindah kewarganegaraan. Meski telah menjadi warga negara Australia, tetapi kecintaannya kepada NKRI tetap membara.

Buktinya ia masih bergumul tentang isu-isu yang dihadapi oleh Bangsa Indonesia. Beberapa pergumulannya yang berhubungan dengan masalah-masalah Indonesia adalah tentang penembakan misterius dan perlakuan Indonesia terhadap Timor Timur. Ong terombang-ambing menanggapi isu penembakan misterius. Sebab cara ini telah membuat rakyat yang menderita karena diperas preman mendapatkan solusi. Namun karena prosesnya tanpa pengadilan, ia mempertanyakan cara-cara yang tidak menghargai hak azazi manusia ini.

Tentang masalah Timor Timur, Ong mengritik cara Indonesia menganeksasi Timor Timur. Sebab Timor Timur bukanlah bagian dari eks jajahan Belanda. Meski demikian, Ong juga mengkritik Habibie yang gegabah memberikan opsi referendum. Seandainya Indonesia memperlakukan bangsa Timor Timur dengan baik, maka persoalan Timor Timur akan selesai dengan baik. Ong juga mengkritik Australia yang awalnya mendukung Indonesia tetapi tanpa malu kemudian menelikung dari belakang.

Ong membahas bagaimana negeri ini berganti-ganti rejim, namun tidak belajar dari sejarahnya. Ia mmbahas kejatuhan orde lama, kejatuhan orde baru dan belum berhasilnya remormasi membawa negara sejahtera. Dalam pembahasan sejarah ini Ong memasukkan peran agama Kristen dan etnis Tionghoa.

Dalam buku ini Ong membahas berbagai hal yang berhubungan dengan suku, agama (khususnya agama Kristen) dan budaya. Dalam hal kebhinekaan suku, Ong fokus membahas tentang posisi etnis Tionghoa di Indonesia. Menurut Ong asimilasi yang didorong oleh pemerintah kurang berhasil. Ia bahkan mempertanyakan penghapusan organisasi-organisasi berbasis etnis yang dianggap eksklusif. Padahal – menurut Ong, organisasi etnis di bidang olah raga telah mengharumkan nama bangsa. Ia memberikan contoh perkumpulan sepakbola yang berbasis etnis Tionghoa telah menghasilkan beberapa pemain hebat yang bisa menahan Uni Soviet dalam sebuah laga. Dalam hal kesetiaan etnis Tionghoa kepada NKRI, Ong membeberkan tim Piala Thomas yang berhasil memboyong piala bergengsi tersebut ke Indonesia, disaat orang Tionghoa menghadapi tekanan dari negara. Satu lagi yang disampaikan oleh Ong tentang etnis Tionghoa adalah sifat orang Tionghoa yang suka memberi.

Sebagai seorang pendeta, Ong menyuguhkan berbagai permasalahan yang dihadapi oleh agama Kristen di Indonesia. Pertama agama Kristen dipersepsikan sebagai agamanya para penjajah. Memang benar bahwa kekristenan di Indonesia datang bersama bangsa Eropa. Namun kehadiran agama Kristen tentu tidak bisa disamakan dengan perilaku penjajah. Ia membahas tentang konsep-konsep beragama yang berkembang di Indonesia. Konsep tentang bahwa semua agama baik, bahwa agama adalah sekedar pakaian, dan konsep tentang toleransi agama. Bagaimana pun semua agama yang diakui di Indonesia adalah agama import.

Dalam hal kemajemukan budaya, Ong membahas tentang Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Ia menampilkan kembali pro dan kontra pembangunan TMII. Ia juga membahas tentang pribuminisasi agama-agama ke dalam budaya lokal. Ia mengakui bahwa agama Kristen belum terlalu berakar dalam budaya masyarakat Indonesia.

Dalam buku ini kita bisa mengetahui peran Ong saat beliau bermukin di Australia. Onglah yang menerima Arief Budiman saat Arief Budiman terpaksa tinggal di Australia karena tidak disukai oleh Orde Baru. Beliaulah yang mempertemukan Arief Budiman dengan Konsul Indonesia di Australia saat itu. Ong juga menjadi jembatan bagi Indonesia dan gereja-gereja Australia dalam menangani kasus 43 pengungsi asal Papua. Meski Ong adalah seorang pendeta, tetapi ia berperan sangat aktif dalam membantu hubungan diplomatik Indonesia-Australia.

Meski diakuinya bahwa buku ini bukanlah sebuah memoir atau biografi, namun di sana-sini kita bisa menemukan riwayat hidup Ong. Kisah masa kecilnya, saat remaja dan bersekolah di Duta Wacana, cita-citanya menjadi guru dan pertemuannya dengan sang kekasih yang kemudian menjadi pendamping hidupnya muncul dalam buku ini.

Semangat Ong untuk berjiwa Garuda, meski sudah berbaju kanguru terus berkobar. Bagaimana pun cintanya kepada negeri tempat lahir begitu terpatri. Memang tidak mudah menjadi orang Tionghoa dan menjadi orang Kristen. Apalagi menjadi Tionghoa sekaligus Kristen.

 


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.