Memperebutkan Tiket 2024 - Viral - www.indonesiana.id

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 28 Mei 2019 09:23 WIB

Memperebutkan Tiket 2024

Dibaca : 139 kali

 

Di tengah ikhtiar kubu Prabowo Subianto untuk bertarung di Mahkamah Konstitusi, jalan untuk memperoleh tiket untuk bisa maju ke gelanggang pemilihan presiden 2024 kelihatannya sudah dirintis. Upaya-upaya ke arah sana sudah mulai tampak. Agar bisa ikut dalam kompetisi lima tahun mendatang itu, siapapun memang tidak bisa maju dadakan. Batu bata harus mulai dikumpulkan dan disusun sedini mungkin agar batu loncatan siap dipakai bila diperlukan.

Titik-titik strategis mulai diincar, baik di kabinet pemerintahan maupun di lembaga legislatif. Nama Puan Maharani sudah digosok-gosok agar bisa menduduki posisi ketua DPR, sementara Muhaimin Iskandar mengincar posisi ketua MPR. Golkar tampaknya juga sangat berminat pada posisi yang diinginkan Muhaimin. Dalam satu koalisi pun juga ada persaingan, itulah politik.

Demokrat, yang semula bergabung dengan kubu Prabowo, telah membuka komunikasi dengan  petahana melalui ucapan selamat kepada Jokowi. Di tengah upaya kubu Prabowo yang masih berikhtiar untuk memakai jalan terakhir di Mahkamah Konstitusi, langkah SBY dan Agus Harimurti (AHY) memang terlihat berbeda dibanding partai koalisinya. Zulkifli Hasan pun sudah mengiringi langkah Demokrat.

Walaupun mungkin mengakui ada ketidaksempurnaan penyelenggaraan Pilpres dan Pileg tahun ini, kedua pimpinan puncak partai itu agaknya menyadari benar realitas politik. Melalui komunikasi, mereka juga membuka diri bagi kemungkinan di masa depan. Bagi Demokrat, kepentingan untuk membuka peluang bagi peran AHY yang lebih meningkat tampaknya juga dipertimbangkan.

Bahkan AHY sudah dua kali bertemu dengan Jokowi, di Jakarta dan di Bogor. Entah sudah sejauh mana pembicaraan keduanya. Kelanjutan berbagai upaya pendekatan kedua pihak akan semakin terlihat beberapa bulan ke depan. Jika Demokrat dan PAN resmi menyeberang dan diterima, koalisi petahana akan memerlukan waktu untuk dapat menemukan keseimbangan baru. Karena koalisi cenderung semakin gemuk, menjadi semakin tidak mudah untuk menemukan konsensus di dalamnya. Masing-masing ingin memperoleh penghargaan atas kontribusi yang sudah mereka berikan.

Di dalam koalisi petahanan sendiri, masing-masing punya kepentingan untuk meraih kesuksesan politik di gelanggang 2024. Bukan hanya di wilayah legislatif, tapi sangat mungkin mereka juga berminat untuk menerjunkan calonnya ke gelanggang Pilpres. Muhaimin, misalnya, yang semula tampak berminat menjadi capresnya Jokowi mungkin berusaha menemukan peluang lebih besar lima tahun mendatang. Belum lagi nama-nama seperti AHY dan Puan Maharani, yang akan menjadi motor Demokrat dan PDI-P; juga mungkin figur-figur lebih muda yang hadir dalam pertemuan Bogor. Mereka yang berminat untuk maju ke gelanggang 2024 akan berusaha memastikan dapat memperoleh peran yang tepat selama lima tahun ke depan.

Generasi kepemimpinan yang lebih muda mungkin saja akan muncul dengan beberapa nama. Perebutan tiket menuju gelanggang 2024 sudah dimulai sejak sekarang. Ini peluang bagi negeri dan bangsa ini untuk menemukan generasi kepemimpinan yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Soalnya ialah apakah generasi baru ini mampu melepaskan diri sepenuhnya dari pengaruh generasi sebelumnya? Tampaknya tidak. Mereka masih membutuhkan generasi yang lebih tua dan teman-temannya untuk beragam urusan, bukan saja dalam hal berbagi pengalaman dan nasihat, keluasan networking, kekuatan dan pengaruh personal, bahkan mungkin juga dukungan finansial. Dan seperti kelazimannya, tidak ada makan siang yang gratis. >>

  • Kepemimpinan

Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.