Mozaik Budaya Peranakan Tionghoa Indonesia - Viral - www.indonesiana.id

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 31 Mei 2019 16:41 WIB

Mozaik Budaya Peranakan Tionghoa Indonesia

Dibaca : 47 kali

Judul: Mozaik Budaya Peranakan Tionghoa Indonesia

Penulis: Dwi Woro Retno Mastuti, Ari Anggari Harapan dan Yi Yang

Tahun Terbit: 2018

Penerbit: Aspertina

Tebal: 200

ISBN: 978-602-53429-0-5

 

 

Buku ini akhirnya terbit. Buku yang awalnya dimaksud untuk memuat entri-entri tentang kebudayaan Tionghoa Indonesia ini sudah digagas dan dikerjakan sejak lama. Syukurlah akhirnya terbit juga. Meski isinya masih sangat terbatas. Memang berat untuk menyusun ensiklopedi Tionghoa Indonesia. Selain topiknya memang luas, rujukan yang dipakai pun sangat sulit untuk didapat. Kebijakan untuk membatasi karya ini sebagai mozaik budaya Tionghoa Indonesia adalah tepat. Sebab dengan demikian karya ini bisa segera layak dilahirkan.

Buku ini memilih format coffee table. Karena formatnya coffee table, maka dipilihlah hard cover supaya lebih berkesan. Di bagian depan, selain dicantumkan judul secara menyolok, juga ditampilkan potongan-potongan foto-foto yang bersinggungan dengan budaya Peranakan Tionghoa di Indonesia. Ada foto batik, makanan, musik, barongsay, lampion dan kelenteng. Di bagian belakang ditampilkan sinopsis tentang buku ini dan logo serta nama penerbitnya. Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia.

Sebagai sebuah karya awal, dalam pengantarnya Andrew Susanto – Ketua Aspertina, menyampaikan bahwa buku ini bukanlah karya ilmiah. Namun dimaksudkan sebagai sebuah karya poluler untuk memperkenalkan budaya Tionghoa Indonesia. Meski “hanya” sebagai karya populer, namun buku ini layak untuk dipakai sebagai rujukan bagi mereka yang ingin mengetahui budaya Peranakan Tionghoa Indonesia. Kelayakan buku ini sebagai rujukan dikuatkan oleh tampilnya A. Dahana yang memberikan sambutan atas terbitnya karya ini. Nama A. Dahana pasti tidak asing bagi mereka yang menekuni bidang budaya Peranakan Tionghoa Indonesia.

Buku ini memuat topik tentang (1) Tionghoa dari Masa ke Masa - Jejak Kedatangannya hingga Zaman Milenial, (2) Akulturasi Budaya Peranakan Tionghoa Indonesia dan (3) Budaya Peranakan Tionghoa. Pada bagian pertama, buku ini memberikan gambaran tentang kedatangan orang-orang Tionghoa di Nusantara. Sebagai acuan utama untuk membabarkan tentang keberadaan orang Tionghoa di Nusantara dipakailah “The Malay Archipelago and Malacca compiled from Chinese Sources” karya Groeneveldt. Groeneveldt menyampaikan bahwa catatan yang bertanggal 414 Masehi sudah menemukan pemukiman Tionghoa di Jawa. Artinya orang Tionghoa sudah menghuni kepulauan Nusantara jauh sebelum abad kelima. Buku ini juga menyajikan kedatangan tentara Mongol dan muhibah Laksamana Cheng Ho sebagai bagian dari sejarah kedatangan orang-orang Tionghoa di Nusantara.

Tidak banyak buku tentang Tionghoa Indonesia yang menyajikan Tionghoa Indonesia di era Millenial. Diawali dengan menjelaskan kebijakan Orde Baru sebagai latar belakang yang sangat berpengaruh terhadap orang Tionghoa Indonesia, buku ini menjelaskan tentang perubahan nama-nama orang Tionghoa Indonesia di era milenial, budaya-budaya yang masih tersisa dari gerusan Orde Baru, religi, bahasa, pendidikan dan pekerjaan. Melihat budaya Tionghoa Indonesia di era milenial, kita bisa tahu betapa dahsyatnya pengaruh Orde Baru bagi kalangan Tionghoa Indonesia.

Sangat menarik bahwa buku ini juga menampilkan organisasi-organisasi yang mewadahi Peranakan Tionghoa Indonesia. Beberapa organisasi tersebut adalah Aspertina (Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia), INTI (Perhimpunan Indonesia Tionghoa), PSMTI (Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia), PHIS (Perhimpunan Hakka Indonesia Sejahtera), dan PERHAKKAS (Perhimpunan Persaudaraan HAKKA Surakarta. Masih banyak organisasi lain yang telah didirikan untuk menjadi wadah bagi orang Tionghoa Indonesia. Namun belum semuanya masuk dalam buku ini.

Buku ini memuat banyak bukti tentang akulturasi budaya Peranakan Tionghoa di Indonesia. Akulturasi budaya tercermin dalam bahasa, batik dan pakaian, kesenian, makanan dan sebagainya. Akulturasi adalah proses saling menyerap antarbudaya. Akibatnya budaya Peranakan Tionghoa di Indonesia sangat berbeda dengan budaya yang ada di Tiongkok.

Sedangkan di bagian Budaya Peranakan Tionghoa Indonesia, buku ini membeberkan berbagai jenis kebudayaan orang-orang Tionghoa mulai dari Aceh sampai ke Ternate Tidore. Sayang sekali peranakan Tionghoa di Tanah Papua tidak masuk dalam buku ini. Padahal keberadaan orang Tionghoa di Papua juga tak terbantahkan.

Sungguh indah jika kita melihat liyan dari sisi budaya. Sebab dengan demikian kita akan diperkaya dengan perbedaan. Perbedaan itu membuat hidup semakin semarak. Namun jika kita hanya melihat dari sisi negative, maka perbedaan akan menjadi akar dari persengketaan.

Saya berharap karya bagus ini bisa diterukan dan dilengkapi dengan entri-entri baru, sehingga cita-cita untuk membuat ensiklopedi Peranakan Tionghoa Indonesia benar-benar bisa terwujud. Format cantik yang sedap di mata perlu dipertahankan, sehingga nantinya ensiklopaedi yang tersusun bukan hanya menjadi hiasan rak buku, tetapi benar-benar menjadi acuan bagi generasi muda Indonesia untuk mengenal Peranakan Tionghoa Indonesia.

Terima kasih kepada Dwi Woro Retno Mastuti, Ari Anggari Harapan dan Yi Yang, yang telah bertekun mengerjakan buku ini.

 

  • Masyarakat Tionghoa

Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.