Silaturahim, Mencairkan Kebekuan - Viral - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 7 Juni 2019 00:52 WIB
  • Viral
  • Berita Utama
  • Silaturahim, Mencairkan Kebekuan

    Dibaca : 575 kali

     

    Perintah silaturahim kepada umat manusia datang langsung dari langit. Manusia ummumnya memang tidak mampu sepenuhnya lepas dari rasa iri, sakit hati, benci, dendam, juga keangkuhan, rasa takut, enggan, minder, dan banyak lagi atribut negatif yang melekat pada dirinya—masing-masing orang dengan kadar yang berbeda-beda. Tak ada yang bersih 100 persen dari atribut itu.

    Atribut-atribut itu menjadi rintangan yang tak kasat mata namun menghalangi siapapun untuk berkomunikasi, berbicara, maupun bertemu orang lain. Bagi sebagian orang ia bak tirai tipis dengan bayang-bayang di baliknya, bagi yang lain ia seperti tonggak-tonggak penghalang, bagi yang lain lagi barangkali menyerupai benteng yang membuatnya sukar menatap ke depan—bahwa di hadapanya ada orang-orang yang menantinya berbicara, bertemu, berjabat tangan, dan saling memeluk.

    Tak mudah menghalau atribut rintangan itu. Yang terhalang oleh benteng, ia harus merobohkannya terlebih dahulu atau ia mesti melompatinya agar pandangannya mampu melihat ke depan. Dibutuhkan tekad kuat untuk menghimpun energi yang diperlukan untuk menghancurkan benteng penghalang—energi positif yang lahir dari keyakinan akan kebaikan manusia.

    Bila benteng telah roboh, ia akan lebih mudah melangkah, menemui orang-orang, berbicara dengan mereka, dan merasakan betapa dunia jauh lebih lapang dari ruang-ruang sempit yang kita bangun sendiri di dalam hati. Betapa dunia jauh lebih lega tanpa benteng-benteng penghalang yang justru menjadikan diri kita terimpit, kesepian, dan terasing. Kita mungkin menghuni ruang terbatas dengan rasa penuh amarah, kesal, tapi juga rasa tidak berdaya, letih, dan lunglai.

    Langit tak terbatas adalah horison yang disediakan bagi manusia untuk mengarunginya. Bentangan dunia yang demikian luas jadi lahan bagi manusia untuk menjalin silaturahim—membangun kebaikan bersama atas dasar saling percaya. Inilah yang tak mudah: kepercayaan rentan terhadap manipulasi.

    Sebagian orang tak mudah merobohkan benteng rintangan karena cemas oleh hantu manipulasi. Banyak manusia mengaku bersilaturahim untuk menjalin kebaikan, tapi membawa serta kehendak, keinginan, dan kepentingan lain. Tatkala ketulusan luntur, silaturahim mengangkut serta di dalamnya kehendak-kehendak yang berpotensi menghancurkan kemanusiaan.

    Silaturahim di antara politikus memang baik dan dianjurkan, sebab dapat memecahkan kebekuan komunikasi. Tapi mestilah silaturahim itu diniati oleh tujuan luhur dan ketulusan hati, atau ia akan menjadi drama yang enak ditonton dan dipuji dengan rasa simpati, namun tidak jujur karena dilambari kepentingan yang mengingkari makna kata silaturahim. >>


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Admin

    2 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 621 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).