Silaturahim, Mencairkan Kebekuan - Viral - www.indonesiana.id

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 6 Juni 2019 23:02 WIB

Silaturahim, Mencairkan Kebekuan

Dibaca : 360 kali

 

Perintah silaturahim kepada umat manusia datang langsung dari langit. Manusia ummumnya memang tidak mampu sepenuhnya lepas dari rasa iri, sakit hati, benci, dendam, juga keangkuhan, rasa takut, enggan, minder, dan banyak lagi atribut negatif yang melekat pada dirinya—masing-masing orang dengan kadar yang berbeda-beda. Tak ada yang bersih 100 persen dari atribut itu.

Atribut-atribut itu menjadi rintangan yang tak kasat mata namun menghalangi siapapun untuk berkomunikasi, berbicara, maupun bertemu orang lain. Bagi sebagian orang ia bak tirai tipis dengan bayang-bayang di baliknya, bagi yang lain ia seperti tonggak-tonggak penghalang, bagi yang lain lagi barangkali menyerupai benteng yang membuatnya sukar menatap ke depan—bahwa di hadapanya ada orang-orang yang menantinya berbicara, bertemu, berjabat tangan, dan saling memeluk.

Tak mudah menghalau atribut rintangan itu. Yang terhalang oleh benteng, ia harus merobohkannya terlebih dahulu atau ia mesti melompatinya agar pandangannya mampu melihat ke depan. Dibutuhkan tekad kuat untuk menghimpun energi yang diperlukan untuk menghancurkan benteng penghalang—energi positif yang lahir dari keyakinan akan kebaikan manusia.

Bila benteng telah roboh, ia akan lebih mudah melangkah, menemui orang-orang, berbicara dengan mereka, dan merasakan betapa dunia jauh lebih lapang dari ruang-ruang sempit yang kita bangun sendiri di dalam hati. Betapa dunia jauh lebih lega tanpa benteng-benteng penghalang yang justru menjadikan diri kita terimpit, kesepian, dan terasing. Kita mungkin menghuni ruang terbatas dengan rasa penuh amarah, kesal, tapi juga rasa tidak berdaya, letih, dan lunglai.

Langit tak terbatas adalah horison yang disediakan bagi manusia untuk mengarunginya. Bentangan dunia yang demikian luas jadi lahan bagi manusia untuk menjalin silaturahim—membangun kebaikan bersama atas dasar saling percaya. Inilah yang tak mudah: kepercayaan rentan terhadap manipulasi.

Sebagian orang tak mudah merobohkan benteng rintangan karena cemas oleh hantu manipulasi. Banyak manusia mengaku bersilaturahim untuk menjalin kebaikan, tapi membawa serta kehendak, keinginan, dan kepentingan lain. Tatkala ketulusan luntur, silaturahim mengangkut serta di dalamnya kehendak-kehendak yang berpotensi menghancurkan kemanusiaan.

Silaturahim di antara politikus memang baik dan dianjurkan, sebab dapat memecahkan kebekuan komunikasi. Tapi mestilah silaturahim itu diniati oleh tujuan luhur dan ketulusan hati, atau ia akan menjadi drama yang enak ditonton dan dipuji dengan rasa simpati, namun tidak jujur karena dilambari kepentingan yang mengingkari makna kata silaturahim. >>


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.