Menengok Tradisi Bulusan di Kudus - Travel - www.indonesiana.id
x

bocah google

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 19 Juni 2019

Rabu, 19 Juni 2019 22:28 WIB

Menengok Tradisi Bulusan di Kudus

Dibaca : 285 kali

Apa mungkin ada manusia yang berubah menjadi hewan di dunia ini, jika kita nalar menurut logika maka hal ini tidak masuk di akal. Akan tetapi pada zaman dahulu di kota kudus ketika masa Wali Songo ada satu kejadian yang mengakibatkan seorang manusia menjadi seekor bulus atau labi-labi yang masih kerabat dari kura-kura.

Bulusan merupakan tradisi di Dukuh Sumber, Desa Hadipolo Kecamatan Jekulo Kabupaten Kudus. Sebuah tradisi tahunan yang dilaksanakan di bulan Syawal  pada 8 hari setelah hari raya Idul Fitri atau yang sering disebut dengan Kupatan. Awal mula cerita Bulusan terjadi ketika Mbah Kiai Dudo seorang alim ulama penyebar agama Islam di Kudus, beliau memiliki dua murid atau santri yang bernama Umara dan Umari. Nama Dudo merupakan sebuah julukan, dikarenakan beliau ketika datang ke daerah kudus hanya bersama dua santrinya tanpa bersama istrinya. Sebagian warga ada yang menyebutnya Raden Sayid Ahmad Khasan atau Joko Samudero, dalam perjalanan menyebarkan agama Islam beliau berniat membuat sebuah padepokan.

Pada bulan Ramadhan, tepatnya malam Nuzulul Qur’an Sunan Muria berkunjung di kediaman Mbah Dudo untuk bersilaturrahim dan membaca Al Qur’an bersama. Ketika sedang berlangsung membaca Al Qur’an Sunan Muria mendengar suara ‘’krubyak krubyuk”, karena penasaran kemudian beliau keluar untuk melihat asal suara itu. Dalam perjalanannya, Sunan Muria melihat Umara dan Umari sedang ndaut (mengambil bibit padi) di sawah pada malam hari. Lantas beliau berhenti sejenak dan berkata kepada mereka, “Loh, malam Nuzulul Qur’an kok tidak baca Al Qur’an, malah disawah berendam air seperti bulus saja?”. Akibat perkataan itu Umara dan Umari seketika berubah menjadi bulus atau labi-labi.

Kemudian Mbah Dudo, datang untuk meminta maaf atas kesalahan santrinya kepada Sunan Muria. Meskipun maaf telah diberi, akan tetapi mereka tidak bisa berubah menjadi manusia kembali. Ibarat nasi telah menjadi bubur, setelah itu Sunan Muria menancapkan tongkat ke tanah, kemudian keluarlah mata air atau sumber sehingga ketika itu daerah tadi diberi nama dukuh Sumber. Tongkat yang di tancapkan tadi berubah menjadi pohon besar, warga sekitar sering menyebutnya pohon Tamba Ati. Ketika Sunan Muria akan meninggalkan tempat itu beliau berkata “Kelak anak cucu kalian akan menghormatimu setiap satu minggu setelah hari Raya bulan Syawal tepatnya waktu kupatan.

Sejak saat itu, tradisi bulusan selalu dilanksanakan tiap tahunnya dengan meriah dan hikmat. Acara bulusan selalu ditunggu oleh warga sekitar maupun di luar desa, biasanya acara dimulai bersih sendang tahlil atau kirim do’a untuk Mbah Dudo khususnya dan para santrinya yang dahulu menjadi bulus. Setelah itu ada juga acara memberi makan bulus,Kemudian acara puncak yaitu arak-arakan yang membawa gunungan berupa Kupat, Lepet dan berbagai macam hasil bumi. Biasanya acara arak-arakan dilakukan 1 kilometer dari makan Mbah Dudo, sepanjang jalan itu banyak warga yang menyaksikan acara itu berlangsung dan untuk yang antusias melihat acara itu bukan hanya warga sekita akan tetapi warga desan lain sampai luar kota juga ada. Dengan adanya itu warga sekitar tidak hanya diam untuk melihat, mereka biasanya menjadi pejual musiman atau berjualan di sepanjang jalan yang akan dilewati arak-arakan.

Acara bulusan ini dibuka mulai kurang lebih 4 hari setelah lebaran, sehingga masyarakat bisa berjualan lebih lama. Pasar malam merupakan awal pertanda akan adanya acara bulusan, sehingga setiap sore sampai malam tempat ini (sekitaran daerah makam Mbah Dudo)   selalu ramai dikunjungi oleh pengunjung yang biasanya di penuhi oleh muda mudi dan keluarga. Berbagai macam dagangan yang dijajakan di tempat itu menambah suasana menjadi ramai, hal itu tentunya akan membuat perekonomian masyarakat desa sekitar menjadi lebih meningkat.

Sudah semestinya tradisi harus selalu di uri-uri atau dilestarikan sehingga anak cucu kita pada masa yang akan mendatang masih bisa mengetahui awal mula cikal bakal Dukuh Sumber Desa Hadipolo, karena Bangsa yang besar adalah Bangsa yang mau menghargai Budayanya. Selain itu dari tradisi Bulusan juga banyak hikmah yang bisa diperoleh seperti lebih mempererat hubungan silaturrahim dan meningkatkan perekonomian atau menambah pemasukan warga sekitar.

 

  • ceritarakyat
  • terasbudaya

Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.