Menengok Tradisi Bulusan di Kudus - Travel - www.indonesiana.id
x

bocah google

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 19 Juni 2019

Kamis, 20 Juni 2019 00:08 WIB
  • Travel
  • Berita Utama
  • Menengok Tradisi Bulusan di Kudus

    Dibaca : 1.274 kali

    Apa mungkin ada manusia yang berubah menjadi hewan di dunia ini, jika kita nalar menurut logika maka hal ini tidak masuk di akal. Akan tetapi pada zaman dahulu di kota kudus ketika masa Wali Songo ada satu kejadian yang mengakibatkan seorang manusia menjadi seekor bulus atau labi-labi yang masih kerabat dari kura-kura.

    Bulusan merupakan tradisi di Dukuh Sumber, Desa Hadipolo Kecamatan Jekulo Kabupaten Kudus. Sebuah tradisi tahunan yang dilaksanakan di bulan Syawal  pada 8 hari setelah hari raya Idul Fitri atau yang sering disebut dengan Kupatan. Awal mula cerita Bulusan terjadi ketika Mbah Kiai Dudo seorang alim ulama penyebar agama Islam di Kudus, beliau memiliki dua murid atau santri yang bernama Umara dan Umari. Nama Dudo merupakan sebuah julukan, dikarenakan beliau ketika datang ke daerah kudus hanya bersama dua santrinya tanpa bersama istrinya. Sebagian warga ada yang menyebutnya Raden Sayid Ahmad Khasan atau Joko Samudero, dalam perjalanan menyebarkan agama Islam beliau berniat membuat sebuah padepokan.

    Pada bulan Ramadhan, tepatnya malam Nuzulul Qur’an Sunan Muria berkunjung di kediaman Mbah Dudo untuk bersilaturrahim dan membaca Al Qur’an bersama. Ketika sedang berlangsung membaca Al Qur’an Sunan Muria mendengar suara ‘’krubyak krubyuk”, karena penasaran kemudian beliau keluar untuk melihat asal suara itu. Dalam perjalanannya, Sunan Muria melihat Umara dan Umari sedang ndaut (mengambil bibit padi) di sawah pada malam hari. Lantas beliau berhenti sejenak dan berkata kepada mereka, “Loh, malam Nuzulul Qur’an kok tidak baca Al Qur’an, malah disawah berendam air seperti bulus saja?”. Akibat perkataan itu Umara dan Umari seketika berubah menjadi bulus atau labi-labi.

    Kemudian Mbah Dudo, datang untuk meminta maaf atas kesalahan santrinya kepada Sunan Muria. Meskipun maaf telah diberi, akan tetapi mereka tidak bisa berubah menjadi manusia kembali. Ibarat nasi telah menjadi bubur, setelah itu Sunan Muria menancapkan tongkat ke tanah, kemudian keluarlah mata air atau sumber sehingga ketika itu daerah tadi diberi nama dukuh Sumber. Tongkat yang di tancapkan tadi berubah menjadi pohon besar, warga sekitar sering menyebutnya pohon Tamba Ati. Ketika Sunan Muria akan meninggalkan tempat itu beliau berkata “Kelak anak cucu kalian akan menghormatimu setiap satu minggu setelah hari Raya bulan Syawal tepatnya waktu kupatan.

    Sejak saat itu, tradisi bulusan selalu dilanksanakan tiap tahunnya dengan meriah dan hikmat. Acara bulusan selalu ditunggu oleh warga sekitar maupun di luar desa, biasanya acara dimulai bersih sendang tahlil atau kirim do’a untuk Mbah Dudo khususnya dan para santrinya yang dahulu menjadi bulus. Setelah itu ada juga acara memberi makan bulus,Kemudian acara puncak yaitu arak-arakan yang membawa gunungan berupa Kupat, Lepet dan berbagai macam hasil bumi. Biasanya acara arak-arakan dilakukan 1 kilometer dari makan Mbah Dudo, sepanjang jalan itu banyak warga yang menyaksikan acara itu berlangsung dan untuk yang antusias melihat acara itu bukan hanya warga sekita akan tetapi warga desan lain sampai luar kota juga ada. Dengan adanya itu warga sekitar tidak hanya diam untuk melihat, mereka biasanya menjadi pejual musiman atau berjualan di sepanjang jalan yang akan dilewati arak-arakan.

    Acara bulusan ini dibuka mulai kurang lebih 4 hari setelah lebaran, sehingga masyarakat bisa berjualan lebih lama. Pasar malam merupakan awal pertanda akan adanya acara bulusan, sehingga setiap sore sampai malam tempat ini (sekitaran daerah makam Mbah Dudo)   selalu ramai dikunjungi oleh pengunjung yang biasanya di penuhi oleh muda mudi dan keluarga. Berbagai macam dagangan yang dijajakan di tempat itu menambah suasana menjadi ramai, hal itu tentunya akan membuat perekonomian masyarakat desa sekitar menjadi lebih meningkat.

    Sudah semestinya tradisi harus selalu di uri-uri atau dilestarikan sehingga anak cucu kita pada masa yang akan mendatang masih bisa mengetahui awal mula cikal bakal Dukuh Sumber Desa Hadipolo, karena Bangsa yang besar adalah Bangsa yang mau menghargai Budayanya. Selain itu dari tradisi Bulusan juga banyak hikmah yang bisa diperoleh seperti lebih mempererat hubungan silaturrahim dan meningkatkan perekonomian atau menambah pemasukan warga sekitar.

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.











    Oleh: Admin

    5 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 1.119 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).