Dataran Tortilla - Analisa - www.indonesiana.id
x

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 20 Juni 2019 17:26 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • Dataran Tortilla

    Dibaca : 314 kali

    Judul: Dataran Tortila

    Judul Asli: Tortila Flat

    Penulis: John Steinbeck

    Penterjemah: Djokolelono

    Tahun Terbit: 2009 (Cetakan II)

    Penerbit: KPG dan Pustaka Jaya

    Tebal: xii + 220

    ISBN: 978-602-424-012-7

     

    Gairah hidup, kesetia-kawanan, cinta dan perjuangan sangat sering kita pakai untuk mencapai sebuah kesuksesan. Namun apa sebenarnya arti dari kata-kata tersebut? Bolehkan segerombol manusia mempunyai definisi yang berbeda dari kita kebanyakan? Bolehkan mereka memaknai sendiri apa arti kata-kata tersebut?

    Kisah ini bermula dari persahabatan Danny dan Pilon, dua orang paisano. Paisano adalah orang-orang berdarah campuran Spanyol, Indian, Meksiko dan berbagai ra kulit putih Eropa, tetapi merasa murni berdarah Spanyol. Persahabatan berkembang saat Danny mendapatkan warisan berupa rumah. Danny menyewakan salah satu rumahnya kepada Pilon. Tapi tentu saja sewa-menyewa ini tidak pernah benar-benar terjadi. Mula-mula Pilon – Si Cerdas, yang diajaknya tinggal di rumahnya. Kemudian Pilon mengajak Pablo Sanches dan Jesus Maria Corcoran bergabung tinggal di rumah Danny. Jesus Maria Corcoran adalah seorang pria berhati lembut dan suka membantu orang lain. Namun karena suatu peristiwa kebakaran, rumah yang dihuni oleh Pilon dan kawan-kawannya terbakar. Pilon, Pablo dan Jesus Maria pindah ke rumah yang dihuni oleh Danny.

    Mereka juga mengajak Si Bajak Laut bersama lima anjingnya untuk bergabung tinggal di rumah Danny. Motivasi mengajak Si Bajak Laut adalah untuk menguasai kekayaan Si Bajak Laut. Si Bajak Laut selalu mengumpulkan uang hasil penjualan kayu bakar yang dilakukannya setiap hari. Namun upaya untuk menguasai kekayaan Si Bajak Laut ini kandas, karena ternyata Si Bajak Laut justru menguasakan keamanan uangnya kepada mereka. Uang yang dikumpulkan oleh Si Bajak Laut adalah untuk membeli penyangga lilin dari emas yang akan dipersembahkan kepada Santo Francis dari Asisi yang telah memberi kesembuhan kepada anjing Si Bajak Laut.

    Bog Jo, seorang tentara keturunan Portugis yang bertubuh gempal tetapi otaknya sedikit juga bergabung di rumah Danny.

    Para Paisano ini hidup dengan nilai-nilai sosial mereka sendiri. Mereka hidup bagai gelandangan. Gairah hidupnya adalah saat menikmati anggur. Oleh sebab itu segala pekerjaan yang dilakukan adalah dalam rangka untuk mendapatkan anggur. Mereka bekerja memotong cumi-cumi di tempat Chin Kee, menjual barang-barang hasil curain ke Toko Torelli atau dengan cara apa saja. Termasuk sebuah kelicikan. Sebagai contoh, saat Danny berupaya membelikan hadiah untuk Nyonya Morales, uang yang sudah terkumpul tidak jadi dibelikan gula-gula, tetapi malah dibeikan anggur karena gula-gula dianggap berbahaya bagi kesehatan Nyonya Morales. Pesta minum anggur adalah sebuah nilai tertinggi dari para paisano ini. Mereka akan sangat bahagia saat bisa minum anggur bersama-sama. Demi mewujudkan sebuah gairah hidup, para paisano ini melakukan segala upaya. Bukankah kita juga melakukan hal yang sama untuk mengejar gairah hidup kita?

    Tentang kesetiakawanan, novel ini sungguh menunjukkan hal yang luar biasa. Meski mereka hidup secara sembarangan, dan kadang malah sering berkelahi, namun dalam hal kesetiakawanan mereka adalah sebuah kelompok yang sungguh menjadi teladan. Mereka saling membantu untuk mewujudkan keinginan salah satu anggotanya. Mereka saling membantu untuk memecahkan masalah yang dihadapi oleh salah satu anggotanya. Mereka melakukan apa saja untuk saling membantu mengatasi masalah atau mewujudkan sebuah keinginan salah satu anggotanya.

    Salah satu contoh kesetiakawanan adalah saat kelompok ini membantu keluarga Teresiana Cortez yang terancam kelaparan. Keluarga Teresiana adalah keluarga dengan banyak anak kecil. Teresiana begitu mudah hamil dan melahirkan bayi. Maka rumahnya dipenuhi oleh anak-anak kecil yang dia sendiri tidak tahu siapa ayah-ayah mereka. Anak-anak ini tumbuh sehat karena dari sejak bayi sudah terbiasa makan kacang polong. Kacang polong dikumpulkan oleh keluarga Teresiana dengan cara memungutinya dari sisa-sisa penggilingan. Namun suatu hari panen kacang polong gagal karena hujan turun di musim panen. Dengan turunnya hujan, maka kacang polong yang sudah siap digiling terpaksa harus dijemur berulang-ulang. Karena kegagalan panen ini, keluarga Teresiana kelaparan. Para paisano kemudian mencuri berbagai makanan untuk diberikan kepada anak-anak Teresiana yang kelaparan. Namun apa daya, ternyata anak-anak ini malah sakit. Sebab mereka tidak biasa makan makanan lain selain dari kacang polong. Maka para paisano ini kemudian mencuri berkarung-karung kacang polong dan meletakkannya di dapur Teresiana. Kehidupan adalah sebuah nilai yang penting. Tidak penting cara apa yang dipakai untuk mempertahankannya, kehidupan harus terus dijaga.

    Cobaan terberat dari kehidupan adalah kebosanan. Dalam bab-bab terakhir Steinbeck memperbincangkan tentang kebosanan melalui tokoh Danny. Danny merasa bahwa hidupnya menjadi monoton dan dibebani oleh tanggung jawab. Danny rindu dengan cara hidupnya yang lama yang penuh dengan ketegangan dan tanpa tanggung jawab. Oleh sebab itu Danny memutuskan untuk meninggalkan para sahabatnya dan hidup dengan cara yang lama. Ia kembali mencuri, berkelahi dan merayu para perempuan yang sudah bersuami. Mencuri, berkelahi dan meniduri para perempuan yang sudah bersuami adalah gairah yang sesungguhnya bagi Danny. Bahkan ia mencuri barang-barangnya sendiri di rumahnya sendiri.

    Setelah tiga minggu menikmati cara hidupnya yang lama, Danny akhirnya pulang. Sejak kembali ke komunitasnya Danny merasa kesepian. Teman-temannya mengadakan pesta untuk menyenangkan hati Danny. Mereka bekerja keras supaya bisa membeli bahan-bahan yang dibutuhkan untuk pesta. Pesta mereka berjalan meriah. Semua orang di Kota Monterey dan Dataran Tortilla terlibat dalam pesta tersebut. Danny akhirnya mati kareja terjatuh ke jurang saat berupaya mencari orang yang ingin diajaknya berkelahi.

    Novel ini sangat menarik karena kisahnya melepaskan diri dari nilai-nilai dan norma-norma hidup yang biasa diikuti oleh masyarakat umum. Meski melepaskan diri dari nilai dan norma yang umum, namun nilai-nilai hakiki seperti kesetiakawanan, cinta kasih dan tanggung jawab muncul sangat kuat.

    Sungguh sebuah upaya yang luar biasa telah dicoba oleh John Steinbeck untuk memaknai hidup dengan cara yang berbeda.

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.