Mengapa Mereka Tidak Berobat ke Dokter - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Muhammad Itsbatun Najih

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 1 Juli 2019 11:14 WIB
  • Gaya Hidup
  • Pilihan
  • Mengapa Mereka Tidak Berobat ke Dokter

    Dibaca : 308 kali

     

                Buku kumpulan riset ini mengurai seluk-beluk bagaimana memahami masyarakat mendamba kesehatan. Ditulis para pakar komunikasi yang dinarasikan secara populer. Komunikasi Kesehatan sendiri merupakan disiplin ilmu mutakhir, beririsan antara ilmu komunikasi dan ilmu kesehatan (hlm: viii). Karena itu, Komunikasi Kesehatan tidak masuk pada pengetahuan perihal obat-obatan dan renik-renik cara hidup sehat --yang sememangnya merupakan domain ilmu kesehatan. Namun, mencakup analisis interaksi dan relasi antarperson dalam mewujudkan hidup sehat.

                Salah satu riset menarik dalam buku ini ialah membincang pengobatan alternatif. Sebagaimana kita tahu, sampai hari ini, pengobatan alternatif masih menjadi rujukan sebagian masyarakat berobat. Pembeda pengobatan alternatif dengan pengobatan konvensional/modern adalah didasarkan tiadanya penelitian-penelitian ilmiah, uji klinis, dan metode saintifik (hlm: 72). Meski pula tidak lantas identik pengobatan “mistik”; pengobatan herbal, misalnya. Stigma dan labelisasi negatif senantiasa disematkan. Menariknya, buku ini memberikan perspektif lain dan kemudian menganggapnya sebagai fenomena unik untuk kemudian bisa termafhumi.

                Sememangnya pengobatan alternatif berciri diakrabi kalangan ekonomi lemah. Mereka tak sanggup membayar atributif kesehatan berupa jasa dokter, alat kesehatan, dan pil yang kesemuanya berbujet mahal. Sementara pengobatan alternatif tidak mematok tarif. Pun, bahan ramuan bisa didapat mudah dan murah. Kendala geografis juga tetap tak bisa disangkal sebab pengobatan alternatif masih eksis.

             Setali tiga uang, preferensi pendidikan juga berpengaruh; pengobatan alternatif terstigma digemari kalangan berpendidikan rendah. Namun, indikator tersebut tidak sepenuhnya tepat. Justru preferensi pendidikan tinggi membuka cakrawala pengetahuan kesehatan secara luas dengan amsal terhadap banyaknya pilihan dalam menentukan jenis pengobatan dan jasa kesehatan yang tersedia (hlm: 73). Pengobatan alternatif dipandang bersifat holistik dengan tambahan atributif kenyamanan/spiritualitas ketimbang pengobatan modern yang kerap semata menitikberatkan sisi jasmaniah/fisik.

                Ketika kini, laju perkembangan pengobatan modern kian pesat, bukan berarti pengobatan alternatif redup. Malah, bisa adaptif dengan menggunakan diksi-diksi modern. Semisal diksi “tenaga dalam” lantas difamiliarkan dengan “gelombang elektromagnetik”. Pengobatan alternatif disinyalir mampu dilakukan dengan perantara telepon, SMS, dan sebagainya (hlm: 77). Di era serba viral via media sosial macam sekarang, daya jangkau dan “sensasi” pengobatan alternatif serasa menemukan momentum.

                Tahun 2009, kita tak asing dengan bocah bernama Ponari yang tiba-tiba bak selebritas. Meski media sosial belum semarak seperti sekarang, aspek “viralitas” pengobatan ala Ponari yang dikenal “dukun cilik” itu sangat tertopang oleh sorongan masif media massa, terutama televisi. Pemberitaan intensif disertai narasi bombastis menibakan pesan bahwa pengobatan alternatif ala Ponari menyedot rasa penasaran dan berhasrat menjajal dari beragam stratifikasi sosial. Ponari menjadi tamsil betapa kekuatan impresif media berandil besar pada sebuah pengobatan alternatif menjadi “trending”.

                Kini, media sosial dan efek “viral” mencapai masanya untuk kemudian apa pun itu, termasuk pengobatan alternatif, bisa lekas menjadi perbincangan aktual. Namun, Devie Rahmawati, selaku periset kasus Ponari, buru-buru berujar bahwa fenomena pengobatan alternatif semacam itu hanya bertahan sebentar untuk kemudian kembali pada titik muasal. Viralitas pengobatan alternatif bersifat sambil lalu; dan lazimnya masyarakat lantas kembali berobat ke dokter (hlm: 82).

                Pengobatan alternatif tidak identik “dukun” atau “orang pintar”; dengan definisi pengobatan yang tidak dipelajari ilmu kedokteran. Karena itu, pengobatan alternatif mempunyai ragam corak, baik dengan alat-alat sederhana, ramuan, atau teknik pemijatan. Pun, sebagian masyarakat lebih meminati pengobatan alternatif saat si “praktisi”-nya tertampil komunikatif dan tidak tampak ingin “memiskinkan” pasien dengan mematok tarif jasa tinggi. Sementara, tidak jarang respons kurang ramah sebagian dokter terhadap pasien bisa menjadi sebab pengobatan alternatif terus didatangi.    

    Walhasil, dikotomi dan mempertentangkan antara pengobatan alternatif dan pengobatan konvensional/modern kiranya kurang tepat. Justru, keduanya bisa disinergikan. Keduanya tidak berada untuk saling menegasikan atau saling mendaku paling mujarab sebagai pengobat. Masih banyak temuan riset kesehatan masyarakat yang dibabarkan dalam buku yang teranggap masih langka kajian ini. Untuk kemudian buku ini bisa kita jadikan pula panduan menyikapi tentang semarak cara diet, gaduh pendanaan BPJS Kesehatan, polemik vaksinasi, sampai komersialisasi kesehatan.

     

    Data buku:

    Judul: Komunikasi Kesehatan: Pemikiran dan Penelitian

    Penulis: Prof. Deddy Mulyana, dkk

    Penerbit: Rosda, Bandung

    Tebal: 268 halaman

    Cetakan: Pertama, 2018

    ISBN: 978-602-446-202-4


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.