Asketisisme Kekinian di Tengah Era Glamor - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Muhammad Itsbatun Najih

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 1 Juli 2019 11:19 WIB

Asketisisme Kekinian di Tengah Era Glamor

Dibaca : 36 kali

Asketisisme, prinsip hidup penuh kebersahajaan berlandas titah Tuhan, lebih sering menampakkan pada cara hidup teramat sederhana. Berpakaian ala kadar, rumah bak gubuk, dan jarang makan. Hidup semacam itu memang sengaja dipilih. Ada hasrat dengan begitu, Tuhan mudah diakrabi. Ada ketenangan batin yang didapat lantaran tidak tersilaukan gebyar duniawi. Gemerlap dunia sebisa mungkin dijauhi. Keruwetan dan aneka problem muncul dari hiruk-pikuk urusan dunia yang kesemuanya kerap bermuara pada kejahatan dan kerusakan.

Di sisi lain, kehidupan kontemporer membuhulkan fenomena miris. Hedonisme plus konsumerisme menjadi paham beserta laku yang tertambal kuat. Kita mengenal sekian orang tampak dari luaran taat beragama. Namun, di lain kesempatan, tak bisa lepas dari jerat korupsi. Nafsu serakah menjadi biang keladi di mana gaji tinggi dan aneka kemewahan yang dipunya tak akan pernah dirasa cukup. Atau, yang teramat ringan membeli barang-barang mahal demi mengejar tren, tapi terasa berat sekali mengeluarkan sedikit amal. Lantas, teranggap ada kemuskilan sembari heran atas ketiadan imbas kesalehan ritual yang ditunaikan berbuah menjadi kesalehan sosial.

Buku ini memberikan jawaban implisit bahwa, pertama-tama keganjilan beragama itu bersebab nihilnya penghayatan batin. Ibadah yang bersifat ritus dicukupkan sekadar penggugur kewajiban. Padahal, ritus-ritus tak lebih simbolitas penghambaan. Idealnya dan seyogianya, selain hubungan vertikal, ibadah ritus sememangnya lebih beresensi wujudkan harmoni sesama.  Dari semua ritus ibadah, kesemuanya menujukan pada dan perlunya penyucian jiwa, hati bersih (hlm: 230) .

Zakat dan semacamnya, misal; bertujuan membersihkan hati dari sifat kikir. Membebaskan hati dari perbudakan kebendaan. Mampu mengendalikan harta yang dimiliki. Selain sebagai bentuk solidaritas sosial, zakat dan sebangsanya bertujuan mendistribusikan kekayaan dan mencegah timbunan modal --yang buruk bagi ekonomi negara (hlm: 227). Kesadaran perihal kepemilikan harta-benda hakikatnya semata milik Tuhan, meniscayakan untuk tidak berpolah foya-foya.

Seperti halnya tamsil tukang parkir; secara kemasan/lahiriah, berpunya berderet kendaraan. Namun, pada waktunya diambil si pemilik kendaraan, tukang parkir senyatanya hanyalah dititipi. Hakikatnya, seluruh kekayaan yang manusia usahakan dengan berpayah dan berpeluh, pun tak lebih sebagai titipan Tuhan –yang bisa diambil kapan dan di mana saja. Telah banyak kerja-kerja dilakukan, membanting tulang dilakukan. Namun, tak sedikit yang tidak sejurus sebanding dengan hasil yang diperoleh; begitu pun sebaliknya. Sementara, banyak rejeki diperoleh dari hal-hal yang tidak diduga dan kemudian mengubah kondisi ekonomi. Walhasil, tak terlekkan ada campur tangan Tuhan pada setiap pemerolehan harta untuk kemudian diandaikan ada kerelaan pada setiap pemberian amal yang diperintahkan-Nya.

 Lebih dari itu, asketisisme menguar pada laku keseharian. Tidak dicukupkan pada ritus-ritus ibadah bersifat temporal. Merembes menjadi perangai yang sekali lagi, bertumpu pada kesalehan sosial. Berkurban, satu sisi adalah ibadah yang dijalankan oleh si kaya untuk mendistribusikan berlimpah daging kepada si papa. Selepas Iduladha dan daging-daging kurban telah habis tersantap, empati dan simpati kepada yang fakir mesti terus dihunjamkan oleh si kaya dalam tindak keseharian (hlm: 186). Pemberdayaan ekonomi si miskin merupakan bentuk asketisisme kekinian si kaya.

Prinsip hidup asketis kiranya bisa dimaknai pula sebagai laku lampah perimbangan. Sebagaimana Nabi Muhammad Saw. menyuruh berpuasa tapi tidak sepanjang tahun berpuasa. Tidak pula sepanjang hari bertungkus lumus bersujud karena pada tubuh ada hak beristirahat yang wajib dipenuhi. Pun, tak ada larangan menjadi pejabat duduk di kursi empuk, hidup di istana. Namun, ada rantai yang mesti diikatkan. Dengan kata lain, buku ini seraya menguar keteladanan Khalifah Ali bin Abi Thalib yang menolak tegas permintaan koleganya untuk mengambil sebagian harta negara di Baitul Mal tersebab untuk kepentingan pribadi (hlm: 234). Asketisisme itulah rantai yang membelenggu tangan para pejabat untuk tidak berbuat culas dan koruptif.

 Pada hidup keseharian kini, asketisisme bisa diterapkan dengan tetap totalitas bekerja, berpakaian bagus, berumah layak, dan makan bergizi. Titik pembeda sebagai spirit terletak pada hati (qolbun) yang hanya terisi oleh pancaran keilahian (salim). Dengan artian, betapa pun senangnya memiliki harta, tetaplah mengandaikan kepedulian sosial dan memantangkan untuk menghambur-hamburkannya.

  • resensibuku
  • rosdakarya
  • pendidikan karakter

Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.