Koruptor yang Pancasialis - Analisa - www.indonesiana.id
x

Cover buku "Sarinah Kembang Cikembang"

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 10 Juli 2019 13:27 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • Koruptor yang Pancasialis

    Dibaca : 326 kali

    Judul: Sarinah Kembang Cikembang

    Penulis: Satyagraha Hoerip

    Tahun Terbit: 1993

    Penerbit: Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara (PUSPA SWARA)        

    Tebal: vi + 150

    ISBN: 979-8312-56-2

     

    Adakah koruptor yang Pancasialis? Ataukah mereka itu Sampah Bangsa, Sampah Negara, atau setidaknya Sampah Pancasila? Tapi kenapa mereka tidak ditangkap hansip, seperti WTS yang dikejar-kejar dan disebut sebagai Sampah Masyarakat? Satyagraha Hoerip (Mas Oyik) menyindir dengan halus para sampah negara ini dalam cerpennya Sarinah Kembang Cikembang. Sarinah terpaksa menjadi WTS karena pembangunan lapangan golf di desanya yang mengambil tanah dan rumah orangtuanya. Pelacur masih lebih terhormat, sebab mereka bekerja untuk menghidupi ayah ibunya dan adik-adiknya. Sementara para koruptor?

    Tema-tema ketidak-adilan sosial menjadi topik utama dalam cerpen-cerpen Mas Oyik. Itulah sebabnya Satyagraha Hoerip disebut Oyik: Orang yang ideologinya kerakyatan. Dalam cerpen Jaksa Agung Artojo dikisahkan bahwa pejabat yang berani meengingatkan akan tujuan perjuangan bisa tiba-tiba mati karena serangan jantung. Padahal baru punya niat untuk memperingatkan. Belum lagi benar-benar mengingatkan.

    Beruntunglah Indonesia memiliki Mas Oyik. Mas Oyik adalah seorang penulis cerpen dengan tema sosial dan kebanggaan akan Indonesia. Mas Oyik memilih menyampaikan kritiknya kepada negara yang dicintai dengan cara yang santun melalui cerpen-cerpennya. Posisinya tersebut dituangkan melalui cerpen pertama dalam kumpulan cerpen ini. Samsuseno, seorang cerpenis yang sedang dibebani masalah keuangan, karena anaknya harus membayar uang kuliah, sementara dia tidak memiliki cukup uang. Tawaran menulis cerpen dari sebuah majalah dengan honor tinggi membuatnya galau. Apakah dia akan menuruti permintaan redaktur muda yang suka akan paha dan dada serta berbumbu seks, atau tetap mempertahankan prinsipnya untuk terus menyuarakan ketidak-adilan sosial. Mas Oyik mengritik para penulis yang hanya memuja cinta dan keindahan alam, tanpa peduli kepada penderitaan rakyat. Namun dia juga menghargai pilihan masing-masing penulis.

    Cintanya kepada tanah air dituangkan dalam cerpen berjudul “Sorry, Sensei”. Gesang, seorang seniman dari Indonesia yang sedang menjadi narasumber dalam sebuah seminar merasa tersinggung atas kritik dari seorang peserta yang menyampaikan bahwa pejabat Indonesia korup. Gesang saking emosinya sampai pingsan terkena serangan jantung. Dalam cerpen yang lain, berjudul “Minggu Legi di Kyoto”, Mas Oyik mengungkapkan cintanya kepada tanah air melalui percakapannya dengan seorang perempuan Jepang di sebuah restoran.

    Dalam cerpennya berjudul Cucu, Mas Oyik berkisah tentang perjumpaannya dengan almarhum istrinya. Komunikasi antara dunia hidup dan dunia mati. Dalam cerpen ini Mas Oyik mengungkapkan bahwa dunia mati menyuarakan hal-hal yang baik dan jujur daripada dunia orang hidup. Meski ceritanya hanya berkisah tentang cucu dan keluarga Sangky, namun Mas Oyik berhasil membawa pesannya tentang komunikasi lintar alam tersebut.

    Dalam cerpen berjudul Ni Luh Pergiwati, Mas oyik bercerita tentang pentingnya prinsip hidup. Hardo begitu marah saat melihat lukisannya dipasang terbalik oleh seorang pembeli. Dia memutuskan untuk tidak jadi menjual lukisan tersebut. Padahal Hardo sudah terlanjur memakai uang muka lukisan tersebut. Namun prinsip yang dipegangnya menjadi kekuatannya, sehingga si pembeli sangat kagum. Si pembeli akhirnya membayar sisa harga lukisan tersebut dan berjanji untuk memasang lukisan tersebut dengan benar.

    Mereka tergerus bukan karena malas. Mereka tergerus karena sistem membuat mereka terlempar keluar. Kisah Supinah yang ahli membuat batik Parang Garudo dengan kualitas tinggi adalah contohnya. Supinah harus kehilangan suaminya yang mati karena disentri. Anak satu-satunya bunuh diri karena malu setelah gagal mencuri. Mardi mencoba mencuri setelah menganggur. Batik Parang Garudo yang dibuatnya untuk menyambung hidup hanya ditawar oleh pedagang Cina Rp.40.000 dari harga Rp.65.000 yang diharapkan. Juragan batik dimana dia menjadi pekerja akhirnya membeli dengan harga Rp 200.000. Harga batik tersebut sesungguhnya adalah Rp 500.000! Dan Mas Oyik berucap, seandainya ada yang memperhatikan keluarga Supinah, maka kejadian tersebut tak akan pernah terjadi.

    Mas Oyik suka membumbui cerpen-cerpennya dengan dada dan paha. Setidaknya dalam cerpen Sarinah Kembang Cikembang, Jaksa Agung Artogo dan Yu Jah, bumbu Mas Oyik sangat terasa.

     

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.