Menulis Sebagai Aktivitas Psikologis dan Aktivitas Kosmis - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Kesejukan Villa di Umbul Sidomukti, Ungaran

Eko S. Nurcahyadi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 11 Juli 2019

Jumat, 12 Juli 2019 17:21 WIB
  • Gaya Hidup
  • Pilihan
  • Menulis Sebagai Aktivitas Psikologis dan Aktivitas Kosmis

    Dibaca : 780 kali

    Menulis ternyata bukan sekedar kegiatan kognitif semata, tetapi sejatinya telah menjadi kegiatan psikologis. Bahkan lebih dari itu, menulis acap kali menjadi tindakan kosmis! Karena dalam aktivitas tersebut telah bekerja semua elemen kosmik di ujung pena seorang penulis laksana wakil Tuhan yang telah memperoleh mandat menebarkan rahmah berupa spirit dan pencerahan kepada umat manusia.

    Tulisan yang demikian itu tentu memiliki deposit energi ilahiyah yang akan mengubah tidak hanya cara pandang pembacanya. Tetapi juga akan mengubah hampir semua aspeknya termasuk motivasinya, kekuatan jiwanya bahkan posisi ruhaniyahnya yang akan menempatkan kembali gerak orbitnya pada tatanan kesemestaannya.

    Energi Kreatif para Penulis Kampiun

    Di dalam novel Ayat-Ayat Cinta, Kang Abik sebenarnya tidak sedang bertutur tentang syari’at agama sebagai pesan utamanya yang sangat membatasi. Namun sebaliknya betapa kata demi kata, kalimat demi kalimat silih berganti hingga akhir tulisannya selalu mengalirkan pesan penuh daya yang menembus dataran kesadaran keimanan yang universal.

    Tak jauh beda dengan Andrea Hirata dalam sequel novel-novelnya.  Dia sebenarnya tidak sedang menulis pengalaman psikologis masa kecil hingga dewasanya. Tetapi lebih dalam dari itu, semua pesan pentingnya dalam setiap ceritanya yang penuh kejutan adalah spirit dan capaiannya yang melampaui segala ketidakmungkinan kehidupan normal. Pada titik itulah melalui untaian kata dan kalimat yang sebenarnya dayly saja namun energinya mampu menyengat dan menggetarkan ruhani penikmatnya.

    Begitu juga dengan senior Pram (Pramoedya Ananta Toer) dalam penuturannya melalui aneka novel bersetting sejarah. Imajinasi kuatnya terekspresikan melalui rangkaian peristiwa yang merupakan campuran antara hasil rekaan dan catatan faktual historis berurutan sepanjang tulisannya berakhir dengan pesan inti ingin memberikan lanskap cara pandang baru dalam memahami, melihat dan mempersepsi realitas sejarah.  

    Imajinasi para pembaca yang tercipta dibarengi emosi yang timbul sejalan dengan alur cerita tentu bukan karena materi yang dituliskan tetapi lebih pada adanya ruh dari tulisan tersebut. Perlu perasaan mengalami memang untuk mampu memberikan jiwa pada sebuah tulisan bermutu. Pengungkapan perasaan, pikiran dan pengalaman menjadi faktor penting untuk memberi nyawa pada karya tulisan.

    Ruh tulisan selain timbul dari emosi penulisnya juga karena kehadiran tak terduga imajinasi-imajinasi baru di luar skema awal penulis. Sehingga aliran tenaga yang termuat dalam setiap kata tak ubahnya mantra digdaya.

    Pondasi Menjadi Penulis Berkarakter

    Jika para penulis mampu membuat tulisan, sebagaimana digambarkan dalam uraian diatas  sesungguhnya nyaris semua tujuan mulianya sudah terpenuhi. Demikian pula dengan manfaat intelektual, mental maupun spiritual baik personal maupun sosial hampir semua dapat diperoleh.

    Kemampuan mengelola mental dan memastikan diri berpijak pada landasan spiritual tentu harus selalu dilatih melalui berbagai upaya untuk mempertahankan stamina untuk memberi karakter pada setiap karya kreatif berbentuk tulisan yang akan menebar manfaat kepada sesama. Demikian pula para penulis harus selalu mengasah keterampilan memilih dan merangkai kata menjadi sebuah kalimat  yang jika dijumlah akan terbangun kontruksi kukuh terdiri banyak paragraf sehingga mampu menjadi wahana tersalurkannya energi serta pesan moral, intelektual dan spiritual secara lengkap kepada penikmatnya.

    Tak kalah penting adalah mempertajam kepekaan psikologis untuk memperkaya dan memperkuat taste karya tulisan. Manfaat yang diperoleh dari beragam tulisan yang dihasilkan akan menjadi katarsis  sempurna. Dus, akan menjadi kepuasan psokologis  tiada tara (the great pleasure) layaknya kenikmatan orgasmik yang memberikan efek ingin selalu mengekspresikan perasaan melalui media tulisan. Itulah sumber stamina seorang penulis yang sesungguhnya.

    Bila beberapa tujuan besar tercapai tentu banyak tujuan lain akan cepat tercapai pula. Hal yang sama bila manfaat penting dan esensial terkait dengan nilai dan spiritual sudah bisa diperoleh manfaat tambahan akan mudah diperoleh pula.  Idealisme seorang penulis akan sangat menentukan bobot dan mutu karya-karyanya dan besarnya manfaat dalam jangka panjang. Semua itu akan menempatkan seorang penulis pada posisi terhormat termasuk kaitannya dengan aspek finansial.

    Sebagai pelengkap akhir juga perlu diperhatikan prinsip-prinsip menulis demi suksesnya misi tulisan dibuat. Yakni pertama, prinsip kebenaran yang mengisyaratkan bahwa apa yang dituangkan dalam tulisan adalah kebenaran belaka bukan manipulasi atau sekedar penggiringan opini. Kedua adalah prinsip kemanfaatan yang artinya konten yang terkandung dalam tulisan dipastikan memberikan manfaat  baik secara sektoral maupun universal. Dan yang terakhir adalah prinsip etis, maksudnya bahwa etika harus selalu dijunjung tinggi dalam penulisan untuk menghindari reaksi kontra produktif terhadap tujuan yang sebenarnya baik dari seorang penulis.**


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.