Sebelum Hoaks menjadi Epidemi - Analisa - www.indonesiana.id
x

Putu Suasta

Politisi Demokrat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

5 hari lalu

Sebelum Hoaks menjadi Epidemi

Dibaca : 569 kali

Lompatan besar dalam peradaban manusia, terutama karena didorong oleh temuan teknologi baru, kerap memunculkan persoalan baru. Dalam sejarah tercatat beberapa kali terjadi wabah (epidemi) besar akibat penggunaan teknologi baru yang melahirkan peradaban baru. Korbannya jutaan nyawa. Penemuan internet dan semua teknologi digital yang kini membawa peradaban kita ke level lebih tinggi, sepertinya juga takkan mudah lepas dari persoalan yang merupakan  efek samping teknologi baru tersebut. Salah satunya adalah hoax. Pola penyebaran dan pertumbuhannya menunjukkan gejala mirip epidemi. Hoax tumbuh dan menyebar melampaui kecepatan manusia untuk mengatasi dan memadamkannya. Persis seperti epidemi.

Lebih Tajam daripada Pedang

Sekali hoax disebarkan, jumlah orang yang terpapar selalu jauh lebih banyak dari jumlah orang yang dapat dijangkau oleh informasi  counter-hoax yang kini giat dilakukan berbagai pihak sebagaimana dituturkan oleh Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo). Karena itulah hoax terus tumbuh kendati perusahaan-perusahaan IT seperti Google, Facebook dan Twitter terus berbenah untuk membendungnya dan menjalin kerja sama dengan koalisi masyarakat.

Mereka yang terpapar hoax kemudian meneruskan informasi bohong kepada orang di sekitar mereka (anak, istri, suami, tetangga dan seterusnya). Dalam perspektif inilah sering dianalogikan bahwa hoax lebih tajam daripada pedang. Pedang hanya dapat merusak benda yang bersentuhan langsung dengannya, sementara hoax dapat menjatuhkan korban secara beranak pinak. Jika dalam beberapa tahun ke depan perhatian serius tidak terus ditingkatkan untuk memberantas hoax, korban yang diakibatkannya dapat lebih masif daripada korban wabah penakit (epidemi) terbesar manapun. Hoax dapat menjatuhkan karier seseorang dan mengubah nasib seluruh keluarga yang berkaitan dengannya. Bahkan hoax dapat mengubah nasib sebuah bangsa.

Penumpang Gelap Politik

Menjadi aktual ketika hoax mendapatkan ‘tumpangannya’ dalam ranah politik, terutama politik kekuasaan. Hoax dalam politik melanda hampir seluruh dunia dalam konteks konflik. Dengan memanfaatkan keajaiban dunia internet, hoax menjadi lebih mudah didistribusikan secara masif, terutama ketika internet menjadfi begitu minded bagi banyak orangseluruh dunia. Internet adalah ‘dunia kedua’ setelah dunia nyata, dan kewberadaannya jauh lebih longgar daripada tata aturan di kehidupan dunia nyata. 

Hoax bukan saja ‘menumpang’ politik. Ia sesungguhnya memainkan semua aspek tanpa kesukaran yang berarti. Dalam sejumlah peristiwa yang terjadi, hoax telah ‘meracuni’ banyak sisi kehidupan yang rawan konflik seperti agama, ras, ekonomi, untuk menyebut beberapa. Dan hoax memainkan semua hal-hal sensitif itu hampir tanpa ampun. Mereka yang menyebar hoax tak pernah memikirkan akibat yang ditimbulkannya. Mereka hanya memikirkan bahwa tujuan tercapai dan mereka mendapatkan imbalan sesuai kesepakatan atau keinginan tertentu. 

Dalam kasus paling faktual, hoax ‘menggila’ dalam Pilpres 2019 kemarin di negeri ini. Tak ada yang paling sengit dari peristiwa sebelumnya tentang ‘perang hoax’ ini selain seperti yang ditampilkan pada Pilpres 2019 lalu. Dengan ‘kurusetra’ berupa media sosial (twitter, facebook, whatsApp),  perang hoax terjadi dengan begitu terang-terangan. Masyarakat netizen menjadi tahu kemudian bahwa itu hoax ketika pihak kepolisian menangkapi sejumlah penyebar hoax. 

Mengapa hoax sering kali berhasil mempengaruhi masyarakat? Dalam kecanggihan intelektualisme, para pembuat hoax, entah itu membelokkan fakta, menyitir sebagian fakta video, membengkokkan narasi suatu sejarah dan lain-lain, pembuat hoax menggunakan kecerdasannya dalam membuat narasi yang sedemikian sempurnanya sehingga pendustaan fakta itu  menjadi seolah-olah kebenaran baru. Bagi masyarakat yang tak terbiasa skeptik, hoax dengan mudah diterima sebagai kebenaran. 

Tujuan Mengalahkan Kebenaran 

Maka yang mengerikan dari hoax ialah kalau si pembuat hoax luar biasa cerdasnya. Mereka bisa mengubah, membelokkan, memelintir suatu dusta menjadi kebenaran yang masuk akal, meyakinkan dan seolah-olah bisa diuji kembali. Hoax yang dibuat sedemikian cerdasnya akan sulit diketahui sebagai informasi dusta. Dalam sejarah ribuan hoax yang pernah terjadi di dunia, hoax pernah dilakukan oleh seorang penulis yang membuat suatu laporan sebagai kisah yang benar-benar terjadi dan hoax-nya begitu meyakinkan sebagai suatu peristiwa nyata. 

Dikisahkan pada 1661 seorang penulis bernama Glanvill yang mendengar kisah horor tentang sebuah rumah yang dihantui oleh bunyi drum. Ia menulis kisah itu dalam tiga buku sebagai kisah nyata. Dan buku-bukunya laris. Namun pada buku ketiga ia mengakui bahwa sesungguhnya ia tak pernah mendengar suara/bunyi drum di rumah yang berhantu itu. andai saja ia tak mengungkapkan sendiri hoax-nya, masyarakat pembaca bukunya tak akan pernah tahu bahwa kisah dalam buku-bukunya itu dusta belaka.

Selain cerdas, lebih mengerikan lagi ketika hoax dikerjakan oleh mereka yang berafiliasi pada suatu keyakinan tertentu, golongan tertentu atau pembelaan suatu kepentingan politik kekuasaan yang hiperfanatik. Orang-orang semacam ini tak lagi mementingkan kebenaran yang sesungguhnya sebagai fakta. Mereka akan melakukan apa yang selama ini disebut sebagai posttruth. Kebenaran bukan hal utama; yang utama ialah tercapainya tujuan, kemenangan, target! 

Posttruth adalah ‘perang’ dan dalam fanatisme keyakinan, dalam perang segala cara adalah sah! Inilah yang membuat mereka tak lagi mempedulikan kebenaran yang agung atau fakta an sich dan kebenaran sejarah. Semua harus ‘dihancurkan’ kembali. Pseudokebenaran harus dikedepankan sebagai moncong senjata yang ganas untuk mematikan lawan. Gejala ini sebetulnya sedikit banyaknya sempat terjadi dalam Pilpres 2010 lalu. Disinyalemen salah satu kubu (jangan-jangan keduanya!) memiliki cyber army yang melancarkan hoax sebagai ‘serdadu maya’ dalam cyber war. 

Era posttruth saat ini, tulis Hamdan Hamedan, seorang pemerhati sosial, dalam kolomnya di Tempo, celakanya justru menyuburkan hoaks, menawarkan fakta alternatif dan melahirkan manusia kebal fakta. Kebohongan “kecil” seperti “bumi itu datar” mungkin tidak berakibat fatal. Namun kebohongan besar seperti “makin banyak pistol (atau nuklir), makin aman dunia ini dan yang terparah, “pemanasan global hanyalah fiksi”, pasti berakibat fatal. Amat ironis (dan sedikit puitis) jika kemampuan berbahasa yang menjadikan manusia superior justru akan menamatkannya (Tempo, 25 November 2018). 

Karena itu hoax tak bisa dianggap main-main. Itu karena hoax telah direncanakan dengan maksud menipu, mengelabuhi, membohongi. Kata hoax sendiri diduga berasal dari kata hocus yang berarti mengelabuhi, diambil dari ungkapan tukang sulap yang memainkan permainan sulapnya. Dalam tujuan yang lebih serius, hoax bisa menimbulkan kegaduhan yang berujung pada konflik vertikal maupun horizontal. 

Dewan Pers bahkan telah mengindikasi kemungkinan yang bisa ditimbulkan oleh suatu hoax, di antaranya: mengakibatkan kecemasan, kebencian dan permusuhan, bermuatan fanatisme atas nama ideologi (tertentu), bersifat provokatif, memberi penghukuman serta menyembunyikan fakta yang sesungguhnya. Dalam sejumlah peristiwa, postingan hoax akhirnya membawa konflik ke dunia nyata karena meyakini hoax sebagai sebuah kebenaran.  

Hoax menjadi sangat berbahaya ketika ia diyakini sebagai kebenaran. Hal ini mungkin mengingat daya tangkal masyarakat kita terhadap hoax belum benar-benar terlatih. Apalagi hoax dibikin dengan begitu meyakinkan dan sempurna. Menjadi lebih berbahaya ketika pembuat hoax dan penyebarnya memainkan isu-isu sensitif seperti misalnya mengutak-atik isu  agama dan etnik. Kita tahu, menyangkut agama dan ras, masyarakat kita mudah sekali terpancing. Dalam beberapa kasus, hoax yang menyangkut isu agama dan ras hampir saja menuai konflik di dunia nyata.

Catatan pers mengenai konflik-konflik horizontal adalah bukti bahwa efek hoax yang disebar di media sosial pengaruhnya memberi dampak serius di dunia nyata. Media semacam okezone.com, misalnya, pernah menurunkan berita tentang efek nyata dari hoax dengan judul, “Ini 6 Informasi Hoax yang Fenomenal hingga Telan Korban Jiwa” (Rabu, 28 Maret 2018) yang memaparkan konflik-konflik horizontal di masyarakat akibat hoax di dunia maya. 

Konflik-konflik yang diberitakan okezone.com itu di antaranya adalah hoax tentang penyerangan ulama oleh orang gila. Akibatnya, sejumlah wilayah melakukan razia terhadap orang gila guna meminimalisir adanya serangan yang dikabarkan menyasar kepada ulama. Berita lain yang dikabarkan sebagai korban hoax adalah ojek online berkonflik dengan angkot. Pada Rabu, 8 Maret 2017 sore ribuan ojek online se-Jabotabek melakukan aksi sweeping terhadap angkutan perkotaan (angkot) di wilayah kota Tangerang. Aksi itu dilakukan karena adanya aksi aniaya yang dilakukan oleh sejumlah supir angkot terhadap driver ojek online. 

Bahwa betapa berbahayanya hoax pada akhirnya banyak pihak yang cemas. Hoax seperti api dalam sekam, ia hanya membutuhkan reaksi ‘tiupan’ kecil yang nyata dan api akan membesar. Kecemasan konflik di dunia nyata telah menunjukkan buktinya sebagaimana diwartakan oleh media-media mainstraim. Beruntunglah konflik/bentrok yang terjadi dengan cepat diatasi oleh masyarakat sendiri yang masih menegakkan pikiran-pikiran waras. Namun hoax tetap saja menjanjikan efek negatif yang mengerikan jika tak diantispasi sedini mungkin.

Salah satu institusi yang sejak dini mencemaskan efek hoax di masyarakat adalah Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo). Menurut koordinatornya, Adven Sarbani, hoax menjadi isu yang berbahaya dalam hidup berbangsa dan bermasyarakat. Isu-isu peka seperti SARA (suku, agama dan ras antargolongan) hingga ujaran kebencian menjadi materi berbahaya dalam penyebaran berita hoax. Menurutnya, semua pihak harus proaktif dalam menyikapi hoax mengingat ekses yang ditimbulkannya bisa mengerikan sekali dalam kontek hidup berbangsa dan bermasyarakat. 

Dugaan, kecemasan dan fakta yang terjadi sebagai akibat hoax adalah fenomena yang tak dapat dipandang sebelah mata. Hoax tak bisa dibiarkan berumur panjang ketika ia ‘dilepas’ sebagai kabar bohong. Masalahnya, ketahanan dan pemahaman masyarakatkita begitu lembek dan begitu mudah tersulut oleh hoax. Karena hoax harus dihadang oleh pemahaman kecerdasan yang memadai untuk tidak mengatakan harus sangat cerdas. Hoax seperti iblis, daya bujuk dan kecerdasannya begitu canggih. Kemampuannya menikam melebihi seribu pedang dan daya rusaknya melebihi epidemi penyakit yang pernah menimpa manusia (PS/02062019).

 

 

  • serbuan hoax

Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.