Pramoedya Ananta Toer: Kolonialisme, Komunisme dan Humanisme - Analisis - www.indonesiana.id
x

Pameran lukisan dalam rangka mengenang Pramoedya Ananta Toer di Goethe Hous, Jakarta beberapa waktu silam. TEMPO/Tri Handiyatno

prima dwianto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Pramoedya Ananta Toer: Kolonialisme, Komunisme dan Humanisme

    Pandangan Pram mengenai kehidupan sosial-politik dirasa masih relevan untuk saat ini

    Dibaca : 7.011 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    Lingkaran sastra Indonesia pernah memiliki seorang masterpiece dalam diri Pramoedya Ananta Toer. Karya-karyanya dianggap layak mendapatkan nobel sastra kala itu. Penulis yang termasuk ‘Angkatan 45’, terilhami semangat revolusi, berhasil menelurkan tetralogi Buru sebagai karya terbesarnya. Penjara, pembuangan, serta memori masa kecilnya membentuk karakter pemikirannya dalam menyikapi fenomena sosial yang mengiringi perjalanan bangsa ini.

    Lahir di sebuah kota kecil di timur Jawa Tengah, Blora, 6 Februari 1925, Pram, begitu ia sering disapa, merupakan sulung dari sembilan bersaudara. Ayahnya adalah seorang guru yang berhaluan nasionalis kiri. Sementara ibunya berasal dari keluarga kaya yang masih memegang nilai-nilai feodal. Akan tetapi, karena pilihan politik yang mengekor suaminya, semua harus ia kerjakan sendiri termasuk bekerja di sawah. Pram menerima pendidikan ala nasionalis kiri sejak masa kecilnya.

    Kerasnya hidup bak sudah menjadi santapan sehari-harinya. Ayahnya meninggalkan profesi sebagai guru di Hollands-Indische School (HIS) untuk bergabung dengan sekolah pergerakan, Budi Utomo, yang antikolonial. Ibunya meninggal di usia yang masih cukup muda, 34 tahun. Pendidikannya di MULO tak bisa ia rampungkan karena alasan ekonomi. Pram sempat berjualan rokok dan tembakau guna memenuhi kebutuhan keluarganya.

    Berkecamuknya masa revolusi ketika agresi militer Belanda terjadi, Pram harus mendekam di tahanan karena menyebarkan pamflet dari gerakan bawah tanah, 1947. Setelah Belanda, akhirnya, mengakui kedaulatan Indonesia, Pram menikmati alam kebebasannya lagi. Namun, lengsernya kekuasaan Soekarno yang segera diambil alih oleh Soeharto membawa Pram kembali pada masa kelamnya. Pram yang aktif di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), dinilai menganut komunisme dan harus ditumpas. Selama empat tahun, Pram harus mendekam di Penjara Salemba. Setelah sempat dipindahkan ke pulau Nusa Kambangan selama beberapa minggu, Pram akhirnya dimutasi ke Pulau Buru, tempat dimana ia merasakan kegetiran yang paling dalam selama masa hidupnya.

    Di Pulau Buru segalanya menjadi serba sulit. Pulau yang hanya dihuni oleh penduduk yang masih primitif, mengharuskan Pram dan kawan-kawannya sesama tahanan politik harus berpikir keras untuk sekadar bertahan hidup. Tikus dan ular menjadi santapannya, yang menyebabkan kulit pecah-pecah dan mengeluarkan cacing-cacing kecil. Untung saja, Pram hanya menderita gangguan pendengaran tanpa harus menderita hepatitis, malaria, dan TBC seperti tahanan lainnya. Untuk menghindari penyakit kuning, Pram meminum sebotol air putih setelah bangun tidur agar ginjalnya tetap bekerja dengan baik. Setelah sepuluh tahun berlalu tanpa proses pengadilan, 21 Desember 1979, Pram dibebaskan, tetapi masih diwajibkan untuk melapor ke komando distrik, sebulan sekali.

    Pandangan Pram mengenai kolonialisme, komunisme, maupun humanisme dirasa masih relevan untuk saat ini. Pengalaman hidup sejak kolonialisme Belanda, pendudukan Jepang, revolusi, masa Soekarno, masa Soeharto, hingga reformasi memperkaya perspektif Pram dalam menyikapi fenomena sosial yang muncul di masyarakat. Perjalanan hidup yang dilaluinya menjadikan Pram tegas dan mandiri dalam bersikap.

    Pram menganggap kolonialisme Belanda memiliki jasa besar bagi pribumi. Singkong dibawa para penjajah dari Afrika, begitu pula jagung dan buncis yang harus diimpor. Pemerintah kolonial mendirikan perusahaan-perusahaan baru dan menyediakan tempat maupun keterampilan dalam memelihara tanaman seperti teh dan kopi. Infrastruktur yang dapat dinikmati kini adalah buah kerja kolonialisme. Sistem perundang-undangan serta sistem nilai tentang baik dan buruk juga menjadi warisan kolonial. Bahkan, ibu kota negara, Belandalah yang menentukannya. Akan tetapi, dampak negatif kolonialisme layak pula untuk dikritisi. Bertahannya sistem feodal, yang dimanfaatkan oleh pemerintah kolonial Belanda, serta diperasnya pribumi menimbulkan kebencian dan perasaan anti Belanda. Pram menyadari, bukan orang-orang Belanda yang tidak baik, melainkan sistem pemerintahannya yang sangat eksploitatif.

    Mengenai komunisme, Pram mengaku bukan pengagum Marx. Dia hanya berpihak pada sesuatu yang adil, benar, dan berperikemanusiaan. PKI (Partai Komunis Indonesia) yang didukungnya, lewat Lekra, dianggap mengusahakan peningkatan taraf hidup rakyat kecil, meskipun ia tak menjadi anggota resmi PKI. Komunisme, menurut Pram, hadir sebagai sebuah ideologi dan sistem politik. Komunisme bermakna untuk individu sebagai sebuah ideologi, tetapi sebagai sistem politik komunisme menghasilkan penindasan. Komunisme dianggap tidak demokratis. Menurutnya, seberapa buruk demokrasi masih lebih baik ketimbang komunisme.

    Pram percaya terhadap kebaikan dan keadilan yang lahir dari jiwanya, bukan suatu pengaruh dari luar seperti agama, undang-undang, atau paksaan. Itulah humanisme yang diimpikannya. Humanisme yang dianutnya adalah humanisme proletar, berpihak pada wong cilik, bukan humanisme universal (liberal) yang dianggap borjuis. Pram sangat mengagumi Multatuli, yang menurutnya membangkitkan kesadaran para intelektual bahwa mereka memiliki tanah air dan bangsa yang mengalami penjajahan. Multatuli menumbuhkan kesadaran untuk menentang kolonialisme Belanda.

    Pandangan hidup Pram dituangkannya dalam berbagai karya yang monumental. Membaca dan menyarikan pesan yang disampaikan dalam tulisannya, mengilhami kita tentang Pram yang kritis, tetapi tetap membangun dan berpihak kepada kebenaran. Keberhasilan baginya adalah ketika orang-orang yang membaca karyanya menjadi lebih berani dan merasa dikuatkan.  

    PRIMA DWIANTO

    Alumni Jurusan Ilmu Sejarah, FIB, UGM

    Ikuti tulisan menarik prima dwianto lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.