Fotografi sebagai Terapi Korban Kekerasan Seksual

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Fotografi tak sekadar hobi. Ia bisa dipakai sebagai penyembuh mereka yang jiwanya sedang merasa nyeri.

HOBI bagi sebagian orang hanyalah pengisi waktu kosong yang tidak ada faedah nyatanya. Tetapi manfaat dari memiliki hobi ternyata di luar koridor untung rugi semacam itu. Jika kita mau menilik lebih dalam, hobi bisa menyelamatkan keseimbangan jiwa dan raga kita selama menjalani kehidupan yang tidak selalu mulus ini.

Hal inilah yang terjadi pada seorang wanita, sebut saja Kaila, yang pernah menjadi korban kekerasan seksual. Pasca kejadian traumatis itu, jiwa Kaila teruncang. Ketakutan menghantuinya sehingga kegiatan sehari-hari tak mungkin ia lakukan. Semua aktivitas luar ruangan membuatnya begitu ketakutan. “Saya merasakan ada bahaya yang selalu mengintai,” ucapnya.

Kini Kaila sudah berhasil menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih baik, relatif bebas dari ketakutan yang masih menghantuinya. Tetapi makin lama ia makin kuat dan berani melawan ketakutan itu.

Sebuah metode bernama photo-voice mengembalikan semangat hidup Kaila. Metode ini sangat akrab bagi kita terutama yang suka mengambil foto dengan ponsel cerdas. Kaila cukup berjalan kaki ke luar bersama anjingnya atau melakukan kegiatan apa saja di luar rumah (yang menjadi zona aman baginya) dan mengambil foto-foto sesuai keinginannya.

Dengan fotografi sederhana ini, Kaila didorong untuk kembali bangkit menjalani kehidupan mereka yang masih terbentang, untuk kemudian menghadapi trauma itu kembali dan mengurai kecemasan yang ada lalu menuangkan uneg-uneg kembali dalam wujud foto-foto indah penuh makna. Foto-foto ini menjadi wujud ekspresi jiwa mereka. Dan Kaila terbantu untuk lebih kuat dengan menjalani intervensi terapeutik satu ini.

Foto memiliki kekuatannya sendiri. Ia mampu membuka jalan yang sebelumnya terblokir oleh trauma dalam jiwa korban kekerasan seksual. Menurut akademisi dari School of Medicine University of Missoury Health, Abigail Rolbiecki, Ph. D., fotografi memberikan kesempatan bagi mereka untuk membuka diri, memulai percakapan, yang berguna sekali dalam membangun hubungan yang bersifat menyembuhkan,” tuturnya panjang lebar. Rolbiecki terlibat dalam penelitian ilmiah yang menjadikan wanita-wanita korban kekerasan seksual seperti Kaila sebagai subjek penelitiannya.

Saya sepakat, karena trauma biasanya membuat jiwa orang yang mengalaminya menjadi tiarap, membungkuk ketakutan agar tetap selamat dari ancaman yang tidak selalu ada. Saat mereka menyadari bahwa dunia tidak melulu berisi ancaman tetapi juga menyimpan berbagai keindahan dan keagungan, mereka akan bisa memahami bahwa menutup diri selama sisa hayat adalah sesuatu yang tidak beralasan sebab kodrat manusia ialah mengejar kebahagiaan. Dan menutup diri secara ekstrem tidak membuat manusia normal bahagia. Jika ia masih waras, dalam dirinya yang paling dalam ia akan selalu ingin membuka diri dengan senyamannya, untuk kemudian bisa berhubungan dengan orang-orang yang ada di sekitarnya, kembali membangun interaksi yang positif dengan mereka. Saat seorang manusia menutup diri dan terasing dari sekelilingnya, seperti sebuah sel otak yang putus dari sambungan dengan sel lain, ia akan merasa terpencil, yang menggiring pada perasaan tidak berguna, dan depresi pun melanda. Tak ayal kematian akan lebih cepat menjemput cepat atau lambat.

Kaila mengatakan dirinya sempat cemas jika terapi photo-voice ini akan membuatnya makin terperosok dalam lembah trauma tetapi apa yang ia alami kemudian malah sebaliknya. Ia merasa dikuatkan dan dibantu untuk menjalani hidup dengan lebih ceria dan optimistis. “Dulu saya pikir dunia adalah miliki orang lain dan saya tak punya kendali atas dunia itu. Dengan terapi ini, seolah saya bisa menjadi penulis dari kisah saya sendiri,” tegas perempuan itu.

Tentu masih terlalu dini untuk mengatakan bahwa metode ini 100 % berhasil untuk menyembuhkan trauma akibat kekerasan seksual tetapi setidaknya cara ini bisa dipakai untuk membuat mereka lebih terbuka sehingga upaya penyembuhan secara psikologis akan lebih lancar. Jika mereka lebih terbuka dalam interaksi dengan orang lain, diharapkan mereka bisa berbagi kegundahan dan trauma itu dengan orang lain. Berbagi beban akan sangat membantu mereka untuk tetap optimistis untuk terus melanjutkan kehidupan.

Fotografi sebagai terapi semacam ini tidak bisa dilakukan secara sembarangan karena mesti dilaksanakan dalam panduan seorang psikolog atau psikiater. Rolbiecki menambahkan bahwa fotografi bisa menyembuhkan asal dilakukan dengan kontrol dan tujuan yang jelas sehingga berangsur-angsur jiwa akan lebih kebal dan kuat terhadap faktor pemicu trauma. Hal ini kemudian akan berkontribusi pada pengurangan reaksi pasca trauma.

Hasil studi ini menurut saya bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari kita yang bukan korban kekerasan seksual sebab dalam satu titik di perjalanan kehidupan kita, pasti kita pernah mengalami kekerasan yang traumatis juga. Dan untuk memulihkan diri, kita bisa menggunakan fotografi sebagai sarana berekspresi dan menjernihkan pikiran di saat-saat kritis tersebut. (*)

Bagikan Artikel Ini

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua