Pers dan Pergerakan Nasional - Analisis - www.indonesiana.id
x

prima dwianto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Pers dan Pergerakan Nasional

    Peran pers pada masa pergerakan nasional dan ironinya kini

    Dibaca : 16.389 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Awal abad 20 ditandai dengan menggeliatnya organisasi kepemudaan. Semakin banyak pemuda yang memperoleh pendidikan, di dalam maupun luar negeri, menumbuhkembangkan kesadaran untuk menyetarakan dirinya dengan pihak asing. Melalui organisas-oragnisasi kepemudaan, mereka menyerukan berbagai aspirasi demi kemajuan pribumi. Boedi Oetomo, Sarekat Islam, dan Indische Partij merupakan organisasi yang muncul kala itu. Surat kabar menjadi aktivitas kunci yang dijalankan. Pulau Jawa dan Sumatera menjadi pionir dalam perkembangan surat kabar, ditandai dengan munculnya berbagai surat kabar berbahasa Melayu dan bahasa daerah lainnya.  

    Sebagai alat komunikasi, surat kabar, menyampaikan berbagai gagasan, mengenai keterbelakangan, diskriminasi, dan status yang rendah dimata golongan Eropa yang dialami pribumi. Surat kabar merupakan sarana yang efektif dalam menyampaikan gagasan mengenai emansipasi. Hasrat untuk maju, mengikuti perkembangan zaman, memperoleh kesempatan untuk menikmati kehidupan, dan meningkatkan taraf hidup menjadi isu krusial.

    Kehidupan pers di nusantara, sebenarnya, telah muncul sekitar abad 18. Gubernur Jenderal van Imhoff menerbitkan Bataviasche Nouvelles, 1744, walaupun hanya bertahan selama dua tahun. Pers Tionghoa juga semakin berkembang disamping pers Belanda. Walaupun perkembangan ini diawali oleh pers Belanda dan Tionghoa, pada masa kemudian, kehidupan pers yang berorientasi pada kehidupan pribumi juga mendapat kesempatan. Beberapa kota besar seperti Batavia, Surabaya, Semarang, dan Padang telah memasuki budaya cetak yang semakin mendukung kehidupan pers.

    Budi Oetomo sebagai tonggak berdirinya organisasi di nusantara, memanfaatkan pers sebagai langkah dalam menyebarkan gagasannya. Gagasannya mendapatkan tempat dalam surat kabar De Locomotief, Bataviaasch Nieuwsblad, dan juga Jong Indie. Organisasi ini menunjukkan pentingnya surat kabar dalam usaha menggapai kemajuan dan kesejahteraan. Organisasi ini berkeinginan untuk membebaskan masyarakat Jawa dari cengkeraman kemiskinan dan keterbelakangan. Pada tahun 1910 organisasi ini juga membeli Darmo Kondo dengan modal f 50.000 dari seorang keturunan Tionghoa bernama Tjhie Siang Ling. Meskipun kurang menunjukkan kepekaannya terhadap keadaan sosial kala itu, Darmo Kondo tetap memiliki penikmat setia dalam jumlah signifikan.

    Sarekat Islam, pada awal berdirinya, bernama Sarekat Dagang Islamiyah (SDI). Didirikan oleh Samanhudi, di Surakarta, 1905, untuk mengakomodasi kepentingan pengusaha pribumi dalam persaingan dengan pengusaha Tionghoa. Dalam perkembangannya, seorang editor Medan Prijaji dan Poetri Hindia bernama R.M. Tirtoadisoerjo, bapak pers nasional, mendirikan SDI di Batavia, 1910. Tulisan-tulisannya berusaha untuk memperbaiki status pedagang Islam dan mempersatukannya. Organisasi ini memutuskan untuk memindahkan pusat kegiatannya dari Surakarta ke Surabaya, tepat pada 26 Juli 1913 dibawah kepemimpinan Tjokroaminoto, Sosrobroto, serta Tirtodanudjo organisasi ini mengadakan kongres pertamanya di Surabaya.

    Melalui Oetoesan Hindia, Sarekat Islam berusaha menyampaikan aspirasinya bagi masyarakat. Isinya mencerminkan kehidupan politik, perburuhan, dan ekonomi. Tirtodanudjo adalah seorang penulis yang cukup tajam dan menarik perhatian umum. Tjokroaminoto mengimbangi tulisan Tirtodanudjo dengan nada yang lebih tenang dan menangkis serangan yang mengarah kepadanya. Selain mereka berdua, masih ada beberapa penulis seperti Abdul Muis, Haji Agus Salim, Wignjadisastra, dan Surjopranoto yang secara silih berganti mengisi dan memberikan pengaruh terhadap surat kabar ini. Dikarenakan adanya berbagai permasalahan di tubuh organisasi ini, akhirnya Oetoesan Hindia tutup pada 1923.

    Indische Partij menerbitkan Het Tijdshrift dan surat kabar De Expres. Organisasi yang didirikan di Bandung, 6 September 1912, menyebarkan propagandanya melalui tulisan, salah satu pendirinya, Douwes Dekker. Meskipun ditulis dalam bahasa Belanada, tetapi isinya mencoba menyampaikan bagaimana masa depan nusantara selanjutnya. Pemikiran-pemikirannya dijadikan landasan kesatuan dan perjuangan untuk memerdekakan diri. Banyak yang menganggap tulisannya kritis, tenang, dan mengarah kepada pembacanya. Ada juga Suwardi Suryaningrat yang menulis sebuah artikel berjudul Als Ik Eens Nederlander Was. Artikel ini mempertanyakan bagaimana perasaan seseorang yang merayakan kemerdekaan ditengah-tengah masyarakat yang belum merdeka. Artikel tersebut menjadi bagian penting bagi percaturan politik Indonesia dikemudian hari karena kritiknya terhadap pihak kolonial.

    Tak ketinggalan, Partai Komunis Indonesia (PKI) menerbitkan beberapa surat kabar. Organisasi yang lahir pada 1920, sampai tahun 1926, tercatat telah menerbitkan lebih dari 20 penerbitan seperti Sinar Hindia, Islam Bergerak, dan Proletar. Propaganda yang disuarakan adalah untuk menjalankan agitasi dan membangkitkan kegelisahan sosial. Tulisan-tulisan dari PKI cukup memberikan pengaruh terhadap masyarakat terutama mereka yang sebelumnya terisolasi dari bacaan.

    Selain beberapa surat kabar yang diterbitkan oleh beberapa organisasi, terdapat pula surat kabar yang turut memberikan pengaruh terhadap pergerakan nasional. Di Padang misalnya, enam surat kabar yang terbit hingga 1912. Majalah bulanan berjudul Insulinde yang diketuai oleh Dja Endar Muda terbit pada 1901. Majalah ini mencoba memberikan kesadaran kepada pembacanya untuk melaksanakan tuntutan zaman modern atau kemajuan.

    Surat kabar, nyatanya, memberikan kesadaran maupun semangat bagi pribumi untuk lepas dari belenggu kolonialisme. Ironis, di era modern kini, mission sacre surat kabar seakan terkikis. Kepentingan politik praktis, keberpihakan pada suatu kelompok, kabar yang tak berimbang, serta independensi yang loyo malah menjadi wajah surat kabar nusantara. Mutlak bagi awak media, terutama surat kabar, untuk mengembalikan marwah kehidupan pers demi kemajuan kehidupan berbangsa dan bernegara.

     

    PRIMA DWIANTO

    Alumni Jurusan Ilmu Sejarah, FIB, UGM

    Ikuti tulisan menarik prima dwianto lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.