Potret Desa Brumbun Maduran Lamongan - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

Papan tanda masuk desa Brumbun

Main Virgiawan

Tidak perlu menjelaskan tentangku, yg mencintaiku tak butuh itu, yg membenciku tak mempercayai itu
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Peristiwa
  • Pilihan
  • Potret Desa Brumbun Maduran Lamongan

    Dibaca : 2.239 kali

    Potret Desa Brumbun  Maduran Lamongan 

    Setiap desa di daerah-daerah masing-masing mempunyai potensi yang bisa di kembangkan, baik itu potensi alamnya maupun sumber daya manusianya.

    Berkat perhatian pemerintah yang memberikan dana khusus untuk perkembangan desa,  sedikit demi sedikit potensi itu mulai terlihat.

    Pemanfaatan dari dana tersebut antara lain untuk membangun infrastruktur desa sampai meningkatkan sumber daya manusia seperti memberantas buta huruf.

    Salah satu Desa berpotensi adalah Desa Brumbun kecamatan Maduran Kabupaten Lamongan.

    Di desa Brumbun terdiri dari tiga dusun yaitu dusun Brumbun,Banturejo dan dusun Bonten.

     

    Jarak desa Brumbun dengan kecamatan 3.5 Km, sehingga untuk bisa kesana kita butuh perjalanan sekitar 15 menit . Dulu di pertigaan desa pangean terdapat pangkalan ojek yang merupakan salah satu akses untuk masuk desa brumbun, sekitar tahun 2000-an ojek semakin sepi karena masyarakat semakin banyak yang memiliki motor sendiri. Sehingga perlahan tidak ada tukang ojek yang mangkal disini.

     

    Di desa Brumbun terdapat 1 kantor balai desa yang letaknya di dusun Brumbun, terdapat tiga masjid di masing-masing dusun, 1 Sekolah Dasar yang letaknya diantara brumbun dan Banturejo, Taman kanak-kanak, serta Bidan.

     

    Dari tahun ketahun wajah desa Brumbun kian membaik.

    Saya masih ingat betul bagaimana wajah desa Brumbun 25 tahun yang lalu, jalan akses ke desa masih bletok'an, listrik belum ada, sistem perairan di sawah yang belum tertata, bahkan setiap warga tidak ada yang memiliki WC, sehingga setiap pembuangan dilakukan di embong. Pagi hari sebelum subuh dan malam hari.

     

    Dari segi kemajuan infrastruktur memang sudah lumayan bagus,saya salut dengan Desa Brumbun yang dulu, sikap tolong menolong, gotong royong, budaya serta dolanan anak-anak masih terjaga betul.

     

    Saya sangat ingat bagaimana dulu saya bermain, bagaimana saya dan teman-teman bermain dengan permainan yang sangat tradisional.

    Permainan tradisional yang kami buat sendiri mendidik kami menjadi lebih mandiri, serta tidak ada satupun permainan tradisional yang dimainkan beberapa anak, sehingga dalam sekali bermain kami semua berkumpul, melatih interaksi sosial serta manajemen sosial kami. Permainan tersebut antara

     

     

     

    lain Bentik, Sodoran, Jendotan,Sekitan, Kekean, Layangan, Bedil-bedilan, Tekpo, Mancing, Angon, Ngaret, Golek manuk, Nglangi neng ngawan, Bal-balan, serta ada beberapa yang saya lupa.

    Ini adalah bahasa permainan di desa saya, semoga kawan-kawan yang membaca paham,nek ra paham berarti bukan orang Brumbun.hehehehe

     

    Seiring berkembangnya jaman, pembangunan di desa semakin merata.

    Jalan2 Desa mulai di perbaiki bahkan listrik pun akirnya masuk juga di desa kami maka berlahan namun pasti barang-barang elektronik mulai dinikmati masyarakat  Perlahan satu dua warga ada yang mempunyai Tivi warna. Karena satu desa hanya beberapa yang punya, suasana melihat tv sangat rame, bahkan mengalahkan keramaian saat kita di bioskop. Dalam satu rumah, ada 1 tv, yang melihat bisa full bahkan sampai luar rumah, padahal itu masih tv.

    Inilah potret wajah Desa Brumbun, masa-masa transisi sebelum akhirnya di Desa saya terbanjiri produk-produk luar hingga akhirnya budaya di desapun mulai terkikis oleh budaya luar. Semakin lama semakin banyak warga yang memiliki tv, bahkan sekarang ini setiap rumah ada tv nya. Tentu ini sangat berbeda dengan dulu, dimana warga masih sering berkumpul ,jagongan di luar rumah, melihat tv bareng-bareng . Tapi sekarang, setiap malam warga hanya sibuk dengan tv nya masing-masing, suasana yang dulu sudah tidak terlihat dan tentunya ini berdampak pada sosial antar warga.

     

    Di dunia anak-anak/remajapun demikian, berbeda dengan tahun dulu ,saat saya masih duduk di bangku SD-SMP, Seperti yang saya ceritakan di atas, kehidupan masa kecil kami benar-benar di habiskan dengan permainan tradisional serta bermain dengan alam. Permainan yang bisa mendidik serta melatih kemandirian, kreatifitas, serta manajemen sosial kami.

     

    Semenjak di Desa mulai di dimasuki barang-barang yang disebut dari dunia modern terutama gadget, aktifitas anak-anak/remaja di Desa saya juga sudah berubah. Perubahan itu mulai terlihat, Anak-anak/remaja lebih disibukkan dengan tv serta bermain Hp. Waktu lebih banyak di habiskan di dalam rumah, interaksi dengan dunia luar mulai di tinggalkan termasuk permainan tradisional yang bagi saya pribadi memiliki banyak manfaat.

     

    Beginilah potret kehidupan di Desa saya, mungkin tak jauh berbeda dengan desa-desa lainya. Antara kemajuan desa dan potret budaya yang tak seimbang. Seolah kita dihadapkan pada dua pilihan, Desa maju dengan budaya yang semakin tertinggal atau desa yang di bilang tertinggal tetapi budaya yang tetap di pertahankan.

     

    Seharusnya kesadaran seperti ini kita miliki, agar kita tetap bisa memajukan desa dari berbagai bidang tetapi tetap bisa mempertahankan budaya yang selama ini kita miliki tanpa harus hanyut oleh perkembangan jaman dan budaya dari luar.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.