My Everything: To Mother - Urban - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi ibu dan bayi. Shutterstock

Nuraz Aji

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • My Everything: To Mother

    puisi terjemahan

    Dibaca : 2.804 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sorry for any mistake. On departure that is not the will. There is no measuring ark forgiveness, love is more than the story of the longing lovers, airy spaciousness over the airport. My thanks shallow depth would not be enough to your love. Although sometimes out similar meteor burning the wind.

     

    Forgive me who do not know how long the sacrifice that is offered. Until anger vomiting however I'm a fool. Sorry does not remove all the words that grow on your chest wound. Give me a chance to pull it out slowly.

     

    Mom, you my everything. The angel who recorded a bad habit of mine. Friends of approaching without malicious intent. Friends who

    let me satiety, where as hungry stomach. Lover who never made me feel left out. Dear lover who allowed without pain sweep crocodile.

     

    Mother like a blazing sun in bruises, burns all the grief that slowly turn to dust. Month in every month, no matter how sickle was full. The brightest star, twinkling how tetiba darkness ahead.

     

    Mom, you can transform everything, because you're everything. Although you these streaks are nothing. I just wanted to say that my dream a few similar pieces of hundreds of thousands. And I wanted to buy it, with your blessing from God. Because it includes one of my everything.

     

     2015

     

     

    SEGALAKU: KEPADA IBU

     

    Maaf atas segala khilaf. Atas tolak yang tak kehendak. Tiada bahtera seluas pengampunanmu, kasih lebih dari kisah sepasang kekasih paling rindu, lapang lebih dari kelapangan bandara. Terima kasihku yang dangkal, tak bakal cukup untuk kedalaman sayangmu. Meski kadang keluar serupa jatuhnya meteor yang terbakar angin lalu.

     

    Ampuniku yang tak paham betapa panjang pengorbanan yang dipersembahkan. Sampai amarah muntah bagaimanapun kubebal. Maaf tak menghapus segala kata yang menumbuhkan luka di dadamu. Beri aku kesempatan, untuk mencabutnya perlahan.

     

    Bu, kau segalaku. Malaikat yang mencatat kebiasaan burukku. Sahabat yang mendekat tanpa niat jahat. Teman yang merelakanku kenyang, padahal perutnya lapar. Kekasih yang tak pernah membuatku merasa tersisih. Kekasih yang mengizinkanku terkasih tanpa sakit sikatan buaya.

     

    Ibu bagai terik mentari di dalam memar, membakar semua duka yang perlahan mengabu. Bulan di setiap bulan, ada betapa pun sabit pun purnama. Bintang paling terang, kerlap-kerlip betapa kegelapan tetiba menghadang.

     

    Bu, kau bisa menjelma segala, karena kaulah segalanya. Meski bagimu coretan ini bukan apa-apa. Aku hanya ingin berkata bahwa mimpiku setara beberapa lembar ratusan ribu. Dan aku ingin membelinya, dari Tuhan dengan restumu. Sebab ia termasuk satu dari segalaku.

     

    Klaten, 9 Maret 2015

    *Dalam antologi DNP 6: Negeri Laut

     

    Ikuti tulisan menarik Nuraz Aji lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.





    Oleh: Mulia Zachrie

    Jumat, 13 Januari 2023 21:58 WIB

    Digital Marketing di Era 4.0

    Dibaca : 450 kali