Inspirasi itu Bernama Gie

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Gie sebuah inspirasi dalam artikel-artikel yang saya tulis

Saya mungkin adalah generasi muda yang telat mengenal sosok Gie. Saya pertama kali mengenal Gie pada sekitar tahun 1998-1999. Saat saya masih kuliah di sebuah universitas di Surabaya. Saya baca buku yang berjudul, "Catatan Seorang Demonstran", terbitan LP3ES.

Sebagai seorang mahasiswa yang pada waktu itu baru saja terlibat dalam hiruk pikuk demonstrasi anti-Soeharto, jelas buku itu sangat menarik. Kesan setelah membaca buku itu, seakan apa yang selama ini saya lakukan sebagai aktivis mahasiswa mendapat pembenaran. Bahkan dalam hati sempat terbesit pemikiran, Gie gue banget. Hmm...mmm ingin tertawa sendiri saat mengenang saat-saat itu.

Waktu berlalu. Gie belum hilang dari benak saya meskipun bangku kuliah dan aktivisme mahasiswa sudah berlalu. Seiring perjalanan waktu, semakin banyak pula buku-buku tulisan Gie yang saya baca. Diantara buku Gie yang saya baca misalnya, Zaman Peralihan, Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan. Kesan setelah membaca buku-buku itu adalah, Gie orang yang cerdas, lugas dan tanpa kompromi.

Tidak hanya buku. Saya pun menonton film Gie yang dibintangi oleh Nicolas Saputra. Entah berapa kali saya menonton film Gie. Seingat saya lebih dari 3 kali. Keberadaan film itu di youtube memungkinkan saya berkali-kali menonton film Gie.

Sebagian tulisan-tulisan Gie menjadi inspirasi dari artikel-artikel yang saya tulis, baik di blog maupun di kolom opini media massa. Tulisan Gie menjadi hidup karena ada persoalan manusia yang diangkat dalam tulisannya. Itu yang menjadi salah satu inspirasi saya ketika menulis, mengangkat persoalan manusia.

Bahkan, tidak jarang kutipan-kutipan kata-kata Gie, saya tulis ulang menjadi status di akun media sosial untuk menanggapi kondisi sosial politik saat ini. Misalnya, saat berlarut-larutnya penanganan kasus semburan lumpur panas di Sidoarjo, sementara di sisi lain para elite politik justru bermesraan dengan pihak yang dikaitkan dengan bencana ekologi itu, saya pun menulis status, " Politik Tai Kucing".

Begitu pula saat sebagian besar aktivis non-pemerintah berbondong-bondong masuk gerbang kekuasaan setelah Jokowi menjadi Presiden Indonesia ke-7, sementara di sisi lain praktik-praktik penindasan terus direproduksi.Saya pun menuliskan status di akun media sosial saya, "Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kumunafikan."

Itulah Gie. Nama yang menjadi salah satu inspirasi dalam kehidupan saya.

Bagikan Artikel Ini

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua