Mental Tempe, Katanya - Analisis - www.indonesiana.id
x

Imam Soedardji

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Mental Tempe, Katanya

    Mau mengkritik tetapi tidak mau ambil bagian dalam sebuah perubahan, sebuah ironi sebuah bangsa yang selalu bangga akan dirinya.

    Dibaca : 5.205 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Berbicara mental tak ubahnya tong kosong nyaring bunyinya. Berani mengkritik pedas, tetapi tidak mau terlibat di dalam sebuah gerakan perubahan. Setiap upaya untuk menjadi lebih baik selalu dianggap sebelah mata. Terlalu rumit atau terlalu nyaman di dalam sebuah zona yang sedemikian rupa?.

    Film October Sky misalnya. Mengisahkan tentang Homer, seorang anak dari manajer tambang besi yang memiliki impian untuk membuat sebuah roket. Impiannya tersebut pertama kali muncul ketika melihat roket Sputnik melintas dilangit malam. Akan tetapi, dalam mencapai impiannya, Homer ditentang oleh ayahnya yang menganggap impiannya adalah hal yang sia-sia dan menghabiskan waktunya.

    Ayah homer yang sejak muda telah bekerja sebagai penambang biji besi, menganggap tambangnya tersebut sudah memberikan banyak manfaat bagi hidupnya. Baginya tidak ada pekerjaan yang lebih penting selain menjadi penambang. Dan hal tersebut ingin diwariskan ke Homer, sebagai anak bungsunya yang tidak memiliki prestasi di sekolah pada saat itu.

    Hal tersebut juga diamini oleh anak buah ayahnya, bahkan kepala sekolahnya juga ikut mendukung Homer menjadi penambang besi. Baginya, murid-murid di sekolahnya akan memiliki nasib yang sama seperti orang tua mereka yang mayoritas berprofesi sebagai penambang.

    Dalam mewujudkan impiannya, ujian yang dihadapi oleh Homer tidaklah sedikit. Mulai dari diremehkan, lalu kekurangan dana maupun bahan untuk membuat roket, hingga ditangkap pihak berwajib, karena dianggap menyebabkan kebakaran hutan akibat percobaan roketnya yang gagal – pun pernah menghadangnya. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, Homer dan kawan-kawannya yang disebut “The Rocket Boys” berhasil mengalahkan rintangan tersebut satu-persatu dengan kerja keras dan selalu percaya akan mimpinya.

    Ditengah perjuangannya, ada seorang figur yang selalu mendukung impian Homer, yakni gurunya, Miss Riley. Sebagai seorang pendidik, Miss Riley sudah seharusnya memberikan semangat terhadap anak didiknya bukan malah mengkritiknya. Dia percaya bahwa suatu hari Homer akan pergi meninggalkan Coalwood untuk berkuliah. Dan hal itupun menjadi kenyataan, ketika Homer menang dengan roket buatannya dalam lomba karya ilmiah nasional yang mana banyak pihak universitas ternama menawarinya beasiswa.

    Film yang diangkat berdasarkan cerita nyata tersebut memiliki makna yang bukan hisapan jempol semata. Bila dipahami dengan mendalam, karakter ayah, kepala sekolah, bahkan teman-teman Homer menggambarkan orang-orang yang sudah nyaman berada di zonanya. Bagi mereka, perubahan adalah hal yang tabu. Bahkan tidak sedikit yang menghujat.

    Begitupula dengan keadaan saat ini. Seorang pembawa perubahan selalu dianggap duri dalam daging. Bagi mereka, sebuah lingkungan yang terbentuk sedemikian rupa tidak seharusnya dirubah atau bahkan diganti. Meskipun tidak lagi relevan untuk terus diterapkan. Mental tempe. Sekiranya itulah gambaran sikap sebagian orang yang sudah merasa nyaman di dalam sebuah lingkungan yang tidak sehat.

    Diselimuti oleh jamur, murah, dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat kelas bawah. Begitulah gambaran tempe, sebuah makanan otentik yang digemari oleh warga Indonesia. Bahkan Bung Karno kala itu sering kali memperingatkan warga Indonesia agar jangan menjadi bangsa yang memiliki mental tempe. Pesan tersebut mengajarkan bahwa si tempe saat itu digunakan untuk merepresentasikan segala bentuk sikap dan mental yang berkonotasi negatif.

    Pertanyannya adalah, “apakah semua orang di Indonesia bermental tempe?”. Jawabannya tentu tidak. Dalam konteks ini, membawa sebuah perubahan kearah yang lebih baik sama halnya menerjang badai di tengah samudra hanya dengan bermodalkan rakit. Butuh mental sekeras baja untuk menghadapinya. Dalam membuat sebuah perubahan, sekecil apapun yang dilakukan pasti akan memiliki dampak yang besar. Baik buruknya sebuah perubahan, pasti bertujuan untuk menutupi sebuah kekurangan yang ada. Mengkritik sangat diperbolehkan, asalkan juga memberi masukan yang bermanfaat dan bukan untuk menghujat.

    Memanggil kembali si tempe. Tidak peduli bagaimana bentuk dari sebuah tempe tersebut, bila sudah dimasak akan memiliki rasanya yang khas tergantung bumbu yang digunakan. Begitupula dengan mental, semakin sering diasah maka akan semakin kuat. Merubah mental untuk diri sendiri memang tidak mudah, banyak hal yang harus dikerjakan dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Semua hal tersebut kembali lagi ke masing-masing individu untuk memotivasi dirinya, apakah masih mau di panggil dengan sebutan bangsa bermental tempe?.

     

    Sumber gambar : http://www.huffingtonpost.com/daniel-burrus/its-time-to-change-your-o_b_3573935.html

    Ikuti tulisan menarik Imam Soedardji lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.