Bagaimana Optimalkan Potensi Pemuda Solokuro ? - Analisis - www.indonesiana.id
x

Andik Setyawan (PB)

Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Jember
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Bagaimana Optimalkan Potensi Pemuda Solokuro ?

    Tulisan ini dipersembahkan untuk seluruh rekan pemuda desa Solokuro. dibuat untuk dikritisi kemudain didiskusikan, hingga pada ahirnya nanti disepakati.

    Dibaca : 2.542 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kecenderungan pemuda Solokuro yang tidak kerasan di bumi kelahirannya adalah dikarenakan beberapa hal, salah satunya adalah karena kesulitan memperoleh penghasilan atau penggawean tetap di desa. (Penulis menggolongkan kamu pemuda desa dalam tulisan ini adalah warga Solokuro yang masih belum menikah, usia 20-30 tahunan) Tidak banyak yang bisa dikerjakan oleh para pemuda setiap harinya selain ngarit (mencari pakan ternak,red) atau sekedar ngopi. Dan aktivitas itu tidak instan mendatangkan penghasilan bagi mereka. Butuh rentang waktu tertentu hingga ternak laku dan dapat di serei (tabung,red) oleh para pemuda ini sebagian dari sisa untuk kembali lagi dibelikan ternak. Menjadi buruh panen memang menjadi sumber penghasilan yang lumayan, upah untuk setengah hari kerja bisa mencapai 50.000 rupiah ditambah dengan fasilitas rokok dan konsumsi 2 kali. Namun pekerjaan itu tidak selalu ada, hanya tersedia pada saat musim panen. Diluar itu pemuda mengandalkan penghasilannya dari pekerjaan-pekerjaan serabutan lain seperti ngecor, dan itupun terbatas hanya beberapa pemuda saja yang punya kesempatan. Selain mengandalkan mburuh dari kegiatan panen dan ngecor, kegiatan usaha dikalangan pemuda desa masih sangat minim dan berskala mikro, belum ada perusahaan yang besar dan mampu menampung SDM pemuda desa dan sifatnya berkelanjutan. Menurut penulis hal tersebutlah yang membuat para pemuda akhirnya memutuskan untuk pindah domisili keluar desa, keluar kota bahkan keluar negeri sebagai warga baru karena menikah dengan penduduk luar desa maupun bekerja sebagai guru, dosen, TKI dsb. Penulis tidak bermaksud mengeneralisir kondisi ini untuk semua pemuda desa Solokuro, namun realitas yang terjadi dilapangan adalah seperti itu.

         Permasalahan juga dialami oleh para pemuda sarjana yang telah menyelesaikan proses pendidikannya diluar kota, dimana mayoritas dari mereka adalah memutuskan untuk tidak kembali ke desa mengingat kondisi sebagaimana penulis utarakan diatas. Keputusan untuk bekerja atau menetap di kota lain sebenarnya adalah solusi yang paling mungkin dilakukan untuk bisa mendapatkan masa depan yang lebih baik. Bukan tanpa alasan, karena di kota peluang mendapatkan pekerjaan bagaimanapun lebih tersedia dibandingkan dengan didesa, meskipun isu terbaru menyatakan bahwa pekerjaan dikota semakin sulit. Di desa barangkali juga menyajikan lapangan pekerjaan, namun terbatas dan cenderung dirasa kurang prestisius untuk memenuhi kehidupan modern para pemuda ini. Inisiasi para sarjana ini untuk mengimplementasikan ilmunya dalam bentuk usaha seringkali juga terkendala modal, kurangnya pengalaman dan ketakutan terkait dengan bunga menjadikan para sarjana ini enggan meminjam modal di Bank. Potensi yang paling mungkin adalah dari kawan, pakde, paklek yang bekerja di Malaysia yang memang pada umumnya bisa digolongan sukses dalam hal materiil, namun sekali lagi komunikasi dan menurut penulis kurangnya kesadaran dan keberanian untuk meminjam modal atau keberjasama di antara sarjana dan pemuda malaysiaan ini belum pernah terbangun.

           Kondisi ini akan terus terjadi apabila para pemuda baik sarjana, maupun yang bukan sarjana tidak mengusahakan perubahan terhadap kondisi yang ada. Penulis coba kaitkan dengan salah satu dalil di Al-Qur’an Surah Ar-Ra’d ayat 11 yang artinya “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ”. Penulis bukan mau menafsirkan ayat tersebut menurut pandangan pribadi, namun secara awam bisa ditangkap bahwa tuhanpun tidak mau merubah kondisi, merubah nasib satu kaum kalau kaum itu sendiri tidak ada upaya untuk mengubahnya.

                Berdasarkan kegelisahan penulis yang juga bagian dari pemuda Solokuro, mencoba untuk menggagas satu solusi untuk membuat lebih baik kondisi tersebut. Sebelum ke solusi, penulis perlu menerangkan bahwa esensi sebenarnya dari pada usaha merubah kondisi ini adalah bukan untuk mendomilisasi para pemuda solokuro untuk kembali ke desa, namun lebih ke optimalisasi potensi pemuda desa dengan tujuan mensejahterakan masyarakat Solokuro. Mungkin abstrak disimak, namun goalnya memang kesana.

            Solusi kongkrit yang penulis tawarkan adalah sinergitas antar semua pemuda melalui jalan membuat, atau menghidupkan kembali satu wadah yang bisa menampung semua pemuda Solokuro ini untuk berunding, untuk bermusyawarah. Organisasi semacam Karang Taruna bisa menjadi pilihan, mengingat statusnya yang independen, dalam artian bukan underbow daripada organisasi lainnya. Jadi memungkinkan untuk bisa diterima semua pemuda Solokuro dari berbagai macam latar belakang ormas, latar belakang partai, penggawean dsb. Pemuda malaysiaan, pemuda ngaritan, pemuda kuliahan, pemuda ngorkesan dsb untuk bisa duduk bersama berdiskusi. Langkah selanjutnya adalah menyamakan persepsi tentang kondisi yang ada, semisal menurut penulis adalah sebagaimana di utarakan diawal belum tentu semua pemuda sepakat. Maka perlu adanya kesepakatan dan kesefahaman terkait dengan hal tersebut, untuk selanjutnya bisa menentukan tujuan dan program kerja.

               Menurut penulis hal kongkrit yang bisa dikerjakan oleh aliansi pemuda ini adalah bekerjasama untuk mencetuskan satu usaha bersama, sebut saja satu perusahaan pergudangan palawija. Itu Cuma sebagai contoh saja !, penulis yakin dengan semakin beragamnya disiplin ilmu yang diambil oleh para pemuda kuliahan solokuro, maka akan semakin banyak referensi usaha/kegiatan menghasilkan yang bisa dikerjakan. Kemampuan pengetahuan daripada pemuda kuliahan ini bisa dipraktikan dengan sokongan dana pemuda malaysiaan dan bisa di gerakkan oleh para pemuda ngaritan. Bukan kemudian mengkultuskan pemuda ngaritan hanya bertugas sebagai pelaku pekerja lapangan, namun hal ini lebih kepada penyesuaian. Tidak menutup kemungkinan juga posisi2 di manajerial ini dikerjakan oleh pemuda ngaritan, berbekal pengalaman langsung yang telah diperoleh, atau pemuda malaysiaan yang sudah malang melintang didunia kerja, prinsip daripada hal ini adalah GOTONG ROYONG, siapapun yang punya kapasitas dan kemampuan, harus dipersilahakn. Perpaduan antara pemuda yang berbeda penggawean dan kapasitas ini menurut penulis akan menjadi satu perubahan besar di tataran desa khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya jika dikerjakan dengan prinsip saling percaya dan konsisten. Tentu saja kerjasama mbah, pak.e, ma’e, aparatur desa dan semua elemen desa juga diperlukan dalam usaha penciptaan lapangan pekerjaan ini.  Dengan demikian potensi pengetahuan para sarjana ini nantinya tidak hanya termanfaatkan oleh masyarakat ditempat lainnya saja seperti yang sudah terjadi saat ini, potensi modal daripada pekerja luar negeri ini tidak mandek di bank atau berwujud sepeda motor saja yang nongkrong diplataran rumah tetapi mampu dikelola menjadi satu hal yang menghasilkan dan bisa dinikmati bersama. Sehingga penulis berharap dimasa depan pemuda Solokuro tidak perlu lagi merantau untuk bekerja, tetapi bisa mengelola perusahaan kakak-kakaknya yang telah berjalan, sarjana tidak enggan lagi untuk menetap di desa dan mengembangkan usaha pendahulunya (Andik PB).

    Ikuti tulisan menarik Andik Setyawan (PB) lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.